PKBM Inklusif Buka Kesempatan Anak Disabilitas Kembali Belajar dan Raih Ijazah

Must read

EDUCARE.CO.ID – Kesempatan memperoleh pendidikan bagi anak penyandang disabilitas kini semakin terbuka. Selain melalui sekolah luar biasa (SLB) dan sekolah inklusif, layanan pendidikan juga dapat diakses melalui jalur nonformal, salah satunya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

PKBM dapat menjadi alternatif bagi anak disabilitas yang memiliki berbagai kondisi dan kebutuhan pendidikan. Lembaga pendidikan nonformal ini juga memberi kesempatan kepada mereka untuk mengikuti pendidikan kesetaraan dan memperoleh ijazah.

Salah satu contohnya hadir di PKBM Widya Bhayangkara, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Sejak 2023, lembaga tersebut membuka layanan pendidikan kesetaraan bagi peserta didik penyandang disabilitas.

Berdasarkan sumber Ditjen Dikmen Diksus Kemendikdasmen, PKBM Widya Bhayangkara kini melayani puluhan peserta didik, termasuk anak-anak dengan berbagai hambatan disabilitas.

PKBM Widya Bhayangkara Mulai Terima Anak Disabilitas

PKBM Widya Bhayangkara berdiri sejak 2019. Namun, lembaga tersebut baru mulai menerima peserta didik penyandang disabilitas pada 2023.

Pendiri PKBM Widya Bhayangkara, Supriyanto, menjelaskan bahwa layanan tersebut awalnya muncul dari permintaan masyarakat.

Saat itu, seorang anak penyandang disabilitas datang dan ingin mengikuti pendidikan kesetaraan Paket B. Setelah itu, semakin banyak anak dengan kondisi serupa yang ikut mendaftar.

“Awalnya ada anak disabilitas yang datang ingin ikut Paket B, terus ada lagi yang ingin ikut dan terus berkembang,” kata Supriyanto.

Melihat kondisi tersebut, pengelola PKBM kemudian menyadari bahwa masih ada anak disabilitas di sekitar lingkungan mereka yang belum memperoleh layanan pendidikan.

“Tadinya itu awalnya hanya kejar anak-anak yang putus sekolah saja. Namun, kemudian kami menyadari ternyata banyak anak disabilitas di sekitar kita yang belum terlayani pendidikannya,” ujarnya.

11 dari 56 Peserta Paket B Merupakan Anak Disabilitas

Untuk menjangkau calon peserta didik, Supriyanto bahkan melakukan pendekatan langsung ke masyarakat.

Ia mencari anak-anak yang belum memperoleh layanan pendidikan dan mengajak mereka mengikuti program kesetaraan di PKBM.

“Saya coba door to door itu mencari murid dan ternyata banyak juga muridnya dari berbagai ragam hambatan,” ungkapnya.

Kini, PKBM Widya Bhayangkara memiliki 56 peserta didik Paket B. Dari jumlah tersebut, 11 peserta didik merupakan anak penyandang disabilitas dengan kondisi yang beragam.

Sebagian besar peserta didik disabilitas mengalami hambatan fisik atau tunadaksa. Selain itu, terdapat pula peserta didik dengan hambatan intelektual dalam kategori yang masih dapat ditangani oleh pihak PKBM.

Supriyanto menjelaskan bahwa PKBM tetap mempertimbangkan kemampuan lembaga dalam memberikan pendampingan. Jika kondisi peserta didik membutuhkan layanan yang lebih khusus, pihaknya akan menyarankan keluarga memilih SLB.

“Tapi yang masih ringan. Kalau hambatannya sudah berat yang kira-kira kami tidak bisa menangani, kami akan sarankan pihak keluarga untuk menyekolahkannya ke SLB,” jelas Supriyanto.

PKBM Jadi Pilihan bagi Anak yang Minder di Sekolah Formal

Menurut Supriyanto, semakin banyak PKBM yang mulai membuka layanan pendidikan bagi anak penyandang disabilitas.

