MTsN 1 Banjarnegara Borong Penghargaan di Malaysia, 3 Tim Riset Bawa Pulang Gelar Internasional

Must read

EDUCARE.CO.ID – Tiga tim riset MTs Negeri 1 Banjarnegara berhasil membawa pulang penghargaan dari ajang World Sustainable Development Goals Challenge (WSDGC) 2026 di Malaysia. Prestasi tersebut datang dari satu tim guru dan dua tim murid.

Kompetisi internasional itu berlangsung pada 24–27 September 2026. Ketiga tim membawa penelitian dengan tema yang berbeda, mulai dari kesehatan mental, pertanian berbasis kecerdasan buatan, hingga teknologi material untuk persoalan lingkungan.

Berdasarkan sumber Berita Internasional Kemenag, seluruh karya tersebut berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Para peneliti kemudian mengembangkan persoalan tersebut menjadi gagasan dan inovasi melalui kegiatan riset.

Tim Guru Raih Dua Penghargaan

Tim guru yang dipimpin Musfiatul Muniroh turut menyumbang prestasi bagi MTsN 1 Banjarnegara. Mereka berhasil meraih Gold Award sekaligus Special Educator Award melalui penelitian yang dibawakan dalam ajang WSDGC 2026.

Penelitian mereka berjudul “Terpikat Sholawat: Evaluating Digital Salawat as a Spiritual Mindfulness Platform for Reducing Anxiety Levels Among Adolescents at MTsN 1 Banjarnegara.”

Lewat penelitian itu, tim mengembangkan Terpikat Sholawat sebagai platform digital untuk mendukung praktik spiritual mindfulness. Mereka mengarahkan inovasi tersebut pada upaya membantu remaja menghadapi kecemasan.

Musfiatul melihat forum WSDGC sebagai kesempatan untuk memperkenalkan penelitian yang tumbuh dari kebutuhan nyata di madrasah.

“Pengalaman di WSDGC memberikan ruang untuk melihat bahwa penelitian yang berangkat dari kebutuhan nyata di madrasah dapat dikembangkan dan diperkenalkan di forum internasional,” tuturnya.

Pengalaman tersebut sekaligus mendorong Musfiatul untuk terus mengembangkan penelitian yang memberikan manfaat bagi pendidikan dan kehidupan peserta didik.

NUTLENS Manfaatkan AI untuk Bantu Petani

Prestasi berikutnya datang dari tim murid Tessa dan Gendis. Keduanya meraih Gold Award dan Platinum Award lewat penelitian “NUTLENS: Rapid and Effective Photo-Based Identification of Peanut Pests and Diseases Using a Convolutional Neural Network Application to Assist Local Farmers in Banjarnegara.”

Penelitian NUTLENS memanfaatkan Convolutional Neural Network (CNN) untuk mengenali hama dan penyakit tanaman kacang tanah melalui foto.

Dengan pendekatan tersebut, petani dapat memperoleh informasi awal mengenai kondisi tanaman secara lebih cepat. Selanjutnya, informasi itu dapat membantu mereka menentukan langkah penanganan yang sesuai.

Inovasi Tessa dan Gendis juga menunjukkan bagaimana teknologi AI dapat masuk ke sektor pertanian. Keduanya menghubungkan teknologi dengan kebutuhan petani lokal di Banjarnegara.

Bagi Tessa dan Gendis, WSDGC memberikan pengalaman baru dalam memperkenalkan hasil riset kepada peserta dan juri dari berbagai negara.

Material Batang Pisang untuk Solusi Lingkungan

Tim murid lainnya beranggotakan Aida, Puan, dan Zaskia. Mereka memperoleh Gold Award serta SDGC Special Award.

Ketiganya membawa penelitian berjudul “Development of Banana Stem Cellulose Acetate Membrane and MOF-Coated Cotton Fabric as Candidate Mask Filter Materials for H₂S Gas Adsorption at Sikidang Crater Dieng.”

Penelitian tersebut memanfaatkan batang pisang sebagai bahan dasar selulosa asetat. Tim kemudian mengombinasikannya dengan kain katun yang mendapatkan lapisan MOF.

Mereka mengembangkan material itu sebagai kandidat bahan penyaring untuk membantu proses adsorpsi gas H₂S di kawasan Kawah Sikidang, Dieng.

Selain mengangkat persoalan lingkungan, penelitian tersebut juga menunjukkan potensi bahan lokal untuk mendukung pengembangan teknologi. Dengan demikian, sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat dapat menjadi titik awal penelitian yang lebih inovatif.

