EDUCARE.CO.ID – Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon membuktikan bahwa hasil penelitian kampus mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Tim Penelitian MoRA Kementerian Agama RI–LPDP Tahun 2026 berhasil memanen sekitar 1 ton cabai organik melalui program budidaya berbasis Pertanian Purba dan Smart Farming di Desa Sarwadadi, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon.
Panen yang berlangsung pada 13–14 Juni 2026 itu menunjukkan bahwa inovasi perguruan tinggi tidak hanya berhenti di ruang akademik. Sebaliknya, hasil penelitian dapat memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan petani, serta mendorong pertanian berkelanjutan.
Riset Kampus Hadir Menjawab Kebutuhan Masyarakat
Tim peneliti mengembangkan program tersebut melalui riset unggulan bertema Transformasi Ekonomi Pertanian Purba Berbasis Syariah dan Smart Farming.
Selain mengembangkan budidaya padi di lingkungan pesantren, tim peneliti juga menghadirkan model budidaya cabai organik yang mudah diikuti petani.
Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. Abdul Aziz, M.Ag., menegaskan bahwa setiap penelitian yang mendapat pendanaan negara harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Sebaliknya, kampus juga harus menghasilkan inovasi yang memberi manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat.
“Kami ingin membuktikan bahwa riset perguruan tinggi Islam tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat,” ujar Prof. Abdul Aziz di Cirebon, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, konsep Pertanian Purba tidak mengajak petani kembali ke cara lama. Sebaliknya, konsep tersebut memadukan kearifan lokal, prinsip syariah, dan teknologi sederhana berbasis data sehingga mampu menghasilkan pertanian yang sehat sekaligus produktif.
Panen Perdana Capai 1 Ton Cabai Organik
Hasil panen perdana menunjukkan produktivitas yang menggembirakan. Tim peneliti menanam sekitar 1.000 pohon cabai, lalu setiap tanaman menghasilkan rata-rata 1 kilogram cabai segar.
Alhasil, total produksi mencapai sekitar 1.000 kilogram atau setara 1 ton cabai organik.
Capaian tersebut membuktikan bahwa sistem budidaya organik mampu menghasilkan panen yang kompetitif sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Gunakan Bahan Lokal Tanpa Pupuk Kimia
Selain meningkatkan hasil panen, penelitian ini juga menekan biaya produksi melalui pemanfaatan bahan-bahan yang tersedia di sekitar petani.
Tim peneliti menyusun media tanam menggunakan batu kecil, batang pisang, jerami, pupuk kandang, tanah sawah, dan kapur dolomit. Setelah itu, mereka menyiram media tersebut dengan larutan Mikroorganisme Lokal (MoL) untuk meningkatkan kesuburan tanah secara alami.
Dengan cara tersebut, petani tidak bergantung pada pupuk kimia. Di sisi lain, mereka dapat menghasilkan cabai yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Prof. Abdul Aziz menambahkan bahwa sebagian tanaman masih memasuki masa produktif. Oleh sebab itu, tim optimistis hasil panen berikutnya akan meningkat dalam satu hingga dua minggu mendatang.
Smart Farming Manfaatkan Limbah Secara Produktif
Tim peneliti juga menerapkan konsep Smart Farming melalui pemanfaatan galon bekas dan karung sebagai media tanam. Langkah ini membantu mengurangi limbah plastik sekaligus menjaga struktur lahan pertanian.
Selanjutnya, tim mengembangkan tanaman cabai di lahan sekitar 4.000 meter persegi dengan sistem tumpang sari bersama tanaman nanas. Strategi tersebut meningkatkan efisiensi lahan sekaligus memperluas potensi hasil panen.
Sementara itu, tim menggunakan bibit cabai unggul dari Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, yang terkenal sebagai salah satu sentra produksi cabai berkualitas.
Model Pertanian Siap Dikembangkan di Berbagai Daerah
Selanjutnya, Prof. Abdul Aziz menjelaskan bahwa tim peneliti menyiapkan model pemberdayaan yang dapat membantu petani, kelompok tani, maupun pesantren di berbagai daerah.
Ia menilai masyarakat sebenarnya memiliki banyak sumber daya lokal yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Menurutnya, petani dapat memanfaatkan jerami, batang pisang, pupuk kandang, serta mikroorganisme lokal sebagai sumber kesuburan yang murah dan berkelanjutan.
“Jerami, batang pisang, pupuk kandang, hingga mikroorganisme lokal dapat diolah menjadi sumber kesuburan yang murah dan berkelanjutan. Jika diterapkan secara luas, biaya produksi petani akan turun dan keuntungan mereka meningkat,” jelasnya.
Ia juga menilai pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip Maqashid Syariah karena mendukung pelestarian lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dorong Ketahanan Pangan Nasional
Keberhasilan panen perdana ini menunjukkan bahwa inovasi pertanian mampu berkembang melalui kolaborasi antara kampus, masyarakat, dan petani.
Karena itu, tim peneliti berharap model Pertanian Purba berbasis Smart Farming dapat menjadi contoh bagi pengembangan pertanian organik di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui riset yang berdampak langsung, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus memperkuat komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan, ekonomi hijau, serta pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi.