Salah satu alasannya berkaitan dengan kepercayaan diri peserta didik. Sebagian anak disabilitas sebenarnya memiliki kemampuan intelektual untuk mengikuti pembelajaran di sekolah formal, tetapi merasa kurang percaya diri ketika harus belajar bersama teman sebaya.

Kondisi tersebut membuat sebagian dari mereka memilih PKBM sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

“Padahal, secara intelektual mungkin mereka bisa mengikuti pelajaran di sekolah formal, tapi kadang mereka minder dengan teman-temannya sehingga lebih nyaman di PKBM,” kata Supriyanto.

Selain faktor lingkungan belajar, waktu pembelajaran juga menjadi pertimbangan. Program PKBM memiliki jadwal yang relatif lebih fleksibel karena pembelajaran berlangsung pada akhir pekan.

Dengan pola tersebut, peserta didik dapat menyesuaikan aktivitas belajar dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.

Amin Kembali Sekolah Setelah Tiga Tahun Putus Pendidikan

Salah satu peserta didik disabilitas di PKBM Widya Bhayangkara adalah Amin Rohman Sukamto, warga Paketingan, Sampang, Cilacap.

Amin sebelumnya pernah bersekolah di SD Negeri. Namun, ketika memasuki jenjang SMP, ia merasa tidak percaya diri untuk melanjutkan pendidikan di sekolah formal karena kondisi fisiknya.

“Malu kayaknya kalau ke sekolah umum. Jadi, ya, sudah ikut PKBM saja,” ujar Amin.

Keputusan tersebut membuat Amin sempat berhenti sekolah selama hampir tiga tahun. Namun, keinginan untuk kembali belajar akhirnya membawanya ke PKBM Widya Bhayangkara.

“Pengin sekolah lagi. Ingin punya ijazah untuk masa depan,” kata Amin.

Bagi Amin, pendidikan kesetaraan Paket B menjadi kesempatan untuk kembali memperoleh pendidikan sekaligus menyiapkan masa depan.

Berprestasi di Bidang Renang dan Ingin Berwirausaha

Meski sempat berhenti sekolah selama beberapa tahun, Amin menunjukkan bahwa kondisi disabilitas tidak menghalanginya untuk mengembangkan kemampuan.

Ia bahkan tercatat sebagai salah satu peserta didik berprestasi di PKBM Widya Bhayangkara. Amin berhasil meraih juara dalam lomba renang untuk penyandang disabilitas tingkat kabupaten.

Amin merupakan penyandang tunadaksa sejak lahir. Selain melanjutkan pendidikan, ia juga memiliki cita-cita untuk menjadi seorang wirausaha.

Kisah Amin memperlihatkan bahwa akses pendidikan yang lebih fleksibel dapat membuka kembali kesempatan bagi anak disabilitas untuk belajar, mengembangkan potensi, dan merancang masa depan.

Pendidikan Inklusif Tidak Hanya Berlangsung di Sekolah Formal

Keberadaan PKBM Widya Bhayangkara menunjukkan bahwa pendidikan inklusif dapat berkembang melalui berbagai jalur. Pendidikan nonformal dapat menjadi ruang alternatif bagi anak disabilitas yang belum mendapatkan layanan sesuai kebutuhannya.

Melalui pendidikan kesetaraan, peserta didik tidak hanya memperoleh kesempatan untuk kembali belajar. Mereka juga dapat mengejar ijazah, mengembangkan keterampilan, mengikuti berbagai kegiatan, hingga menemukan potensi yang dapat dikembangkan.

Semakin banyak PKBM yang membuka layanan inklusif, semakin luas pula pilihan pendidikan bagi anak penyandang disabilitas.

Pada akhirnya, akses pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kondisi fisik, latar belakang, maupun pengalaman seseorang. Setiap anak tetap membutuhkan ruang untuk belajar, berkembang, dan mempersiapkan masa depan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article