Rektor UNAIR Lakukan Sidak UTBK Hari Pertama, Ini Temuannya

EduNews

educare.co.id, Surabaya – Rektor Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA, melakukan inspeksi mendadak pada pelaksanaan hari pertama Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) 2025 di Gedung Nano, Kampus C UNAIR, Rabu (23/4). Inspeksi tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan ujian berjalan lancar, tertib, dan aman.

Dalam konferensi pers usai sidak, Prof. Nasih menegaskan bahwa UNAIR memberikan perhatian besar terhadap seluruh tahapan pelaksanaan ujian, mulai dari kedatangan peserta, masa transit, pelaksanaan ujian, hingga penyelesaiannya. Ia menekankan bahwa ujian dilaksanakan dengan prinsip keadilan dan integritas tinggi.

“UNAIR menggelar ujian se-fair mungkin, tidak ada kecurangan dan lain-lain. Sehingga UNAIR menegakkan aturan sangat ketat,” ujar Prof. Nasih.

Ia juga mengingatkan peserta, terutama yang berasal dari luar kota, untuk mempersiapkan diri lebih baik, termasuk tiba di Surabaya sehari sebelum ujian. Hal ini disampaikan setelah menemukan peserta dari Nganjuk yang mengalami gangguan kesehatan akibat kelelahan perjalanan.

“Perlu menjadi perhatian kita semua, terutama di persiapan para peserta. Khususnya yang rumah agak jauh, sebaiknya datang ke Surabaya H-1. Tadi ada yang masuk angin, maag dari Nganjuk sehingga agak mengganggu. Sehingga saya sarankan untuk sarapan dahulu,” ujarnya.

Tahun ini, UNAIR menjadi salah satu pusat pelaksanaan UTBK-SNBT dengan menyediakan 8 lokasi, 18 kelas, dan 18 sesi ujian, yang terbagi menjadi sesi pagi dan sore. Total peserta yang terdaftar mencapai 14.660 orang, meningkat dari tahun sebelumnya. Para peserta berasal dari 38 provinsi di Indonesia, dengan tambahan peserta dari luar negeri, yakni 5 peserta dari Arab Saudi dan 1 peserta dari Malaysia.

Dalam sidaknya, Prof. Nasih juga menyoroti aturan ketat di ruang ujian. Ia mengibaratkan suasana UTBK seperti salat Jumat, di mana peserta harus benar-benar fokus dan tidak boleh berkomunikasi satu sama lain.

“UTBK mirip salat Jumat. Kalau sudah dimulai, harus diam betul. Kalau ada orang berkomunikasi dengan peserta lain, ibarat ujiannya gugur,” tegasnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan peserta ujian diwajibkan melepas alas kaki seperti sepatu dan kaus kaki sebelum memasuki ruang ujian. Panitia telah menyiapkan sandal hotel (slippers) khusus yang digunakan saat masuk ke laboratorium ujian.

Terkait potensi kecurangan, Prof. Nasih mengungkapkan adanya modus yang digunakan sebagian peserta, seperti menyembunyikan alat komunikasi di dalam kaus kaki agar tidak terdeteksi oleh metal detector.

“Memang ada orang yang mempergunakan cara yang tidak bertanggung jawab. Yang diidentifikasi mengganggu keadilan dengan menyimpan alat komunikasi di dalam kaus kaki, sehingga sulit terdeteksi metal detector,” ungkapnya.

Prof. Nasih menegaskan bahwa UNAIR akan terus meningkatkan pengawasan demi menjaga integritas dan keadilan dalam pelaksanaan UTBK-SNBT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *