Tak Perlu Lari Kencang, Slow Jogging Bisa Jadi Olahraga Ringan untuk Banyak Orang

Must read

EDUCARE.CO.ID – Slow jogging mulai menarik perhatian penggemar olahraga di berbagai negara. Tren ini juga populer di Korea Selatan.

Berbeda dari lari biasa, slow jogging menggunakan kecepatan yang lebih santai. Pelakunya bergerak dengan kecepatan sekitar 3–5 kilometer per jam.

Tekniknya juga mengandalkan langkah pendek. Jumlah langkahnya mencapai sekitar 180 langkah per menit.

Meski terlihat ringan, slow jogging tetap melibatkan banyak otot. Aktivitas ini juga dapat membantu tubuh membakar energi selama berolahraga.

Slow Jogging Sudah Diteliti Sejak 2015

Berdasarkan unggahan Instagram @siloamhospitals, Prof. Hiroaki Tanaka dari University of Fukuoka, Jepang, telah meneliti metode slow jogging sejak 2015.

Penelitian tersebut menunjukkan potensi pembakaran energi yang cukup tinggi. Slow jogging dapat membakar kalori hingga dua kali lebih banyak daripada berjalan kaki dalam durasi yang sama.

Estimasi pembakaran energinya mencapai sekitar 400–600 kilokalori per jam.

Slow jogging juga dapat menjaga detak jantung pada zona pembakaran lemak. Kondisi tersebut membantu tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi.

Kecepatan yang lebih rendah membuat olahraga ini terasa lebih ringan. Karena itu, banyak orang dapat memasukkannya ke dalam rutinitas olahraga.

Langkah Pendek Libatkan Banyak Otot

Slow jogging tidak hanya melatih kaki. Gerakannya juga melibatkan berbagai kelompok otot untuk menjaga keseimbangan dan postur.

Otot inti bekerja mempertahankan posisi tubuh tetap tegak. Kelompok otot tersebut mencakup otot perut dan punggung bagian bawah.

Otot gluteus juga membantu menjaga kestabilan panggul. Pelaku slow jogging menggunakan otot tersebut secara berulang saat mengambil langkah pendek.

Bagian kaki juga bekerja secara aktif.

Otot paha depan membantu mengangkat tubuh. Hamstring mendukung gerakan kaki, sedangkan betis membantu tubuh bergerak maju.

Teknik pendaratan juga ikut memengaruhi kerja otot. Slow jogging menggunakan bagian tengah atau depan telapak kaki saat menyentuh permukaan.

Teknik tersebut membuat otot betis bekerja lebih aktif daripada saat seseorang berjalan biasa.

Slow Jogging Dukung Kebugaran Tubuh

Manfaat slow jogging tidak hanya berkaitan dengan otot.

Aktivitas fisik ini dapat merangsang pelepasan endorfin. Hormon tersebut berkaitan dengan rasa nyaman setelah berolahraga.

Slow jogging juga merangsang Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Senyawa ini berperan dalam mendukung fungsi dan kesehatan otak.

Aktivitas fisik secara rutin juga dapat mendukung kebugaran kardiorespirasi.

Paru-paru beradaptasi secara bertahap terhadap aktivitas fisik. Tubuh kemudian meningkatkan efisiensi penggunaan oksigen.

Jantung juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan tubuh selama olahraga. Adaptasi tersebut dapat membantu meningkatkan kemampuan kardiorespirasi.

Bisa Membantu Menjaga Gula Darah

Slow jogging juga dapat memberi manfaat bagi metabolisme tubuh.

Aktivitas fisik dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Kondisi ini membantu tubuh menggunakan glukosa dengan lebih efektif.

Karena itu, olahraga rutin dapat menjadi bagian dari pola hidup aktif untuk membantu menjaga kadar gula darah.

Namun, olahraga tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.

Cocok untuk Orang yang Perlu Olahraga Intensitas Ringan

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dr. Andi Kurniawan, Sp.KO., Subsp.ALK(K), menjelaskan bahwa slow jogging dapat menjadi pilihan bagi sejumlah kelompok.

Orang dengan obesitas, misalnya, terkadang perlu menghindari olahraga berintensitas tinggi.

Slow jogging menawarkan gerakan dengan kecepatan lebih rendah. Kondisi tersebut membuat aktivitas ini dapat menjadi alternatif latihan dengan beban yang lebih ringan.

Menurut dr Andi, orang yang menjalani pemulihan setelah operasi atau cedera juga dapat mempertimbangkan jenis olahraga ini sesuai kondisi masing-masing.

Lansia yang ingin menjaga massa otot juga dapat memasukkan aktivitas fisik ringan ke dalam rutinitas mereka.

Begitu pula orang yang memiliki risiko gangguan jantung. Mereka tetap perlu menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kesehatan dan rekomendasi tenaga medis.

Slow Jogging Bisa Jadi Pilihan Olahraga Harian

Slow jogging menawarkan pendekatan olahraga yang sederhana. Pelaku tidak perlu berlari dengan kecepatan tinggi untuk tetap aktif bergerak.

Kecepatan 3–5 kilometer per jam membuat aktivitas ini terasa lebih santai. Langkah pendek juga membantu menjaga ritme gerakan.

Meski demikian, setiap orang memiliki kondisi fisik yang berbeda. Intensitas dan durasi olahraga perlu mengikuti kemampuan tubuh.

Orang yang memiliki penyakit tertentu, baru menjalani operasi, atau sedang memulihkan cedera sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai latihan.

Dengan teknik yang tepat dan intensitas sesuai kemampuan, slow jogging dapat menjadi salah satu pilihan untuk membangun kebiasaan hidup aktif.

 

Penulis: Putri Faathiman Niara

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article