EDUCARE.CO.ID – Empat mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) meraih Silver Medal dalam ajang World Agriculture Strategic Innovation & Science Competition (WASISC) 2026. Mereka memperkenalkan SPIRIPACK, inovasi kemasan ramah lingkungan berbasis miselium jamur dan mikroalga Spirulina platensis yang juga dirancang untuk memberikan indikasi visual kesegaran pangan.
Kompetisi WASISC 2026 berlangsung pada 23–26 Oktober 2026 di SMA Taruna Nusantara Kampus Malang, Jawa Timur. Melalui ajang tersebut, tim UGM menunjukkan gagasan pengembangan material kemasan berbasis hayati sebagai alternatif pengganti styrofoam.
Tim SPIRIPACK terdiri atas Ayu Nawang Wulan sebagai ketua, bersama Fahima Ellya Wulandari, Tika Permatasari, dan Anisa Kurniati. Dr. Eng. Thoriq Teja Samudra, S.Si., Bio.cur., M.Sc. membimbing pengembangan inovasi tersebut.
SPIRIPACK Tawarkan Alternatif Pengganti Styrofoam
SPIRIPACK merupakan singkatan dari Smart Biodegradable Biofoam Reinforced with Spirulina platensis for Intelligent Sustainable Packaging. Tim mengembangkan konsep ini untuk menjawab persoalan penggunaan Expanded Polystyrene (EPS) atau styrofoam yang masih banyak ditemukan dalam industri pangan.
Styrofoam memiliki karakter ringan dan praktis untuk mengemas makanan. Namun, material ini sulit terurai secara alami sehingga berpotensi menambah beban pencemaran lingkungan.
SPIRIPACK menawarkan pendekatan berbeda. Inovasi ini memanfaatkan bahan berbasis hayati untuk menghasilkan biofoam yang berpotensi terurai secara alami. Tidak hanya berfungsi sebagai pelindung produk, kemasan tersebut juga mengusung fitur tambahan berupa indikator visual kesegaran pangan.
Konsep ini menggabungkan tiga komponen utama, yakni biofoam berbasis miselium jamur, biomassa Spirulina platensis, dan pigmen alami fikosianin. Ketiganya memiliki karakteristik yang mendukung pengembangan material kemasan dengan fungsi tambahan.
Miselium Jamur Jadi Bahan Dasar Biofoam
Salah satu komponen utama SPIRIPACK adalah miselium, jaringan hifa yang membentuk struktur tubuh jamur. Jaringan ini mampu mengikat substrat lignoselulosa sehingga menghasilkan material yang ringan dan kokoh.
Karakteristik tersebut membuat miselium berpotensi menjadi bahan dasar biofoam alternatif. Selain itu, pengembangannya membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan baku material kemasan.
Pemanfaatan sumber daya tersebut juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular. Limbah yang sebelumnya kurang bernilai dapat memperoleh fungsi baru sebagai bahan pendukung produk yang lebih berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, SPIRIPACK tidak hanya menawarkan alternatif material kemasan. Inovasi tersebut juga memperlihatkan peluang pemanfaatan sumber daya hayati dan limbah pertanian dalam pengembangan teknologi material.
Spirulina dan Fikosianin Hadirkan Indikator Kesegaran Pangan
Komponen berikutnya adalah Spirulina platensis, mikroalga yang mengandung protein, vitamin, mineral, dan senyawa antioksidan. Mikroalga ini juga memiliki pigmen alami bernama fikosianin yang menghasilkan warna biru.
Fikosianin memiliki sensitivitas terhadap perubahan kondisi lingkungan, termasuk tingkat keasaman atau pH. Perubahan kimia yang menyertai proses pembusukan pangan dapat memengaruhi kondisi di dalam kemasan. Kondisi tersebut berpotensi memicu perubahan warna pigmen.
Tim memanfaatkan karakteristik tersebut sebagai dasar pengembangan indikator kesegaran pangan. Melalui perubahan warna pada bagian indikator, SPIRIPACK dirancang untuk memberikan informasi visual tambahan mengenai kondisi produk.
Berdasarkan sumber laman resmi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, SPIRIPACK mengintegrasikan potensi miselium jamur dan Spirulina platensis dalam satu konsep kemasan. Penggabungan tersebut menghadirkan dua fungsi sekaligus, yaitu material kemasan biodegradable dan indikator visual yang merespons perubahan kondisi pangan.
Meski demikian, fungsi indikator ini masih memerlukan pengujian lebih lanjut untuk memastikan tingkat sensitivitas, stabilitas warna, serta ketepatan responsnya terhadap perubahan kesegaran berbagai jenis pangan.
Gabungkan Teknologi Material dan Prinsip Keberlanjutan
Keunggulan konsep SPIRIPACK terletak pada penggabungan fungsi perlindungan produk dan penyampaian informasi tambahan kepada konsumen. Pendekatan ini memperluas peran kemasan, bukan hanya sebagai pembungkus, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pemantauan kondisi pangan.
Penggunaan bahan berbasis hayati dan sumber daya terbarukan turut membuka peluang pengembangan kemasan yang lebih memperhatikan dampak lingkungan. Konsep tersebut relevan dengan upaya mendorong ekonomi sirkular serta pemanfaatan bioteknologi untuk menjawab persoalan industri pangan.
Di sisi lain, inovasi ini memperlihatkan bagaimana ilmu biologi dapat terhubung dengan teknologi material. Pemanfaatan organisme dan senyawa alami menjadi salah satu pendekatan untuk menghasilkan produk yang memiliki fungsi lebih luas.
Raih Silver Medal di WASISC 2026, SPIRIPACK Masih Bisa Dikembangkan
Raihan Silver Medal dalam WASISC 2026 menjadi pencapaian bagi empat mahasiswa UGM tersebut. Prestasi ini sekaligus menunjukkan kontribusi mahasiswa dalam mengembangkan gagasan yang menghubungkan biologi, inovasi material, dan keberlanjutan lingkungan.
Ke depan, tim masih perlu mengembangkan SPIRIPACK melalui sejumlah tahapan pengujian. Aspek yang perlu diperhatikan mencakup kekuatan mekanis biofoam, kemampuan biodegradasi, serta sensitivitas dan stabilitas perubahan warna fikosianin.
Pengujian tersebut penting untuk mengetahui sejauh mana material mampu menjalankan fungsi kemasan dan memberikan indikasi kesegaran pangan secara konsisten. Selain itu, pengembangan lebih lanjut perlu memastikan keamanan material serta kesesuaiannya dengan kebutuhan industri pangan.
Melalui pemanfaatan miselium jamur dan mikroalga, SPIRIPACK membuka peluang pengembangan kemasan yang lebih ramah lingkungan sekaligus informatif. Inovasi mahasiswa UGM ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan potensi hayati untuk menjawab tantangan pengemasan pangan pada masa mendatang.

