EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat pendidikan antikorupsi sebagai fondasi pembentukan karakter murid dan budaya sekolah berintegritas. Selain itu, kementerian menegaskan pentingnya lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian tumbuh dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
Berdasarkan sumber rilis Kemendikdasmen Nomor 643/sipers/A6/VII/2026, penguatan tersebut disampaikan dalam kegiatan Internalisasi Pendidikan Antikorupsi dan Implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang digelar Inspektorat Jenderal bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen di Tangerang Selatan, Selasa (29/7/2026).
Pendidikan Tidak Hanya Mengajarkan Ilmu
Penasehat DWP Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, menilai Indonesia sedang memasuki momentum penting menuju negara maju, berdaya saing, dan berkeadilan. Karena itu, pendidikan harus menghasilkan sumber daya manusia yang berkarakter kuat dan berintegritas.
“Sektor pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, kepedulian, keberanian, kesederhanaan, dan sikap saling menghargai kepada generasi bangsa,” ujar Masmidah.
Menurutnya, sekolah perlu memberi ruang yang cukup bagi murid untuk mengembangkan karakter positif melalui pengalaman belajar yang nyata.
Keluarga Menjadi Pondasi Integritas
Selanjutnya, Masmidah menekankan bahwa keluarga merupakan sekolah pertama bagi setiap anak. Di rumah, anak mulai mengenal kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan penghormatan terhadap nilai moral melalui teladan orang tua.
Karena itu, peran ibu sangat strategis dalam membangun budaya integritas. Ketika orang tua membiasakan hidup jujur, sederhana, dan disiplin, mereka ikut memperkuat fondasi bangsa yang bebas dari praktik korupsi.
Sekolah Aman Mendukung Karakter Positif
Di samping keluarga, sekolah juga memegang peran besar dalam membentuk karakter murid. Masmidah menjelaskan bahwa pendidikan antikorupsi harus berjalan seiring dengan pembangunan budaya sekolah yang aman dan nyaman.
Ia menilai lingkungan belajar yang aman akan membantu murid tumbuh lebih percaya diri, berani, menghargai keberagaman, dan mampu membangun perilaku positif.
Kemendikdasmen Tekankan Integritas Sejak Dini
Sementara itu, Inspektur Jenderal Kemendikdasmen, Faisal Syahrul, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat penanaman nilai integritas sekaligus meningkatkan pemahaman warga sekolah mengenai pentingnya lingkungan belajar yang aman dan bebas dari kekerasan.
“Pendidikan tidak hanya meningkatkan kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter, moralitas, dan integritas murid,” kata Faisal.
Ia menegaskan bahwa sekolah perlu menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, dan kepedulian sejak dini sebagai bagian dari pencegahan korupsi.
Integritas Harus Menjadi Kebiasaan Sehari-hari
Lebih lanjut, Faisal menilai penguatan budaya antikorupsi tidak cukup dilakukan melalui materi pembelajaran semata. Sebaliknya, sekolah perlu membiasakan perilaku jujur dan bertanggung jawab dalam aktivitas sehari-hari agar nilai integritas benar-benar menjadi budaya.
Selain itu, sekolah juga harus mencegah berbagai bentuk kekerasan melalui pengelolaan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Butuh Kolaborasi Seluruh Ekosistem Pendidikan
Kemendikdasmen menilai keberhasilan membangun sekolah berintegritas tidak dapat dicapai oleh sekolah sendirian. Oleh sebab itu, kementerian mengajak keluarga, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, media massa, dan masyarakat luas untuk terlibat aktif.
“Kami berharap seluruh warga sekolah semakin memahami pentingnya integritas dan mampu menerapkan budaya sekolah aman dan nyaman secara berkelanjutan,” ujar Faisal.
Menurutnya, kolaborasi tersebut akan membantu sekolah menjadi ruang yang kondusif bagi tumbuh kembang murid sekaligus melahirkan generasi berkarakter dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
Libatkan Ribuan Peserta dan Narasumber KPK
Kemendikdasmen menyelenggarakan kegiatan ini secara hibrida. Panitia melibatkan sekitar 1.000 peserta daring dan 150 peserta luring yang terdiri atas kepala sekolah, guru, pengurus DWP Kemendikdasmen, serta perwakilan pegawai UPT Kemendikdasmen di Jawa Barat dan Banten.
Untuk memperkaya perspektif, panitia menghadirkan narasumber dari Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pusat Penguatan Karakter, dan psikolog yang membahas strategi pencegahan kekerasan di satuan pendidikan.
Melalui kegiatan ini, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya membangun pendidikan yang berintegritas, aman, nyaman, dan berkarakter sebagai bagian dari upaya mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.



