20 SLB Kini Punya LSP-P1, Cara Kemendikdasmen Buktikan Kompetensi Siswa Disabilitas

Must read

EDUCARE.CO.ID – Lulusan sekolah luar biasa (SLB) masih menghadapi tantangan ketika memasuki dunia kerja. Selain akses pekerjaan, mereka juga harus menghadapi stigma masyarakat yang meragukan kemampuan penyandang disabilitas.

Pandangan tersebut membuat sebagian perusahaan masih menganggap pekerja nondisabilitas lebih kompeten dan produktif. Padahal, penyandang disabilitas memiliki kemampuan serta keunggulan yang dapat mendukung pekerjaan.

Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Saryadi menyoroti persoalan tersebut dalam Webinar Alfability: Equal Opportunity at Work bertajuk “Membangun Kesempatan yang Setara bagi Semua”, Jumat (11/9/2026).

Stigma Masih Menghambat Kesempatan Kerja

Saryadi mengatakan pemahaman masyarakat mengenai disabilitas masih perlu diperkuat. Salah satu persoalan yang muncul berkaitan dengan kemampuan dan kapasitas penyandang disabilitas.

“Pemahaman publik terkait dengan disabilitas itu masih kurang, terutama terkait dengan kapasitas yang dimiliki anak-anak disabilitas,” kata Saryadi.

Menurutnya, sebagian masyarakat dan perusahaan masih membandingkan produktivitas pekerja disabilitas dengan pekerja nondisabilitas.

Padahal, setiap penyandang disabilitas memiliki kemampuan yang dapat berkembang sesuai bakat, minat, dan dukungan lingkungan kerja.

“Padahal anak-anak penyandang disabilitas juga punya kelebihan dan memiliki kemampuan bekerja yang tidak kalah dibandingkan anak-anak yang nondisabilitas,” tambah Saryadi.

Karena itu, perusahaan perlu melihat kompetensi calon pekerja berdasarkan kemampuan dan kebutuhan pekerjaan. Pendekatan tersebut dapat membuka kesempatan kerja yang lebih setara.

Industri Mulai Buka Rekrutmen Inklusif

Berdasarkan sumber rilis Ditjen Dikmen Diksus Kemendikdasmen, sejumlah pelaku industri mulai membuka ruang kerja bagi penyandang disabilitas.

Saryadi mengapresiasi langkah tersebut. Ia juga berharap semakin banyak perusahaan mengikuti praktik serupa.

Menurutnya, komitmen industri menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan kerja yang memberi kesempatan kepada semua orang.

Salah satu perusahaan yang menjalankan inisiatif tersebut adalah Alfa Group.

SLB Siapkan Siswa Lewat Pembelajaran Vokasional

Sekolah juga memiliki peran penting dalam mempersiapkan lulusan disabilitas menuju dunia kerja.

Saryadi menjelaskan bahwa SLB terus membekali peserta didik dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan mereka. Sekolah mengembangkan kurikulum yang memberi perhatian lebih besar pada pembelajaran vokasional.

Pendekatan tersebut kemudian diperkuat melalui pembelajaran mendalam. Siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sesuai bakat dan minat masing-masing.

Dengan bekal tersebut, lulusan SLB memiliki keterampilan yang dapat mereka gunakan ketika memasuki dunia kerja.

20 SLB Sudah Punya LSP-P1

Selain pembelajaran vokasional, SLB juga mulai memperkuat pengakuan terhadap kompetensi siswa melalui sertifikasi.

Saat ini, sedikitnya 20 SLB telah membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1).

Lembaga tersebut menyelenggarakan sertifikasi untuk 10 bidang keterampilan.

Bidang yang tersedia antara lain:

  • teknologi informasi dan komunikasi (TIK),
  • tata busana,
  • desain grafis,
  • cetak,
  • dan sablon.

Sertifikasi membantu mengukur kemampuan peserta didik berdasarkan standar kompetensi kerja khusus bagi penyandang disabilitas.

“Sertifikasi ini membekali peserta didik berkebutuhan khusus dengan keterampilan sesuai dengan bakat dan minat dengan mengacu pada standar kompetensi kerja khusus penyandang disabilitas,” ujar Saryadi.

Menurutnya, sertifikasi juga berfungsi sebagai bentuk penjaminan mutu. Dokumen tersebut menunjukkan hasil pengukuran kompetensi peserta didik.

Alfa Group Petakan Kebutuhan Pekerja

Di sisi industri, Alfa Group menerapkan pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan pekerja dengan jenis pekerjaan.

Direktur Human Capital Alfa Group Tri Wasono Sunu mengatakan perusahaan melakukan pemetaan sebelum merekrut pekerja disabilitas.

Pemetaan mencakup ragam disabilitas dan lokasi kerja yang sesuai dengan kebutuhan calon pekerja.

“Jadi, misalnya kalau yang tunadaksa itu lebih cocok apakah di office atau di warehouse, sementara untuk yang tunarungu misalnya di toko,” kata Sunu.

Pendekatan tersebut membantu perusahaan menempatkan pekerja sesuai kemampuan dan kondisi lingkungan kerja.

Rekrutmen Libatkan SLB dan Dinas Tenaga Kerja

Alfa Group juga bekerja sama dengan SLB untuk mencari calon pekerja disabilitas. Perusahaan dapat berkoordinasi langsung dengan sekolah.

Selain itu, Alfa Group juga berkoordinasi dengan dinas tenaga kerja setempat dalam proses rekrutmen.

Meski membuka kesempatan bagi pekerja disabilitas, Sunu menegaskan bahwa perusahaan tetap menerapkan standar persyaratan kerja yang berlaku di Alfa Group.

“Untuk standar persyaratan kerja tetap mengacu pada standar Alfa Group,” tambah Sunu.

Cara tersebut menunjukkan bahwa rekrutmen inklusif tetap dapat berjalan dengan standar kerja yang jelas.

Lebih dari 1.500 Pekerja Disabilitas di Alfa Group

Komitmen tersebut terlihat dari jumlah pekerja disabilitas yang telah bergabung dengan Alfa Group.

Saat ini, perusahaan mempekerjakan lebih dari 1.500 pekerja disabilitas di berbagai area kerja.

Mereka bekerja di sejumlah gerai, warehouse, dan kantor, baik kantor pusat maupun cabang.

Data tersebut menunjukkan bahwa kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas dapat berkembang ketika perusahaan membuka akses sekaligus menyiapkan lingkungan kerja yang sesuai.

Sertifikasi dan Kesempatan Setara Harus Berjalan Bersama

Persiapan lulusan SLB menuju dunia kerja membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Sekolah perlu membangun keterampilan dan memberikan pengakuan kompetensi. Industri perlu membuka kesempatan kerja dan menempatkan pekerja sesuai kemampuan.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas.

Sertifikasi kompetensi dapat membantu perusahaan melihat kemampuan calon pekerja secara lebih objektif. Namun, pengakuan tersebut perlu berjalan bersama kesempatan kerja yang nyata.

Pada akhirnya, kesetaraan di dunia kerja tidak hanya berbicara tentang membuka lowongan. Perusahaan juga perlu memberi ruang agar pekerja disabilitas dapat menunjukkan kompetensi dan berkembang dalam lingkungan kerja yang sesuai.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article