Bukan Cuma Sentra Tempe! Kampung Tempe Beji Kota Batu Punya 263 Perajin dan Wisata Edukasi

Must read

EDUCARE.CO.ID – Tempe bukan sekadar makanan sehari-hari bagi warga Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur. Di desa ini, tempe telah berkembang menjadi sumber penghidupan ratusan perajin sekaligus daya tarik wisata edukasi.

Kawasan tersebut dikenal sebagai Kampung Tempe Beji. Pengunjung tidak hanya bisa membeli produk tempe, tetapi juga mempelajari proses pembuatannya secara langsung di Omah Tempe.

Kawasan ini memiliki sekitar 263 perajin tempe. Mereka membutuhkan sekitar 6–7 ton kedelai setiap hari untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Aktivitas tersebut turut menggerakkan ekonomi masyarakat. Perputaran ekonomi dari produksi tempe di kawasan ini mencapai sekitar Rp70 juta per hari.

Omah Tempe Jadi Pusat Wisata Edukasi

Daya tarik utama Kampung Tempe Beji berada di Omah Tempe, yang terletak di Dusun Karangjambe.

Tempat ini menggabungkan aktivitas produksi dengan kegiatan edukasi. Wisatawan, pelajar, maupun komunitas dapat melihat langsung proses pembuatan tempe dari awal hingga selesai.

Pengunjung bisa mengenal tahapan pengolahan kedelai, pemberian ragi, pencetakan, hingga fermentasi. Pengalaman tersebut membuat proses produksi yang biasanya berlangsung di rumah warga berubah menjadi materi pembelajaran yang menarik.

Konsep eduwisata juga memberi kesempatan kepada pengunjung untuk memahami perjalanan kedelai hingga menjadi produk pangan yang akrab di meja makan.

Pada 2026, Kampung Tempe Beji kembali mengenalkan program TEMU atau Tempe Edukasi Maju dan Unggul. Program tersebut mengajak peserta mempelajari proses pembuatan tempe sekaligus membawa pulang hasil produksinya.

Ratusan Perajin Jadi Penggerak Ekonomi Desa

Industri tempe di Beji berkembang secara turun-temurun. Khusus di Dusun Karangjambe, lebih dari 80 persen warga menggantungkan penghasilan dari usaha tempe.

Sebanyak 263 unit usaha rumah tangga menjalankan produksi dengan kebutuhan kedelai yang cukup besar. Warga mendatangkan bahan baku dari Pandaan secara berkala agar produksi tetap berjalan.

Pemasaran tempe Beji juga melampaui wilayah desa. Produk warga menjangkau sejumlah kawasan di Malang Raya dan sekitarnya, seperti Blimbing, Dinoyo, Kebalen, Pujon, Ngantang, Kasembon, hingga Kandangan.

Namun, industri tempe Beji menghadapi tantangan pada 2026. Harga bahan baku yang meningkat dan permintaan yang melemah membuat sebagian perajin mengurangi produksinya.

Laporan pada September 2026 bahkan mencatat penurunan produksi sejumlah perajin hingga hampir separuh dalam tiga tahun terakhir.

Meski menghadapi tekanan tersebut, warga tetap mempertahankan aktivitas produksi sekaligus mengembangkan potensi Kampung Tempe Beji melalui sektor wisata dan produk olahan.

Tempe Tak Berhenti Jadi Lauk

Warga Beji tidak hanya menjual tempe dalam bentuk segar. Pelaku UMKM terus mengembangkan produk turunan untuk meningkatkan nilai jual.

Berbagai inovasi muncul, mulai dari pia tempe, brownies tempe, steak tempe, hingga keripik tempe.

Warga juga memanfaatkan kulit ari kedelai. Mereka mengolahnya menjadi tepung kaya serat untuk bahan pembuatan mi.

Diversifikasi tersebut membuka peluang pasar yang lebih luas. Pada saat yang sama, inovasi produk membantu memperkuat citra Kampung Tempe Beji sebagai sentra kuliner yang mengandalkan bahan pangan lokal.

Motif Batik Tempe Jadi Identitas Desa

Tempe juga masuk ke ranah ekonomi kreatif dan budaya.

Warga Beji memperkenalkan motif batik tempe sebagai salah satu identitas khas desa. Ide tersebut muncul dalam rangkaian Festival Beji Kampung Tempe.

Pengembangan motif tersebut kemudian melengkapi berbagai potensi yang sudah dimiliki Kampung Tempe Beji.

Disway Malang mencatat pengembangan batik motif tempe mulai berlangsung pada 2021–2022. Inovasi ini menunjukkan bahwa warga tidak hanya mengembangkan tempe sebagai komoditas pangan, tetapi juga mengangkatnya sebagai simbol identitas lokal.

Dengan pendekatan tersebut, tempe memiliki ruang yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat Beji. Produk pangan ini ikut masuk ke sektor wisata, UMKM, ekonomi kreatif, hingga budaya.

Pernah Raih Penghargaan Desa Berdaya UMKM

Upaya Desa Beji dalam mengembangkan potensi UMKM juga mendapat apresiasi.

Pada 2019, Desa Beji meraih penghargaan Waranugraha Among Desa dalam kategori Empowered Village in Micro, Small and Medium Business.

Among Tani Foundation bersama Pemerintah Kota Batu dan PusKa-PB Universitas Muhammadiyah Malang memberikan penghargaan tersebut.

Pada tahun yang sama, masyarakat mulai mengembangkan Omah Tempe di Dusun Karangjambe sebagai pusat wisata edukasi.

Pengembangan tersebut memperkuat dua peran Kampung Tempe Beji. Kawasan ini tetap menjadi sentra produksi yang menghidupi ratusan perajin. Pada saat yang sama, Omah Tempe membuka ruang belajar bagi wisatawan dan pelajar.

Dari Tempe, Warga Bangun Wisata Edukasi

Kampung Tempe Beji menunjukkan bahwa potensi pangan lokal dapat berkembang jauh melampaui aktivitas produksi.

Ratusan perajin tetap menjalankan usaha tempe sebagai sumber ekonomi. Di sisi lain, Omah Tempe membawa proses produksi tersebut ke ranah wisata edukasi.

Pelajar, komunitas, dan wisatawan dapat datang untuk melihat langsung proses pengolahan kedelai menjadi tempe. Mereka juga bisa mengenal inovasi produk dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Dengan menggabungkan produksi, UMKM, edukasi, wisata, dan ekonomi kreatif, Kampung Tempe Beji menjadi contoh bagaimana sebuah komoditas lokal dapat membangun identitas sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article