Baterai Mobil Listrik Bekas Disulap Jadi Sumber Energi, Mahasiswa ITB Juara GREENOVATE 2026

Must read

EDUCARE.CO.ID – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mencuri perhatian lewat inovasi energi berkelanjutan. Tim The Triple A meraih juara pertama kategori Sustainable Business Innovation Competition dalam ajang GREENOVATE 2026 di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Tim tersebut membawa SparkGo, inovasi yang memanfaatkan second-life EV battery sebagai sumber energi portabel. Mereka melihat peluang untuk mengurangi limbah baterai kendaraan listrik sekaligus menghadirkan alternatif bagi pengguna genset diesel.

Tim The Triple A terdiri atas Bryan Maulana A. dari Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika angkatan 2024, Tazkia Zahra Aulia dari Program Studi Manajemen angkatan 2024, serta Muhammad Farrel A. dari Program Studi Teknik Geologi angkatan 2025.

GREENOVATE 2026 merupakan kompetisi business plan yang mendorong mahasiswa mengubah gagasan inovatif menjadi model bisnis yang berkelanjutan dan dapat diterapkan.

SparkGo Beri Kehidupan Kedua bagi Baterai EV

Gagasan SparkGo berangkat dari dua persoalan yang muncul seiring pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia.

Pertama, semakin banyak kendaraan listrik berpotensi menghasilkan baterai yang sudah tidak lagi optimal untuk kendaraan. Kedua, berbagai sektor masih mengandalkan genset diesel untuk memenuhi kebutuhan listrik portabel.

Genset diesel memiliki sejumlah persoalan. Pengoperasiannya membutuhkan biaya, menghasilkan emisi, dan menimbulkan kebisingan.

Tim The Triple A kemudian melihat peluang dari baterai kendaraan listrik yang sudah melewati masa penggunaan pada kendaraan. Menurut riset mereka, baterai dengan State of Health (SoH) sekitar 70–80 persen masih dapat menjalankan fungsi lain.

SparkGo memanfaatkan peluang tersebut dengan memberikan kehidupan kedua bagi baterai EV.

“Keunggulan SparkGo bukan hanya di produknya, tapi di kelengkapan solusi yang kami tawarkan. Kami menggabungkan aspek lingkungan, teknologi, dan model bisnis dalam satu hal yang saling mendukung, dan sudah kami validasi bersama pelaku industri dan akademisi,” kata Tazkia.

Tim memilih konsep tersebut setelah melihat dua tren sekaligus, yakni pertumbuhan kendaraan listrik dan kebutuhan energi portabel yang terus berkembang.

Mereka juga mempelajari peluang pasar genset di Indonesia. Berdasarkan riset tim, nilai pasar tersebut berpotensi mencapai US$1,138 juta pada 2030.

Teknologi SparkGo Gabungkan BMS dan IoT

Tim The Triple A tidak berhenti pada konsep pemanfaatan baterai bekas. Mereka merancang SparkGo dengan sejumlah fitur untuk mendukung keamanan dan pemantauan penggunaan.

SparkGo menggunakan second-life EV battery dengan Smart Battery Management System (BMS). Sistem tersebut mencakup thermal protection, cell balancing, dan auto cut-off.

Ketiga fitur itu membantu menjaga kondisi baterai selama penggunaan.

Tim juga memasang teknologi Internet of Things (IoT) pada setiap unit SparkGo. Pengguna dapat memantau kondisi baterai, konsumsi daya, dan lokasi unit secara real-time.

Dari sisi model bisnis, SparkGo mengusung konsep Energy-as-a-Service. Tim menawarkan layanan melalui sistem penyewaan agar pengguna dapat memperoleh energi portabel tanpa harus membeli perangkat secara langsung.

Model tersebut menyasar sejumlah sektor yang membutuhkan sumber listrik praktis. Targetnya mencakup konstruksi, pertambangan, kegiatan event, hingga UMKM.

Riset Jadi Dasar Pengembangan SparkGo

Tim The Triple A mengembangkan SparkGo melalui riset teknis dan bisnis. Mereka melakukan wawancara dengan dosen, simulasi teknis, serta penyusunan proyeksi keuangan.

Tim juga mengikuti sesi mentoring bersama mentor dari TBS Foundation. Berbagai temuan tersebut kemudian mereka rangkum dalam pitch deck untuk kompetisi.

Pengembangan SparkGo juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak ada anggota tim yang berasal dari bidang teknik elektro, sementara konsep SparkGo membutuhkan pemahaman mengenai sistem kelistrikan dan baterai.

Tim pun memperbanyak proses belajar. Mereka membaca berbagai paper dan mencari referensi teknis untuk memperkuat rancangan inovasi.

Upaya tersebut membantu tim memahami aspek teknis sekaligus menyempurnakan gagasan bisnis SparkGo.

Juara GREENOVATE Bukan Akhir Perjalanan

Kemenangan di GREENOVATE 2026 menjadi pijakan awal bagi The Triple A untuk membawa SparkGo ke tahap berikutnya.

Tim berencana menjalankan pilot project bersama mitra industri. Mereka juga akan memperkuat aspek teknis dan keamanan produk sebelum masuk ke tahap implementasi yang lebih luas.

Selain itu, The Triple A ingin memperluas jaringan dengan penyedia baterai kendaraan listrik. Kolaborasi tersebut dapat membantu mereka memperoleh sumber baterai sekaligus membangun rantai pasok untuk pengembangan SparkGo.

“Kami berharap SparkGo tidak hanya berhenti sebagai ide di kompetisi ini, tetapi dapat berkembang menjadi solusi nyata yang mendukung transisi energi di Indonesia,” ujar Tazkia.

Menurutnya, SparkGo ingin menghadirkan akses energi portabel yang lebih hemat, bersih, dan praktis bagi masyarakat serta pelaku usaha.

Di sisi lain, pemanfaatan kembali baterai EV juga dapat memperpanjang masa guna baterai. Langkah tersebut berpotensi mengurangi limbah dan mendukung penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.

Pengalaman Pitching Jadi Pelajaran Berharga

Di balik kemenangan tersebut, tim juga menghadapi tantangan dalam mempersiapkan presentasi final.

Menjelang malam pitching, ketiga mahasiswa melakukan latihan berulang kali. Mereka fokus membangun kemampuan menyampaikan gagasan secara singkat sekaligus meyakinkan di hadapan juri.

GREENOVATE 2026 juga memberi kesempatan bagi The Triple A untuk membangun jejaring. Mereka bertemu peserta dari berbagai daerah dan latar belakang, bertukar gagasan, serta saling mendukung selama kompetisi.

Bagi The Triple A, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan SparkGo. Kompetisi tidak hanya menguji kualitas ide, tetapi juga melatih kemampuan riset, kerja tim, komunikasi, dan pengembangan bisnis.

Ke depan, tim berharap SparkGo dapat bergerak dari sekadar gagasan kompetisi menuju solusi energi yang benar-benar digunakan masyarakat dan industri.

Jika rencana tersebut berjalan, SparkGo tidak hanya membawa nama ITB di kompetisi inovasi. Inovasi ini juga dapat menjadi contoh bagaimana mahasiswa memanfaatkan teknologi untuk menjawab persoalan energi sekaligus memperpanjang siklus hidup baterai kendaraan listrik.

 

Penulis: Andini Namira Saskirana

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article