SALMON 2026 Bergerak di Mojokerto, Ini 5 Program Mahasiswa UNAIR untuk Warga Desa

Must read

EDUCARE.CO.ID – Sebanyak 57 mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) turun langsung ke Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Melalui program SALMON 2026, mereka mengembangkan sejumlah kegiatan yang menyasar sektor perikanan, lingkungan, kesehatan, ekonomi, serta media dan informasi.

Berdasarkan sumber rilis FPK UNAIR, program pengabdian masyarakat tersebut berlangsung selama 14 hari, mulai 27 Juli hingga 9 Agustus 2026. Tahun ini, SALMON mengusung tema “Salmon Bergerak, Masyarakat Berdampak”.

Salah satu fokus utama program ialah menghidupkan kembali potensi budidaya ikan milik masyarakat. Dari sembilan kolam terpal yang tersedia di Desa Begaganlimo, hanya lima kolam yang masih layak digunakan. Pertumbuhan vegetasi yang terlalu padat menjadi salah satu kendala yang menghambat produktivitas kolam.

Mahasiswa Revitalisasi Kolam, Siapkan 3.000 Benih Ikan

Tim SALMON bersama masyarakat melakukan revitalisasi kolam dengan dukungan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur.

Setelah proses revitalisasi selesai, tim menyiapkan kolam untuk membudidayakan 3.000 benih ikan. Benih tersebut terdiri atas ikan nila dan lele dari Instalasi Perikanan Budidaya (IPB) Balai Mojokerto.

Namun, mahasiswa tidak hanya menebar benih. Mereka juga memperhatikan keberlanjutan pengelolaan kolam setelah program berakhir.

Tim berdiskusi dengan dosen FPK UNAIR, Muhammad Hanif Azhar, S.Pi., M.Si., Ph.D., untuk menentukan metode pengelolaan air yang sederhana dan mudah diterapkan warga.

“Metode sirkulasi ini kami pilih karena dirasa paling sederhana untuk diterapkan dalam budidaya. Jadi bukan konsep open water, ketika kualitas air sudah menurun, air diganti sekitar 50 persen dari volume kolam,” jelas Hanif.

Tim juga menyesuaikan pola pemberian pakan berdasarkan jenis ikan. Ikan nila mendapat pakan tiga kali sehari, sedangkan lele dua kali sehari.

Agar warga dapat melanjutkan pengelolaan kolam, tim membentuk kelompok masyarakat melalui koordinasi dengan kepala dusun. Kelompok tersebut bertugas memantau kondisi kolam setelah mahasiswa menyelesaikan program.

Ketua Pelaksana SALMON 2026, Fikri, menegaskan bahwa keberlanjutan menjadi salah satu prinsip utama program.

“Saya mendapatkan pengalaman berharga dalam belajar, berkolaborasi, dan berkontribusi langsung bersama masyarakat. Prinsip yang saya pegang adalah memastikan setiap program tidak berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Tanam 200 Pohon untuk Jaga Lingkungan Desa

SALMON 2026 juga menyentuh persoalan lingkungan. Mahasiswa menggandeng Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Brantas untuk memperoleh 200 bibit pohon.

Sebanyak 200 bibit tersebut terdiri atas 100 pohon nangka, 50 durian, dan 50 matoa. Mahasiswa menanam seluruh bibit bersama berbagai elemen masyarakat Desa Begaganlimo.

Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan menghijaukan lingkungan. Jenis pohon yang dipilih juga memiliki potensi manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Program penghijauan ini turut mendukung SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, terutama melalui pengelolaan lingkungan dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga ruang hidupnya.

Cek Kesehatan Gratis untuk Warga Lansia

Mahasiswa juga membawa program kesehatan ke tengah masyarakat. Bersama puskesmas setempat, tim SALMON mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi 15 warga lanjut usia.

Kegiatan diawali dengan senam pagi. Setelah itu, petugas melakukan pemeriksaan tinggi badan, berat badan, kolesterol, asam urat, dan gula darah.

Tim juga memantau jentik-jentik di lingkungan warga. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sekaligus mendorong pencegahan penyakit.

