EDUCARE.CO.ID – Ilmu perikanan tidak berhenti di ruang kelas atau laboratorium. Pengetahuan tersebut juga dapat menjadi bekal untuk mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan.
Hal itu tercermin dari kiprah Jacob da Costa Pereira, alumni Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR). Setelah menyelesaikan pendidikan, Jacob melanjutkan pengabdiannya sebagai dosen sekaligus terlibat dalam pengelolaan sumber daya laut di Timor-Leste.
Jacob merupakan lulusan Program Studi Bioteknologi Perikanan dan Kelautan FPK UNAIR angkatan 2023. Kini, ia mengajar di Fakultas Pertanian, Departemen Perikanan Akuakultur, Universidade Oriental Timor-Lorosa’e (UNITAL), Timor-Leste.
Di luar aktivitas akademik, Jacob juga menjadi bagian dari tim Marine Spatial Planning (MSP) Lesser Sunda Seascape (LSS). Program kolaborasi Indonesia dan Timor-Leste tersebut berfokus pada perencanaan ruang laut serta pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan.
Dari Kelas Langsung ke Lapangan
Sebagai dosen, Jacob mengampu mata kuliah Engineering Akuakultur serta Hama dan Penyakit Ikan.
Ia menggabungkan pembelajaran teori dengan praktik lapangan. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa dapat melihat langsung persoalan yang muncul dalam sektor perikanan.
Pada mata kuliah Engineering Akuakultur, mahasiswa mempelajari berbagai sistem budidaya melalui kegiatan lapangan.
Sementara itu, mata kuliah Hama dan Penyakit Ikan mengajak mahasiswa melakukan identifikasi penyakit. Mereka mengambil sampel dan membawanya ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Mahasiswa kemudian menggunakan mikroskop untuk menganalisis hasil pengamatan.
Cara belajar seperti ini membantu mahasiswa memahami hubungan antara teori dan kondisi nyata di lapangan. Mereka juga dapat mengenali persoalan yang mungkin muncul ketika memasuki dunia kerja.
Jacob Dorong Mahasiswa Tidak Sekadar Hafal Teori
Bagi Jacob, pengalaman langsung memiliki peran penting dalam pendidikan perikanan.
Mahasiswa perlu memahami proses munculnya sebuah masalah. Setelah itu, mereka harus mampu menganalisis penyebab dan mencari solusi berdasarkan data.
Karena itu, Jacob mendorong mahasiswa mendokumentasikan hasil pengamatan melalui laporan ilmiah. Mereka juga mempresentasikan hasilnya dalam forum akademik dan mendiskusikannya bersama.
Proses tersebut sekaligus melatih kemampuan analisis, komunikasi, serta kerja sama.
“Ilmu perikanan tidak cukup dipelajari dari buku. Mahasiswa harus melihat, mengalami, dan memecahkan masalah secara langsung agar siap berkontribusi bagi pembangunan sektor perikanan di masa depan,” ungkap Jacob.
Pendekatan tersebut juga membantu mahasiswa melihat hubungan antara ilmu yang mereka pelajari dengan kebutuhan sektor perikanan.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menerima informasi. Mereka juga belajar mengolah temuan menjadi pengetahuan dan solusi.
Terlibat dalam Pengelolaan Laut Lintas Negara
Jacob kemudian memperluas kiprahnya melalui keterlibatan dalam program Marine Spatial Planning (MSP) Lesser Sunda Seascape (LSS).
Program tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan ruang laut di kawasan Lesser Sunda. Fokusnya mencakup tata kelola ruang laut, konservasi, serta pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan.
Keterlibatan Jacob memberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan perikanan dalam persoalan yang lebih luas.
Ia turut melihat hubungan antara aktivitas manusia, kondisi sumber daya laut, dan keberlanjutan wilayah pesisir.
Pengalaman itu sekaligus menunjukkan luasnya ruang kerja bagi lulusan bidang perikanan dan kelautan.
Selain sektor produksi dan akademik, lulusan juga dapat berkontribusi dalam perencanaan serta pengelolaan sumber daya laut.
Dorong Generasi Muda Berani Turun ke Lapangan
Dari pengalaman sebagai dosen dan anggota program pengelolaan sumber daya laut, Jacob melihat pentingnya keterampilan praktis bagi generasi muda.
Ia mendorong mahasiswa untuk memperbanyak pengalaman lapangan. Selain itu, mahasiswa perlu terus mengembangkan keterampilan dan mengikuti perkembangan teknologi serta inovasi di bidang perikanan.
“Semangat belajar, kerja keras, dan keterbukaan terhadap inovasi merupakan kunci untuk mendorong kemajuan sektor perikanan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Jacob, pengalaman tersebut dapat membantu mahasiswa memahami kebutuhan sektor perikanan secara lebih nyata.
Pembelajaran pun tidak hanya berorientasi pada nilai akademik. Mahasiswa juga perlu membangun kemampuan untuk menghadapi persoalan di dunia nyata.
Alumni UNAIR Berkiprah di Tingkat Internasional
Berdasarkan rilis Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR), perjalanan Jacob menunjukkan bagaimana alumni dapat membawa ilmu dari bangku kuliah ke lingkungan profesional yang lebih luas.
Pengalaman di UNAIR menjadi bagian dari perjalanan Jacob dalam menjalankan aktivitas akademik di Timor-Leste.
Di sana, ia mengembangkan pembelajaran berbasis praktik sekaligus terlibat dalam isu pengelolaan sumber daya laut lintas negara.
Kiprah tersebut memperlihatkan bahwa bidang perikanan dan kelautan memiliki ruang kontribusi yang luas. Pendidikan, penelitian, akuakultur, konservasi, hingga perencanaan ruang laut dapat menjadi bagian dari perjalanan profesional lulusannya.
Dari ruang kelas dan laboratorium hingga pengelolaan wilayah laut, Jacob membawa pengetahuan perikanan untuk menjawab kebutuhan di lapangan.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa pendidikan tinggi dapat membuka peluang bagi lulusan untuk berkontribusi hingga tingkat internasional.

