Psikolog UNAIR: Konten Anomali di Media Sosial Berpotensi Ganggu Perkembangan Anak

EduNews

educare.co.id, Surabaya – Fenomena konten “Italian Brairot” atau dikenal sebagai meme anomali tengah menjadi viral di media sosial. Konten ini menampilkan gabungan visual tak lazim, seperti kombinasi antara hewan dan benda mati, manusia dan hewan, hingga manusia dengan objek mati. Contoh yang kerap ditemukan antara lain “Tung tung tung sahur” dan “ballerina capuccina”. Meski bersifat absurd, konten seperti ini mudah diakses oleh berbagai kalangan, termasuk anak-anak.

Dr. Nur Ainy Fardana Nawangsari, S.Psi., M.Si. (Foto: UNAIR)

Menanggapi fenomena tersebut, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Nur Ainy Fardana Nawangsari, S.Psi., M.Si., Psikolog, menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak konten anomali terhadap tumbuh kembang anak.

Ia menjelaskan bahwa paparan konten digital yang tidak memiliki nilai edukatif dan berkualitas rendah berisiko memengaruhi perkembangan anak secara psikologis, kognitif, dan sosial.

“Anak itu suka hal yang menarik secara visual karena mereka sedang dalam masa pengembangan imajinasi. Mereka suka karena sepadan dengan kebutuhan mereka untuk mengembangkan kemampuan imajinasi, kemampuan visual, dan rasa ingin tahu,” jelas Neny, sapaan akrabnya, dalam siaran tertulis UNAIR (4/6).

Konten anomali, menurutnya, berbeda dengan tayangan kartun yang memiliki batasan dan kontrol tayang. Sementara konten aneh yang viral di media sosial justru mudah ditemukan dan dikonsumsi berulang-ulang oleh anak-anak. Ia menilai, hal ini dapat mengganggu proses pemahaman realita dan perkembangan kemampuan berpikir logis.

“Memang anak itu sedang pada tahapan mengembangkan imajinasi, tetapi mereka harus mulai belajar hal-hal yang bersifat konkret operasional untuk mengenali dunia nyata sekitarnya. Kalau yang mereka dapatkan adalah konten yang tidak mendidik, tentu saja akan mengganggu proses pemahaman dan proses kognisinya,” ungkapnya.

Secara psikologis, konsumsi konten anomali secara intens dapat menyebabkan kecanduan, yang berdampak pada penurunan fokus dan daya ingat anak. Bahkan, efeknya dapat meluas ke aspek fisik seperti gangguan tidur, kelelahan mata, dan nyeri leher.

BACA JUGA:  Aeshnina Azzahra Aqilani Aktivis Lingkungan Yang Hebat

Selain itu, Neny menambahkan bahwa kecanduan konten digital juga mengurangi frekuensi interaksi sosial anak di dunia nyata. Oleh karena itu, ia menyarankan para orang tua untuk lebih aktif mengawasi dan mengarahkan konsumsi digital anak.

“Untuk para orang tua, batasi screen time anak, sehingga banyak menghabiskan waktu dengan kehidupan nyata dan relasi sosial. Kemudian, dampingi dan pilihkan konten berkualitas dan berikan pemahaman terhadap anak mengenai konten yang baik,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *