Sekolah dan Orang Tua Diminta Bersinergi, HAN Dorong Pendidikan Ramah Anak

Must read

EDUCARE.CO.ID – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) kembali mengingatkan masyarakat bahwa pendidikan harus menempatkan anak sebagai pusat proses pembelajaran. Momentum ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga mendorong sekolah, keluarga, dan pemerintah menghadirkan ruang belajar yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan setiap anak.

Berdasarkan sumber Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kemendikdasmen menegaskan bahwa Hari Anak Nasional tahun ini memperkuat komitmen bersama untuk memenuhi hak anak sekaligus mendukung tumbuh kembang mereka sesuai potensi masing-masing.

Direktur PAUD Kemendikdasmen, Kurniawan, menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam melindungi anak.

“Pemenuhan hak dan perlindungan anak tidak dapat dilakukan sendirian. Diperlukan kerja sama lintas sektor agar setiap anak benar-benar terlindungi, terdidik, dan tumbuh dalam lingkungan yang sehat,” ujarnya di Bandung, 23 Juli 2026.

Sekolah Menjadikan HAN Sebagai Pengalaman Belajar

Semangat tersebut tampak dalam praktik pembelajaran di berbagai sekolah. Kepala TK Gagas Ceria, Catur Wulandari, menjelaskan bahwa sekolah merancang HAN sebagai pengalaman belajar yang membekas bagi anak.

Menurutnya, anak perlu memperoleh kesempatan untuk bereksplorasi, berkarya, berinteraksi, dan menyampaikan ide-idenya.

“Hari Anak Nasional menjadi ruang bagi anak untuk bereksplorasi, berkarya, berinteraksi, dan merasakan bahwa suara serta idenya dihargai,” kata Catur.

Selain itu, sekolah memanfaatkan momentum HAN untuk mengevaluasi proses pembelajaran agar benar-benar berpihak pada kepentingan terbaik anak.

Setiap Anak Berhak Berkembang Sesuai Potensi

Catur menegaskan bahwa sekolah tidak berupaya menyeragamkan anak. Sebaliknya, guru mengenali karakter, minat, dan kebutuhan setiap anak agar mereka berkembang secara optimal.

“Fokus kami bukan menjadikan semua anak sama, melainkan membantu setiap anak berkembang secara optimal sesuai potensinya,” ujarnya.

Karena itu, sekolah juga memperkuat kerja sama dengan keluarga. Menurut Catur, pendidikan akan berjalan lebih efektif ketika rumah dan sekolah saling mendukung.

Anak Menjadi Subjek Utama Kegiatan Sekolah

Semangat yang sama juga diterapkan di TK Bunda Ganesha. Kepala sekolah Susi Hindayani menjelaskan bahwa guru melibatkan anak sebagai subjek utama dalam seluruh kegiatan HAN.

Anak-anak diajak menjaga kebersihan lingkungan, memilah sampah, membersihkan sampah yang dapat didaur ulang, dan mengolahnya menjadi karya seni. Melalui kegiatan tersebut, mereka belajar berkreasi sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

“Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa anak merupakan pusat dari proses pendidikan,” ujar Susi.

Orang Tua Turut Mendampingi Proses Belajar

Susi juga mengajak orang tua berperan aktif dalam pendidikan anak. Dalam kegiatan HAN, orang tua mendampingi anak mengolah bahan daur ulang menjadi karya seni sehingga pengalaman belajar berlanjut di rumah.

Selain itu, guru memetakan minat dan tahap perkembangan setiap anak serta menciptakan lingkungan yang aman agar mereka merasa dihargai, diterima, dan bebas bereksplorasi.

Budaya Pendidikan Ramah Anak Harus Terus Tumbuh

Melalui peringatan Hari Anak Nasional, sekolah-sekolah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Sebaliknya, sekolah perlu membangun budaya pendidikan yang ramah anak dalam keseharian.

Ketika pendidikan menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran, sekolah dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, kreatif, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article

spot_img