Wamendikdasmen: Pembelajaran Mendalam Jadi Kunci Siapkan Generasi Emas 2046
educare.co.id, Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa pendekatan pembelajaran mendalam sangat penting dalam menyiapkan anak usia dini menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Dalam sambutannya saat membuka kegiatan Advokasi Kebijakan Pendekatan Pembelajaran Mendalam di Satuan PAUD di Tangerang, Banten, Senin (9/6), Atip menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.
“Dalam lanskap dunia yang terus berubah penuh ketidakpastian, kompleks, dan penuh ambiguitas saat ini pendidikan anak usia dini menjadi fondasi utama yang harus menjadi investasi negara dalam membangun masa depan bangsa untuk membentuk generasi emas Indonesia Hebat 2046,” ujar Wamen Atip, dalam siaran tertulis dikdasmen (16/6).
Menurutnya, sistem pendidikan saat ini harus bertransformasi secara menyeluruh. Pendidikan anak usia dini (PAUD), dalam hal ini, memegang peranan sentral. Transformasi tersebut tidak hanya menyangkut program dan kebijakan, tetapi juga menyentuh paradigma mendasar tentang bagaimana mendidik anak sesuai dengan perkembangan zaman.
“Riset menunjukkan bahwa 90 persen perkembangan otak terjadi pada usia 0 sampai 6 tahun. Ini adalah masa keemasan yang tidak boleh kita sia-siakan,” tegasnya.
Atip menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran mendalam bertujuan untuk menghidupkan proses belajar anak secara utuh, tidak hanya dalam aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik.
“Pembelajaran mendalam bukan sekadar mengajar, tapi menghidupkan proses belajar. Pendekatan ini menekankan pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan. Anak diajak berpikir, merasakan, dan bergerak—olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga—semua terintegrasi,” jelas Atip.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi masa depan yang tangguh, inovatif, dan siap menjadi pemecah masalah di tingkat global.
Kolaborasi sebagai Pilar Pembangunan PAUD
Lebih lanjut, Atip menyoroti peran penting Dinas Pendidikan di daerah sebagai penggerak utama dalam transformasi pendidikan, khususnya di sektor PAUD. Ia mengajak semua pihak untuk memperkuat kerja sama lintas pemangku kepentingan, termasuk Bunda PAUD, IGTKI, HIMPAUDI, Aisyiyah, dan organisasi non-pemerintah.
“Pertemuan ini bukan hanya forum berbagi informasi, tapi momen untuk menyamakan langkah. Harapan saya, hasil dari kegiatan ini bisa ditindaklanjuti secara nyata di setiap daerah,” tutupnya.
Dengan arah kebijakan yang tepat, pendekatan inovatif, dan sinergi antara pusat dan daerah, Atip optimis bahwa pendidikan anak usia dini di Indonesia dapat berkembang secara signifikan mulai dari sekarang.
Sementara itu, Direktur PAUD Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nia Nurhasanah, juga menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mengimplementasikan pendekatan pembelajaran mendalam.
“Kami menyadari bahwa perubahan ini membutuhkan kolaborasi dan komitmen bersama. Dukungan kebijakan, penguatan kapasitas pendidik, serta penyediaan sumber daya yang memadai menjadi bagian penting dari ekosistem pembelajaran yang mendalam,” pungkas Nia.
Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap pendekatan pembelajaran mendalam dapat segera diterapkan secara merata demi mendorong transformasi pendidikan anak usia dini yang lebih bermutu dan inklusif.