Program kesehatan SALMON mendukung SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak.

Lele Hasil Budidaya Diolah Jadi Dimsum

Tim SALMON tidak berhenti pada budidaya ikan. Mereka juga mencari cara agar hasil panen memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Mahasiswa menggandeng Fisheries Processing Club (FPC), badan semi otonom FPK UNAIR, untuk mengolah lele menjadi produk pangan berupa dimsum lele.

Sebanyak 25 ibu-ibu PKK Desa Begaganlimo ikut dalam kegiatan pengolahan tersebut. Mereka belajar mengolah hasil budidaya menjadi produk yang lebih menarik dan memiliki peluang jual.

Salah satu peserta, Ibu Luthfi, menyambut positif kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini menambah keterampilan dalam mengolah lele menjadi produk yang menarik dan bernilai jual, sekaligus mempererat kebersamaan antaranggota PKK. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan,” katanya.

Konsep ini menghubungkan budidaya, pengolahan, hingga pemasaran. Lele yang warga budidayakan tidak hanya berakhir sebagai komoditas. Masyarakat juga dapat mengolahnya menjadi produk dengan nilai tambah.

Kegiatan tersebut mendukung SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan komoditas lokal dan kapasitas ekonomi masyarakat.

Masuk ke Ekosistem Digital

Tim SALMON turut mengenalkan pemanfaatan teknologi digital kepada masyarakat. Mahasiswa membantu membuat titik lokasi usaha di Google Maps serta menyediakan fasilitas pembayaran melalui QRIS.

Langkah tersebut membuka akses yang lebih luas bagi konsumen untuk menemukan produk masyarakat Desa Begaganlimo. Fasilitas pembayaran nontunai juga membantu pelaku usaha mengikuti perkembangan ekosistem ekonomi digital.

Dengan demikian, program tidak hanya berfokus pada produksi. Mahasiswa juga mendorong masyarakat mengenalkan dan memasarkan potensi desa melalui teknologi.

Kepala Desa Berharap Program Berlanjut

Kepala Desa Begaganlimo, Joko Suroso, mengapresiasi berbagai program yang mahasiswa jalankan selama SALMON 2026.

“Melalui beberapa program yang diberikan oleh teman-teman SALMON, saya harap bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan memberikan dampak positif bagi warga Desa Begaganlimo,” jelas Joko.

Ia juga berharap hubungan antara mahasiswa, UNAIR, dan masyarakat tetap berlanjut setelah program pengabdian selesai.

“Kami juga berharap silaturahmi dan kerja sama ini dapat terus terjalin ke depannya,” tambahnya.

SALMON UNAIR Masuk Tahun Kedelapan

SALMON atau Social and Learning Activity with Morality for Nation merupakan program pengabdian masyarakat yang BEM FPK UNAIR mulai sejak 2018. Pada 2026, program tersebut memasuki tahun pelaksanaan kedelapan.

Desa Begaganlimo sendiri menjadi salah satu desa binaan UNAIR. Karena itu, pelaksanaan SALMON menjadi bagian dari keterlibatan mahasiswa dalam mendukung pengembangan masyarakat di wilayah tersebut.

Selama dua pekan, 57 mahasiswa menjalankan program melalui lima bidang utama, yakni pendidikan, lingkungan, ekonomi, kesehatan, serta media dan informasi.

Berbagai kegiatan tersebut menghubungkan isu pembangunan berkelanjutan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Mulai dari ketahanan pangan melalui budidaya ikan, penghijauan, pemeriksaan kesehatan, pengembangan produk lokal, hingga pemanfaatan teknologi digital.

Bagi tim SALMON, keberhasilan program bukan hanya soal berapa banyak kolam yang kembali berfungsi atau berapa banyak benih dan pohon yang mereka tanam. Ukuran yang lebih penting ialah kemampuan masyarakat melanjutkan manfaat program secara mandiri.

Melalui pendekatan tersebut, SALMON 2026 berupaya meninggalkan manfaat yang tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan Desa Begaganlimo. Program ini sekaligus memperkuat kontribusi mahasiswa dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di tingkat masyarakat.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article