EDUCARE.CO.ID – Delapan hari setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Pulau Flores, masyarakat terdampak di wilayah Keuskupan Labuan Bajo masih menghadapi situasi sulit. Sejumlah keluarga belum berani kembali ke rumah dan memilih bertahan di tenda karena khawatir terhadap gempa susulan.
Di tengah kondisi tersebut, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus, Pr. datang langsung menemui umat terdampak di Paroki St. Klaus Werang, Sabtu (22/8/2026). Ia didampingi Romo Martin Wiliam, Pr., Ekonom Keuskupan, serta Romo Ignasius Haryanto, Pr., perwakilan Caritas Keuskupan Labuan Bajo.
Rombongan Uskup diterima Pastor Paroki St. Klaus Werang, Romo Servulus Juanda, Pr. Selain menyapa umat, kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi Uskup untuk melihat kondisi masyarakat dari dekat, mendengarkan kebutuhan mereka, sekaligus memberikan penguatan.
Berdasarkan sumber rilis Keuskupan Labuan Bajo dan Caritas Keuskupan Labuan Bajo, kunjungan ini menjadi bagian dari respons Gereja terhadap masyarakat yang terdampak gempa di berbagai wilayah keuskupan.

Gempa Masih Meninggalkan Rasa Takut
Gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 tidak hanya merusak rumah dan fasilitas masyarakat. Getaran kuat juga meninggalkan rasa takut bagi banyak keluarga.
Sebagian warga masih memilih tidur di tenda sekitar rumah. Mereka belum merasa cukup aman untuk kembali beraktivitas seperti biasa karena gempa susulan masih menjadi kekhawatiran.
Aktivitas pendidikan dan pekerjaan pun belum sepenuhnya pulih. Sejumlah sekolah belum menjalankan kegiatan belajar secara normal, sementara sebagian siswa masih mengikuti pembelajaran dari rumah.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat mulai membangun kembali kehidupan dengan mengandalkan dukungan keluarga, komunitas, pemerintah, serta berbagai pihak yang datang memberikan bantuan.
Ribuan Rumah dan Puluhan Fasilitas Ibadah Terdampak
Dampak gempa juga terasa di hampir seluruh wilayah paroki dalam Keuskupan Labuan Bajo. Kevikepan Pacar dan sebagian wilayah Kevikepan Wae Nakeng termasuk daerah yang mengalami kerusakan cukup besar.
Data sementara Tim Caritas Keuskupan Labuan Bajo hingga Kamis (21/8/2026) mencatat 2.174 rumah terdampak. Rinciannya terdiri atas:
- 1.435 rumah rusak berat;
- 420 rumah rusak sedang;
- 319 rumah rusak ringan.
Selain rumah warga, sebanyak 14 gereja juga mengalami kerusakan. Tujuh gereja mengalami kerusakan berat, lima mengalami kerusakan sedang, dan dua lainnya mengalami kerusakan ringan.
Bencana tersebut juga menyebabkan 7.420 jiwa mengungsi, dua orang meninggal dunia, serta empat orang mengalami luka berat.
Angka tersebut menggambarkan luasnya dampak gempa. Di balik setiap rumah yang rusak, ada keluarga yang harus menata ulang kehidupannya. Di balik setiap tenda pengungsian, ada anak-anak dan orang lanjut usia yang membutuhkan rasa aman.
Caritas dan Paroki Bergerak Bersama
Caritas Keuskupan Labuan Bajo bersama paroki-paroki terus menjalankan respons tanggap darurat. Dalam sepekan terakhir, hampir seluruh paroki terdampak telah menerima kunjungan dan bantuan.
Caritas juga berkoordinasi dengan paroki untuk mengumpulkan data umat terdampak dan kebutuhan yang mereka perlukan.
Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo, Romo Yuvens Rugi, mengatakan respons bencana membutuhkan kerja sama berbagai pihak.
“Aksi tanggap darurat dilakukan dalam kolaborasi dengan paroki. Caritas keuskupan menyediakan bantuan tanggap darurat dan paroki menambahnya.”
Menurut Romo Yuvens, pola kerja tersebut mendorong munculnya gerakan solidaritas dari umat. Paroki bergerak, pastor mendampingi, relawan turun ke lapangan, sementara masyarakat turut membantu sesama yang terdampak.
Dengan cara itu, bantuan tidak hanya bergerak dari lembaga kepada penerima. Umat juga mengambil peran sebagai bagian dari gerakan kemanusiaan di tengah bencana.
Anak, Lansia, dan Difabel Jadi Perhatian
Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus mengingatkan agar respons bencana tidak hanya berfokus pada kebutuhan umum. Kelompok rentan juga membutuhkan perhatian khusus.
Anak-anak, penyandang disabilitas, dan lansia menghadapi tantangan berbeda selama berada dalam situasi darurat. Karena itu, kebutuhan mereka perlu masuk dalam prioritas bantuan.
“Kita harus membantu keluarga-keluarga yang paling terdampak dengan menyediakan kebutuhan-kebutuhan dasar yang mereka perlukan, terutama peralatan tenda untuk bernaung, sembako, dan obat-obatan.”
Mgr. Maksimus juga menyoroti kebutuhan pendampingan psikologis bagi anak-anak yang mengalami trauma akibat gempa.
Menurutnya, respons bencana perlu melihat manusia secara utuh. Bantuan pangan dan tempat berlindung memang penting. Namun, rasa aman dan pendampingan juga menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting.
Uskup Bawa Bantuan dan Dengarkan Keluhan Umat
Dalam kunjungannya, Mgr. Maksimus Regus menemui umat terdampak di wilayah Teong Toda serta SMP-SMA St. Klaus Werang, Paroki St. Klaus Werang.
Ia datang bersama rombongan dengan membawa sembako dan perlengkapan tidur. Namun, kunjungan tersebut tidak berhenti pada penyerahan bantuan.
Uskup juga mendengarkan cerita masyarakat dan melihat langsung kondisi keluarga yang masih berjuang memulihkan kehidupan.
“Kita mesti melewati situasi gempa ini dalam kebersamaan sebagai keluarga, umat, dan Gereja,” ujar Mgr. Maksimus.
Pesan tersebut menegaskan bahwa Gereja ingin berjalan bersama masyarakat selama proses pemulihan.
Gempa Guncang Flores, Solidaritas Justru Menguat
Menurut Mgr. Maksimus, situasi sulit dapat menjadi ruang untuk memperkuat kepedulian dan solidaritas antarumat.
“Situasi sulit ini menghidupkan kasih dan menggerakkan solidaritas di antara kita. Kita percaya Tuhan tidak meninggalkan kita.”
Semangat tersebut terlihat dari gerakan bantuan yang terus berlangsung. Dari satu paroki ke paroki lainnya, umat saling menopang dan membantu keluarga yang terdampak.
Para pastor juga terus mendampingi umat. Sementara itu, Caritas menghubungkan berbagai kebutuhan di lapangan dengan dukungan yang tersedia.
Gereja Hadir di Tengah Masa Pemulihan
Bencana memang meninggalkan pekerjaan besar. Rumah warga membutuhkan perbaikan, fasilitas ibadah perlu dipulihkan, sementara aktivitas pendidikan dan ekonomi masyarakat harus kembali berjalan.
Namun, proses pemulihan tidak harus berlangsung seorang diri.
Kehadiran Mgr. Maksimus Regus bersama Caritas, para pastor, relawan, dan umat menunjukkan komitmen Gereja untuk tetap berada di tengah masyarakat, terutama ketika mereka menghadapi masa sulit.
Kunjungan ke Paroki Werang pun membawa pesan sederhana: bantuan memang penting, tetapi kehadiran dan kepedulian juga menjadi kekuatan bagi korban bencana.
Melalui semangat Gereja yang sinodal, solid, dan solider, masyarakat di wilayah Keuskupan Labuan Bajo diharapkan dapat melewati masa pemulihan secara bersama-sama.
Gempa mungkin merusak bangunan dan mengguncang rasa aman. Namun, solidaritas masyarakat tetap dapat menjadi fondasi untuk membangun kembali kehidupan.


