EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Glucowrap, sandal pintar untuk membantu memantau perubahan kondisi kaki pada penderita Diabetes Melitus (DM) tipe 2 dengan gangguan saraf.
Tim mengembangkan inovasi tersebut melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC). Glucowrap membantu pengguna mengenali kondisi kaki yang berisiko mengalami komplikasi sejak lebih awal.
Tim juga telah menguji kelayakan dan keamanan Glucowrap pada pasien DM tipe 2 di Klinik Korpagama, Yogyakarta.
Glucowrap Pantau Tekanan, Suhu, dan Kelembapan
Glucowrap memiliki desain seperti sandal terbuka. Sejumlah sensor bekerja memantau kondisi kaki ketika pengguna mengenakan perangkat tersebut.
Sensor Glucowrap mengukur tiga indikator utama. Ketiganya meliputi tekanan, suhu, dan kelembapan kaki.
Selanjutnya, sistem mengolah data dari sensor tersebut. Sistem kemudian mengelompokkan kondisi kaki ke dalam tiga kategori.
Kategori itu terdiri dari normal, risiko ringan, dan risiko tinggi.
Pengguna dapat melihat hasil pemantauan secara langsung melalui aplikasi pada ponsel. Informasi tersebut membantu pengguna mengenali perubahan kondisi kaki yang perlu mendapat perhatian.
Tim Glucowrap terdiri dari lima mahasiswa dari berbagai bidang ilmu. Rina Putri Cahyati dari Ilmu Keperawatan memimpin tim tersebut.
Ia bekerja bersama Hanif Abinawa dari Elektronika dan Instrumentasi, Mohammad Latif Ananda dari Teknologi Rekayasa Elektro, Dhimas Early Oceandy dari Ilmu Komputer, dan Ulfan Syarif dari Kehutanan.
Ir. Ma’un Budiyanto, S.T., M.T., IPU mendampingi tim dalam proses pengembangan.
Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) juga mendukung pengembangan Glucowrap melalui pendanaan skema PKM-KC.
Berawal dari Risiko Luka Kaki pada Penderita Diabetes
Ketua Tim Glucowrap, Rina Putri Cahyati, menjelaskan alasan tim mengembangkan inovasi tersebut.
Menurut Rina, penyandang diabetes memiliki risiko mengalami luka kaki diabetik. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena gangguan saraf dapat mengurangi sensitivitas pada kaki.
Neuropati perifer membuat penderita sulit merasakan tekanan atau gesekan pada kaki. Perubahan kondisi kaki juga dapat luput dari perhatian.
“Neuropati perifer dapat menurunkan sensitivitas pada kaki sehingga penderita terkadang tidak menyadari adanya tekanan, gesekan, atau perubahan pada kondisi kaki. Jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi luka yang lebih serius,” ungkap Rina, Selasa (15/9).
Karena itu, tim ingin menghadirkan alat yang membantu pengguna memantau kondisi kaki secara lebih rutin.
Biotekstil Serat Bambu Tambah Kenyamanan
Tim tidak hanya memikirkan fungsi sensor. Mereka juga memperhatikan kenyamanan pengguna ketika mengenakan Glucowrap.
“Kami ingin Glucowrap tidak berhenti sebagai alat pemantau saja, tetapi juga membantu pasien mengenali kondisi kakinya lebih dini sekaligus memberikan kenyamanan melalui fitur pendukung yang ada di dalamnya,” ujar Rina.
Untuk bagian yang bersentuhan langsung dengan kulit, tim menggunakan biotekstil berbahan serat bambu.
Tim memproses serat bambu tersebut dengan kitosan. Material ini berfungsi sebagai lapisan antibakteri sekaligus membantu menjaga kondisi kaki.
Glucowrap juga memiliki fitur stimulasi thermal dan mikrovibrasi dengan intensitas rendah.
Kedua fitur tersebut menjadi bagian dari upaya tim untuk meningkatkan kenyamanan pengguna selama mengenakan perangkat.
Tim UGM Uji Glucowrap pada Pasien DM Tipe 2
Tim menjalankan pengujian Glucowrap melalui beberapa tahapan.
Pertama, pasien menjalani skrining menggunakan monofilamen Semmes-Weinstein 10 gram. Pemeriksaan tersebut membantu tim melihat tingkat sensitivitas kaki sesuai kriteria penelitian.
Setelah itu, pasien menggunakan Glucowrap dan menjalani uji berjalan selama 15 menit.
Selama uji berlangsung, sensor merekam berbagai data mengenai kondisi kaki. Tim juga menguji fitur thermal dan mikrovibrasi pada perangkat.
Usai penggunaan, tim memeriksa kondisi kulit kaki pasien. Pasien kemudian mengisi kuesioner mengenai kenyamanan dan kemudahan penggunaan Glucowrap serta aplikasinya.
Klinik Korpagama mendukung proses pengujian tersebut. Klinik menyediakan fasilitas dan membantu tim mencari pasien yang memenuhi kriteria penelitian.
Selain itu, tim mengikuti protokol penelitian yang telah mendapat kelaikan etik dari Komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan FK-KMK UGM.
Hasil Uji Jadi Dasar Penyempurnaan Prototipe
Tim akan menggunakan hasil pengujian untuk mengevaluasi dan menyempurnakan purwarupa Glucowrap.
Evaluasi mencakup beberapa aspek. Tim akan melihat desain, tingkat kenyamanan, serta kinerja sensor.
Saat ini, Glucowrap masih berada dalam tahap pengembangan dan pengujian. Tim belum menempatkan perangkat tersebut sebagai pengganti pemeriksaan atau penanganan medis.
“Glucowrap saat ini masih kami kembangkan dan belum dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis. Perangkat ini kami rancang hanya sebagai alat bantu untuk memantau kondisi kaki,” tutur Rina.
Penegasan tersebut menunjukkan fungsi utama Glucowrap sebagai alat bantu pemantauan. Pengguna tetap membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis sesuai kondisi masing-masing.
Tim UGM Ingin Glucowrap Lebih Praktis dan Terjangkau
Tim Glucowrap ingin terus mengembangkan perangkat tersebut agar lebih mudah digunakan.
Mereka menargetkan perangkat yang praktis, terjangkau, dan sesuai kebutuhan penyandang diabetes.
“Kami berharap Glucowrap bisa terus dikembangkan agar nantinya dapat menjadi perangkat yang praktis dan mudah digunakan, sekaligus membantu penyandang diabetes lebih sadar terhadap kondisi kaki dan melakukan perawatan sejak dini,” pungkas Rina.
Pengembangan Glucowrap menunjukkan bagaimana mahasiswa UGM memadukan teknologi dengan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Sensor tekanan, suhu, dan kelembapan membantu memantau kondisi kaki. Aplikasi ponsel kemudian menyajikan informasi kepada pengguna.
Di sisi lain, material serat bambu, stimulasi thermal, dan mikrovibrasi melengkapi aspek kenyamanan.
Tim masih perlu melakukan pengembangan dan pengujian lanjutan. Jika proses tersebut berjalan baik, Glucowrap dapat menjadi salah satu alat bantu pemantauan bagi penyandang DM tipe 2 dengan gangguan saraf.
Penulis: Andini Namira Saskirana


