Terlihat Sehat, 5 Kebiasaan Ini Justru Bisa Meningkatkan Risiko Masalah Jantung

Must read

EDUCARE.CO.ID – Menjaga kesehatan jantung tidak cukup hanya dengan berolahraga dan memilih makanan yang dianggap sehat. Beberapa kebiasaan yang terlihat baik justru dapat membawa dampak kurang menguntungkan jika seseorang mengabaikan kandungan makanan, kebutuhan istirahat, dan kondisi tubuh.

Contohnya, mengganti buah utuh dengan jus, memilih produk berlabel bebas gula tanpa memeriksa komposisinya, hingga berolahraga terlalu keras tanpa pemulihan yang cukup. Karena itu, penting untuk memahami bahwa pola hidup sehat membutuhkan keseimbangan, bukan sekadar mengikuti tren.

Mengutip laporan Hindustan Times, spesialis jantung dr. Sunil Kumar Mandal menjelaskan sejumlah kebiasaan yang perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kesehatan jantung.

1. Terlalu Mengandalkan Jus Buah dan Smoothie

Buah mengandung vitamin, mineral, dan serat yang mendukung kesehatan tubuh. Namun, manfaat tersebut tidak selalu sama ketika seseorang mengonsumsi buah dalam bentuk jus.

Proses pembuatan jus dapat mengurangi kandungan serat, terutama jika ampas buah dibuang. Selain itu, satu gelas jus dapat mengandung gula dari beberapa buah sekaligus. Kondisi ini membuat asupan gula lebih mudah meningkat tanpa disadari.

Menurut dr. Sunil Kumar Mandal, kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang berkaitan dengan kenaikan berat badan, peradangan, dan peningkatan trigliserida. Beberapa smoothie kemasan juga mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi.

Karena itu, mengonsumsi buah utuh dapat menjadi pilihan yang lebih baik untuk memperoleh serat. Jika ingin menikmati smoothie, buatlah sendiri dengan memperhatikan porsi buah dan menghindari gula tambahan. Sayuran serta sumber protein juga dapat menjadi pelengkap.

2. Langsung Percaya Label Rendah Lemak dan Bebas Gula

Label low fat atau rendah lemak dan sugar free atau bebas gula sering menarik perhatian konsumen yang ingin menjalani pola makan sehat. Namun, kedua klaim tersebut tidak otomatis menjamin bahwa suatu produk memiliki komposisi yang lebih baik.

Untuk mempertahankan rasa, produsen dapat menggunakan bahan lain sebagai pengganti lemak. Beberapa produk juga mengandung natrium atau pati olahan dalam jumlah tertentu. Sementara itu, produk bebas gula tetap bisa mengandung banyak bahan tambahan atau memiliki nilai gizi yang kurang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Mandal mengingatkan konsumen agar tidak hanya membaca klaim pada bagian depan kemasan. Sebaliknya, periksa daftar bahan, informasi nilai gizi, serta jumlah gula, natrium, dan lemak yang tercantum.

Dengan cara ini, konsumen dapat menilai produk secara lebih menyeluruh. Jadi, jangan langsung menganggap makanan berlabel rendah lemak atau bebas gula sebagai pilihan paling sehat.

3. Berolahraga Terlalu Keras tanpa Istirahat Cukup

Olahraga teratur membantu menjaga kebugaran dan mendukung kesehatan jantung. Meski demikian, latihan berat yang terus-menerus tanpa pemulihan memadai dapat membebani tubuh.

Kurangnya waktu istirahat dapat mengganggu proses pemulihan setelah latihan. Dalam kondisi tertentu, beban olahraga yang berlebihan juga dapat meningkatkan tekanan pada sistem kardiovaskular dan memicu gangguan irama jantung pada orang yang rentan.

Karena itu, sesuaikan intensitas olahraga dengan kemampuan tubuh. Dr. Mandal menyarankan aktivitas fisik intensitas sedang sekitar 150 menit per minggu. Selain itu, jadwalkan waktu istirahat dan tingkatkan intensitas latihan secara bertahap.

Perhatikan pula tanda-tanda yang tidak biasa, seperti nyeri dada, sesak napas, atau sensasi hampir pingsan. Jika gejala tersebut muncul saat berolahraga, hentikan aktivitas dan segera cari pertolongan medis sesuai kondisi.

4. Melewatkan Waktu Makan demi Mengurangi Kalori

Sebagian orang sengaja melewatkan sarapan atau makan malam untuk menekan asupan kalori. Namun, kebiasaan tersebut tidak selalu membantu mencapai berat badan yang sehat.

Ketika seseorang menahan lapar terlalu lama, ia mungkin makan lebih banyak pada waktu berikutnya. Akibatnya, pengaturan porsi dan kualitas makanan menjadi lebih sulit.

Menurut Mandal, pola makan yang tidak teratur juga dapat mengganggu pengelolaan faktor metabolik yang berkaitan dengan kesehatan jantung. Faktor tersebut mencakup tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah.

Oleh sebab itu, fokuslah pada pola makan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh. Pilih makanan bergizi, atur porsi secara wajar, serta pertahankan jadwal makan yang dapat dijalani secara konsisten.

Perlu diingat, kebutuhan setiap orang berbeda. Strategi pengaturan waktu makan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan energi, bukan sekadar mengikuti tren diet.

5. Mengorbankan Tidur demi Diet dan Olahraga

Menjalani pola makan sehat dan berolahraga secara rutin merupakan langkah penting. Namun, kedua kebiasaan tersebut perlu berjalan bersama tidur yang cukup dan pengelolaan stres.

Kurang tidur dapat memengaruhi tekanan darah, pengaturan berat badan, dan kesehatan metabolik. Seiring waktu, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung.

Dalam laporannya, Mandal menyebut sejumlah penelitian mengaitkan durasi tidur kurang dari tujuh jam per malam dengan tekanan darah tinggi, kenaikan berat badan, dan risiko penyakit jantung. Stres berkepanjangan juga dapat memengaruhi kadar hormon serta mendorong kebiasaan yang kurang sehat, seperti makan berlebihan dan mengurangi aktivitas fisik.

Untuk mendukung kesehatan jantung, orang dewasa umumnya perlu tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Selain itu, kelola stres melalui kegiatan sederhana yang sesuai dengan kebutuhan, seperti berjalan santai, melakukan latihan pernapasan, atau menghabiskan waktu bersama teman.

Jaga Kesehatan Jantung dengan Kebiasaan yang Seimbang

Kelima kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa pilihan yang terlihat sehat belum tentu tepat jika seseorang mengabaikan komposisi makanan, intensitas aktivitas, atau kebutuhan pemulihan tubuh.

Karena itu, periksa label nutrisi sebelum membeli produk, pilih buah utuh secara rutin, dan sesuaikan olahraga dengan kemampuan fisik. Di samping itu, pertahankan pola makan bergizi, tidur yang cukup, serta kelola stres dengan baik.

Menjaga kesehatan jantung membutuhkan perhatian terhadap berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Konsistensi menjalankan kebiasaan sehat dan mengenali kebutuhan tubuh menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi faktor risiko penyakit jantung.

Jika memiliki penyakit tertentu atau mengalami gejala seperti nyeri dada dan sesak napas, konsultasikan kondisi tersebut kepada tenaga medis. Dengan begitu, upaya menjaga kesehatan jantung dapat berjalan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article