Raih Juara 2 Nasional, Mahasiswa SCU Ciptakan Kukis dari Limbah Tulang Ikan

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Soegijapranata Catholic University (SCU) mengembangkan inovasi pangan lokal untuk mendukung upaya pencegahan stunting. Mereka meracik kukis dari tepung umbi garut dan tepung tulang ikan gabus, lalu mengintegrasikannya dengan mesin pengukur gizi balita bernama E-Gabusta.

Inovasi tersebut mengantarkan tim SCU meraih Juara 2 National Essay Competition IDEAFEST 2026 di Bogor pada 6–7 Juni 2026. Sentosa Foundation, Bogor Science Club, dan IPB menyelenggarakan kompetisi ini untuk mendorong mahasiswa menghadirkan gagasan inovatif di bidang pangan dan gizi.

Tim SCU melibatkan lima mahasiswa dari tiga fakultas. Mereka terdiri atas Vanessa Joyfully Mardeko, Oei Ivena Evelyn Surya Hartono, dan Raymond Adidaya Santoso dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP). Dimas Rizky Fajar Pamungkas mewakili Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM), sedangkan Gregorius Alvin Yoga Pratama berasal dari Fakultas Teknik (FT).

Melalui karya ini, mereka memadukan pengolahan bahan pangan lokal dengan teknologi pemantauan pertumbuhan anak. Dengan demikian, inovasi tersebut tidak hanya menyoroti pemanfaatan limbah pangan, tetapi juga menawarkan pendekatan untuk membantu memantau kondisi gizi balita.

Olah Tulang Ikan Gabus Jadi Bahan Kukis

Vanessa menjelaskan bahwa timnya mengangkat persoalan stunting sebagai dasar pengembangan inovasi. Ia merujuk Survei Status Gizi Indonesia 2024 yang mencatat prevalensi stunting pada balita sebesar 19,8 persen.

Menurut Vanessa, pemenuhan kebutuhan gizi berperan penting dalam mendukung pertumbuhan anak. Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian ialah kecukupan protein hewani. Namun, masyarakat masih belum memanfaatkan sejumlah bahan pangan lokal secara optimal.

Tulang ikan gabus menjadi salah satu bahan yang menarik perhatian tim. Pengolah ikan kerap membuang bagian ini sebagai limbah, padahal tulang ikan berpotensi menjadi bahan baku pangan setelah melalui pengolahan yang tepat.

“Rendahnya konsumsi protein hewani menjadi salah satu penyebab utama stunting. Padahal, di lingkungan sekitar kita banyak bahan pangan lokal yang belum dimanfaatkan,” tutur Vanessa.

Berangkat dari gagasan tersebut, tim menggabungkan tepung tulang ikan gabus dengan tepung umbi garut untuk membuat kukis. Mereka ingin memanfaatkan bahan lokal sekaligus mengembangkan alternatif pangan yang mendukung pemenuhan gizi balita.

Ivena menjelaskan bahwa tepung tulang ikan gabus berpotensi menambah kandungan zat gizi dalam kukis. Bahan tersebut dapat menyumbang protein, kalsium, dan fosfor. Meski demikian, tim perlu melakukan pengujian laboratorium untuk memastikan kandungan gizi akhir produk.

Selain menguji kandungan gizi, pengembangan produk juga perlu memperhatikan keamanan pangan, daya simpan, dan kesesuaian konsumsi bagi balita. Langkah tersebut penting sebelum tim mempertimbangkan pemanfaatan kukis secara lebih luas.

E-Gabusta Bantu Pantau Pertumbuhan Balita

Tim SCU tidak berhenti pada pengembangan produk pangan. Mereka juga merancang E-Gabusta, sebuah mesin otomatis yang membantu mengukur berat dan tinggi badan balita.

Perangkat ini menggunakan sensor beban untuk mengukur berat badan. Sementara itu, sensor ultrasonik membantu mengukur tinggi badan anak. Selanjutnya, mikrokontroler mengolah data tersebut untuk menghitung skor-Z.

Skor-Z membandingkan hasil pengukuran tubuh anak dengan standar pertumbuhan sesuai usia dan jenis kelamin. Melalui indikator ini, petugas kesehatan dapat memperoleh informasi pendukung untuk menilai pertumbuhan anak.

E-Gabusta juga memanfaatkan kartu Radio Frequency Identification (RFID) untuk menyimpan riwayat pengukuran. Dengan fitur tersebut, pengguna dapat mengakses catatan pertumbuhan secara lebih praktis tanpa hanya mengandalkan pencatatan manual.

Selain fitur pengukuran, tim menambahkan kamera untuk memindai kondisi kulit sebagai bagian dari pengamatan awal. Mereka juga memanfaatkan panel surya untuk mendukung mekanisme penyalur makanan otomatis pada perangkat.

Raymond mengungkapkan bahwa penggabungan berbagai komponen tersebut menghadirkan tantangan teknis. Tim harus menyelaraskan pengembangan kukis dengan sistem sensor, kartu pintar, kamera, dan panel surya.

“Perpaduan ini penting agar upaya penanganan gizi tidak lagi bergantung pada catatan manual yang rawan salah dan terlambat. Tapi, membuat kukis bebas gluten yang tinggi gizi sudah cukup sulit. Proses menyatukannya dengan sensor, kartu pintar, kamera, dan panel surya jauh lebih rumit,” tambah Raymond.

Karena itu, pengembangan E-Gabusta masih membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Tim perlu menguji akurasi pengukuran, keamanan perangkat, serta efektivitas setiap fitur sebelum menerapkannya dalam layanan kesehatan masyarakat.

Mahasiswa SCU Siapkan Pengujian Lanjutan

Tim SCU berharap inovasi kukis dan E-Gabusta dapat melanjutkan tahap pengembangan melalui serangkaian pengujian. Untuk produk pangan, mereka ingin mengevaluasi tingkat kesukaan konsumen, daya simpan, dan dampak konsumsi dalam jangka panjang terhadap status gizi anak.

Sementara itu, pengujian E-Gabusta perlu mencakup ketepatan pengukuran serta keamanan penggunaan. Hasil evaluasi tersebut dapat membantu tim menentukan kesiapan perangkat untuk mendukung pemantauan pertumbuhan balita.

Ke depan, tim berharap inovasi ini dapat mendukung kegiatan pemantauan gizi di posyandu dan puskesmas. Meski demikian, tenaga kesehatan tetap perlu mengikuti standar pengukuran antropometri dan prosedur penilaian status gizi yang berlaku.

Prestasi di IDEAFEST 2026 menjadi langkah penting bagi tim SCU dalam mengembangkan gagasan lintas bidang. Mereka menggabungkan teknologi pangan, rekayasa perangkat, dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat dalam satu inovasi.

Melalui penelitian dan pengujian lanjutan, tim berharap karya tersebut dapat memberi kontribusi bagi pengembangan pangan lokal dan pemantauan pertumbuhan anak. Inovasi ini juga menunjukkan bagaimana mahasiswa dapat mengolah persoalan di sekitar mereka menjadi gagasan yang berpotensi memberi manfaat bagi masyarakat.

Berdasarkan sumber laman resmi Soegijapranata Catholic University (SCU), tim mahasiswa SCU meraih Juara 2 National Essay Competition IDEAFEST 2026 melalui gagasan kukis berbahan tepung umbi garut dan tepung tulang ikan gabus yang terintegrasi dengan mesin pengukur gizi balita E-Gabusta.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article