Aida, Puan, dan Zaskia berharap mereka dapat terus menyempurnakan penelitian tersebut agar manfaatnya menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Kepala Madrasah Apresiasi Capaian Tiga Tim

Kepala MTs Negeri 1 Banjarnegara, Yatiman, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan tiga tim tersebut.

Menurut Yatiman, capaian WSDGC 2026 menunjukkan perkembangan budaya riset di lingkungan madrasah. Guru dan murid tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga mencari solusi dari persoalan yang mereka temukan di sekitar.

“Capaian ini tentu menjadi kebanggaan bagi Madtsansa. Lebih dari sekadar penghargaan, keberhasilan ini menunjukkan bahwa guru dan murid mampu mengembangkan penelitian yang berangkat dari persoalan nyata di lingkungan sekitar dan mengemasnya menjadi inovasi yang memiliki nilai kebermanfaatan,” ungkap Yatiman di Banjarnegara, Senin (28/9/2026).

Karena itu, Yatiman berharap prestasi tersebut dapat memacu warga madrasah untuk terus menghasilkan penelitian yang memiliki manfaat nyata.

Kompetisi Internasional Latih Kemampuan Murid

Koordinator Kelas Unggulan Riset, Tri Widayati, juga mengapresiasi kerja keras seluruh anggota tim.

Menurutnya, kompetisi internasional menuntut persiapan yang matang. Peserta harus memahami penelitian secara mendalam sekaligus mampu menjelaskan gagasan kepada juri dari berbagai negara.

“Prestasi ini merupakan hasil dari proses panjang. Anak-anak tidak hanya belajar melakukan penelitian, tetapi juga belajar menyampaikan gagasan, mempertanggungjawabkan hasil penelitian, dan berkomunikasi dalam forum internasional,” jelas Tri Widayati.

Selain kemampuan riset, pengalaman tersebut melatih keberanian peserta untuk berbicara di depan publik. Mereka juga belajar mempertahankan argumen ketika mendapat pertanyaan mengenai penelitian.

Dengan begitu, kompetisi tidak hanya menghasilkan penghargaan. Prosesnya turut membentuk kemampuan akademik dan komunikasi yang berguna bagi masa depan peserta didik.

Tiga Riset, Tiga Persoalan Nyata

Ketiga penelitian MTsN 1 Banjarnegara membawa fokus yang berbeda. Tim guru mengangkat kesehatan mental remaja melalui platform digital berbasis spiritual mindfulness.

Sementara itu, Tessa dan Gendis memanfaatkan AI untuk membantu petani mengenali gangguan pada tanaman kacang tanah. Pada sisi lain, Aida, Puan, dan Zaskia mengembangkan material berbasis batang pisang untuk menjawab persoalan pencemaran gas di kawasan Dieng.

Ketiga karya tersebut memperlihatkan satu pola yang sama. Para peneliti memulai riset dari persoalan yang mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya, mereka mengolah persoalan tersebut melalui pendekatan ilmiah dan teknologi. Hasilnya kemudian mereka bawa ke forum internasional untuk mendapatkan masukan sekaligus memperkenalkan inovasi dari madrasah.

Madrasah Dorong Riset dari Lingkungan Sekitar

Keberhasilan di WSDGC 2026 memperkuat komitmen MTsN 1 Banjarnegara dalam membangun budaya riset.

Madrasah dapat menjadi ruang bagi guru dan murid untuk mengembangkan penelitian dengan tema yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pendekatan seperti ini juga membantu peserta didik memahami bahwa riset tidak selalu harus berangkat dari persoalan yang jauh dari kehidupan mereka.

Justru, lingkungan sekitar dapat menjadi sumber ide. Persoalan kesehatan mental remaja, hama tanaman, hingga kualitas udara di kawasan wisata dapat mendorong lahirnya penelitian yang relevan.

Melalui pengalaman tersebut, siswa belajar mengamati masalah, menyusun gagasan, menguji solusi, dan menyampaikan hasil penelitian.

Pada akhirnya, capaian tiga tim MTsN 1 Banjarnegara di Malaysia tidak hanya menambah daftar penghargaan madrasah. Prestasi itu juga menunjukkan bagaimana budaya riset dapat mendorong guru dan murid mengubah persoalan lokal menjadi inovasi yang mampu tampil di forum internasional.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article