PURE-it UNAIR Raih Emas di WICE 2025 Malaysia

EduNews

EDUCARE.CO.ID, Surabaya – Tim mahasiswa lintas fakultas dari Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional dengan meraih Gold Medal pada ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2025. Kompetisi ini digelar secara offline di SEGi University, Kota Damansara, Malaysia.

Tim ini merupakan satu-satunya perwakilan dari UNAIR dalam kompetisi tersebut. Anggotanya terdiri dari Alia Dewi Kartika, Nithasya Rahma, dan Dinar Rheina Rassendria dari Teknik Biomedis FST, serta Arfandi Qurrata’ain dan Doohan Hadinata Tedja dari Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan FTMM.

PURE-it: Alat Deteksi Dini Carpal Tunnel Syndrome

Kontribusi yang mengantarkan mereka pada medali emas adalah inovasi alat deteksi dini Carpal Tunnel Syndrome (CTS) yang diberi nama PURE-it. Alat ini bekerja menggunakan sinyal elektromiografi (EMG) dan dipadukan dengan metode machine learning untuk meningkatkan akurasi analisis.

Menurut tim, inovasi PURE-it bertujuan membantu masyarakat mendeteksi CTS lebih cepat, praktis, dan terjangkau, sehingga dapat digunakan sebagai langkah preventif sebelum penyakit berkembang parah.

Kolaborasi Lintas Ilmu sebagai Kunci Sukses

Tim ini terbentuk dari obrolan santai lintas prodi yang menemukan titik temu antara biomedis dan kecerdasan buatan, lalu memutuskan berkolaborasi. Perjalanan mereka penuh tantangan, termasuk menyelesaikan prototipe yang belum sempurna hanya tujuh hari menjelang lomba. Namun, komunikasi, koordinasi, dan semangat lintas ilmu berhasil membuat semua terselesaikan tepat waktu.

Alia Dewi Kartika, selaku perwakilan tim, menyampaikan bahwa pengalaman ini terasa luar biasa. “Rasanya campur aduk, awalnya ingin coba sesuatu di luar zona nyaman, ternyata justru membuka jalan sampai tingkat internasional,” ungkapnya.

Selama kompetisi, tim UNAIR mempresentasikan PURE-it di hadapan juri internasional, menjelaskan konsep, cara kerja, hingga potensi pengembangan alat di masa depan. Pengalaman bertukar wawasan dengan peserta dari berbagai negara juga menjadi hal yang tak ternilai.

BACA JUGA:  UGM Komitmen Wujudkan Kampus Inklusif

Alia menambahkan, keberhasilan ini adalah tentang keberanian mengambil kesempatan. “Ikut lomba internasional bukan soal siapa yang paling jenius, tapi siapa yang berani mencoba. Jangan tunggu semuanya sempurna dulu, langsung melangkah saja,” pungkas Alia. (DSM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *