EDUCARE.CO.ID – Chia seed dan biji selasih sering muncul dalam berbagai makanan dan minuman. Bentuknya yang kecil serta kemampuannya mengembang saat terkena air membuat banyak orang menganggap kedua bijian tersebut sama.
Padahal, chia seed dan biji selasih berasal dari tanaman yang berbeda. Keduanya juga memiliki bentuk, tekstur, kandungan nutrisi, dan penggunaan yang tidak sepenuhnya sama.
Berdasarkan sumber penelitian IPB University serta informasi Harvard T.H. Chan School of Public Health, berikut lima perbedaan chia seed dan biji selasih yang perlu diketahui.
1. Berasal dari Tanaman yang Berbeda
Perbedaan pertama terlihat dari asal tanamannya.
Chia seed berasal dari Salvia hispanica L., tanaman yang masih memiliki hubungan dengan keluarga mint. Tanaman ini banyak tumbuh dan dikenal dari wilayah Meksiko serta Guatemala.
Sementara itu, biji selasih berasal dari Ocimum basilicum L., yaitu tanaman basil.
Meski berasal dari tanaman berbeda, keduanya masih masuk dalam keluarga Lamiaceae. Penelitian IPB University juga menemukan sejumlah karakteristik yang mirip antara chia seed dan biji selasih.
Kesamaan tersebut tidak membuat keduanya menjadi bahan yang sama.
2. Bentuk dan Warnanya Tidak Sama
Jika diperhatikan lebih dekat, chia seed dan biji selasih memiliki tampilan yang berbeda.
Chia seed biasanya berbentuk oval dengan ukuran sedikit lebih besar. Warnanya dapat berupa hitam, abu-abu, putih, atau memiliki pola berbintik.
Sementara itu, biji selasih umumnya berukuran lebih kecil dan memiliki warna hitam pekat. Bentuknya juga cenderung lebih mungil dibandingkan chia seed.
Meski tampak berbeda ketika masih kering, keduanya mengalami perubahan tekstur setelah terkena air. Perubahan inilah yang sering membuat orang sulit membedakannya.
3. Sama-Sama Mengembang Saat Terkena Air
Chia seed dan biji selasih memiliki kemampuan menyerap air. Namun, hasil akhirnya memiliki karakteristik yang sedikit berbeda.
Ketika direndam, chia seed menyerap air dan membentuk lapisan gel di bagian luar. Tekstur tersebut membuat chia seed populer sebagai bahan chia pudding, overnight oats, smoothie, hingga campuran yogurt.
Biji selasih juga membentuk lapisan bening seperti lendir setelah terkena air. Masyarakat lebih sering menggunakan biji ini dalam minuman dingin, es buah, dan berbagai dessert.
Keduanya memiliki komponen yang membantu mengikat air. Namun, orang biasanya merendam biji selasih terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke dalam minuman.
4. Kandungan Nutrisi Keduanya Berbeda
Chia seed terkenal sebagai salah satu sumber serat, protein, lemak tak jenuh, mineral, serta omega-3 nabati.
Harvard T.H. Chan School of Public Health menyebut chia seed kaya akan alpha-linolenic acid (ALA), salah satu jenis omega-3 nabati.
Biji selasih juga mengandung serat dan lemak, termasuk ALA. Namun, jumlah nutrisi pada biji selasih dapat berbeda sesuai varietas dan kondisi pertumbuhan tanaman.
Menariknya, penelitian yang membandingkan keduanya tidak selalu menunjukkan bahwa chia seed unggul dalam semua aspek.
Pada sampel tertentu, biji selasih justru memiliki kandungan serat yang lebih tinggi dibandingkan chia seed.
Karena itu, jangan menganggap salah satu bijian selalu lebih unggul. Kandungan nutrisi dapat berbeda berdasarkan jenis dan kondisi bahan.
5. Penggunaannya dalam Makanan dan Minuman Berbeda
Perbedaan berikutnya terletak pada cara orang mengonsumsi kedua bijian tersebut.
Chia seed lebih fleksibel untuk berbagai jenis makanan. Anda dapat mencampurkannya langsung ke dalam smoothie, yogurt, oatmeal, atau puding. Chia seed juga tidak selalu membutuhkan proses perendaman sebelum masuk ke dalam makanan.
Biji selasih lebih populer sebagai pelengkap minuman dingin dan makanan penutup.
Setelah direndam, biji selasih menghasilkan tekstur kenyal yang memberikan sensasi khas ketika masuk ke dalam minuman.
Karena itu, pilihan antara chia seed dan biji selasih dapat mengikuti jenis sajian yang ingin dibuat.
Chia Seed atau Biji Selasih, Mana yang Lebih Baik?
Chia seed dan biji selasih sama-sama dapat menjadi bagian dari pola makan yang beragam. Namun, keduanya memiliki karakteristik masing-masing.
Chia seed lebih fleksibel untuk campuran makanan seperti oatmeal, yogurt, smoothie, dan puding. Sementara itu, biji selasih lebih populer untuk minuman dingin dan dessert.
Dari sisi nutrisi, keduanya juga memiliki kandungan yang menarik. Chia seed dikenal kaya serat dan ALA, sedangkan biji selasih juga menyediakan serat, lemak, dan ALA.
Jadi, tidak perlu menganggap chia seed dan biji selasih sebagai bahan yang sama. Kenali karakter masing-masing agar Anda bisa memilih bijian yang paling sesuai dengan kebutuhan dan jenis sajian.

