EDUCARE.CO.ID, Padang – Sebanyak 1.333 wisudawan resmi dikukuhkan dalam Wisuda Terpusat Perdana Universitas Andalas (UNAND) yang digelar di Gedung Auditorium Kampus Limau Manis, Sabtu (14/2). Momen bersejarah ini menjadi tonggak baru dalam penyelenggaraan wisuda UNAND sekaligus refleksi atas tantangan global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.
Lulusan Masuki DUnia yang Tidak Pasti
Lulusan Masuki Dunia yang Tidak Pasti
Rektor UNAND, Efa Yonnedi, Ph.D., menegaskan bahwa para lulusan saat ini memasuki dunia yang berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Ia menyebut, tatanan global lama tengah runtuh, sementara tatanan baru belum sepenuhnya terbentuk secara jelas. “Saudara lulus dalam dunia yang sedang berada di tepi ketidakpastian yang semakin tinggi, di mana tatanan lama sedang runtuh dan tatanan baru belum sepenuhnya terbentuk jelas,” ujarnya dalam pidato wisuda.
Dua Kabut Tantangan Global
Dalam pandangannya, perjalanan lulusan UNAND ke depan akan menembus dua “kabut tebal” yang menjadi tantangan utama dunia global saat ini.
Kabut pertama adalah misinformasi dan disinformasi. Mengutip laporan World Economic Forum tahun 2026, Rektor menyebut disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar. Informasi yang tidak akurat maupun yang sengaja diputarbalikkan dinilai berpotensi menyesatkan publik dan membentuk opini keliru.
Kabut kedua adalah krisis bumi. Menurutnya, perubahan iklim ekstrem bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas struktural yang mampu menenggelamkan kota, merusak infrastruktur, hingga menghentikan aktivitas ekonomi dalam waktu singkat.
Krisis sebagai Momentum Perubahan
Meski menggambarkan tantangan yang berat, Rektor UNAND menegaskan sikap optimistis. Ia merujuk pemikiran ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz, yang memandang krisis sebagai momentum untuk menata ulang kontrak sosial.
Menurutnya, masa depan tidak ditentukan oleh ramalan semata, melainkan oleh keputusan yang diambil pada hari ini.
Empati dan Etika Tak Tergantikan Mesin
Di tengah pesatnya otomasi dan penggunaan robot, sekitar 44 persen keterampilan kerja diperkirakan akan berubah dalam lima tahun ke depan. Namun, Rektor menekankan bahwa empati, penilaian etis, dan pengawasan moral tetap menjadi peran manusia yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
Tiga Pesan untuk Wisudawan UNAND
Dalam pidatonya, Rektor UNAND menyampaikan tiga pesan utama kepada para wisudawan:
-
Menjaga ketajaman berpikir kritis dan analitis,
-
Terus belajar melalui meta learning agar adaptif terhadap perubahan,
-
Berkontribusi pada pembangunan inklusif dan berkelanjutan tanpa merusak lingkungan.
Lulusan UNAND Harus Jadi Pengarah Perubahan
Menutup pidatonya, Rektor mengajak para lulusan untuk tidak sekadar menjadi penumpang perubahan, melainkan pengarah di tengah arus global yang penuh tantangan. “Jangan takut pada badai, karena saudara adalah lulusan UNAND yang tangguh. Selamat berlayar, selamat berkarya, dan jadilah navigator yang membawa Indonesia menuju pelabuhan kemakmuran yang berkeadilan,” tutupnya.




