Batik dan Tenun Lamongan Tembus Kriyanusa 2026, Berawal dari Program PKW

Must read

Pelatihan keterampilan tidak berhenti ketika peserta menyelesaikan kelas. Hal itu terlihat dari kiprah peserta Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Kabupaten Lamongan yang berhasil membawa karya mereka ke Pameran Kriyanusa 2026.

Karya para perajin muda Lamongan tampil di stan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta stan Kabupaten Lamongan. Beragam produk tersebut menunjukkan hasil pelatihan sekaligus potensi anak muda dalam mengembangkan kerajinan berbasis budaya lokal.

Keikutsertaan Lamongan menjadi salah satu praktik pelaksanaan Program PKW hasil kerja sama Kemendikdasmen dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

PKW Dorong Anak Muda Kuasai Batik dan Tenun

Memasuki tahun kedua pelaksanaan program, Kabupaten Lamongan kembali mendorong generasi muda untuk mengembangkan keterampilan di bidang kerajinan.

Batik dan tenun khas Lamongan menjadi salah satu fokus utama. Peserta tidak hanya belajar menghasilkan karya, tetapi juga mengenal potensi wastra daerah sebagai bagian dari identitas budaya.

Keterampilan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi peluang usaha. Dengan begitu, program PKW tidak hanya membantu peserta menguasai keahlian, tetapi juga mendorong mereka membangun kemandirian ekonomi.

Ketua Dekranasda Lamongan, Anis Kartikawati, mengatakan program PKW telah memberikan manfaat bagi peserta di daerahnya.

“Kami sudah dua tahun turut menyukseskan program PKW di Lamongan. Selama itu, sudah banyak karya yang dihasilkan anak-anak, hingga akhirnya mereka mampu mandiri,” tutur Anis.

Menurut Anis, keterampilan di bidang tenun dan batik dapat membuka peluang usaha sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Karya Peserta PKW Masuk Pasar Lebih Luas

Program PKW tidak berhenti pada pelatihan. Setelah menyelesaikan pendidikan, para lulusan juga mendapatkan pembinaan lanjutan.

Dekranasda Lamongan membantu peserta mengembangkan karya agar memiliki peluang masuk ke pasar yang lebih luas. Pemerintah daerah juga membuka kemitraan dengan berbagai pihak untuk mendukung proses tersebut.

Salah satu hasil kolaborasi terlihat pada produk outer yang dipamerkan di Kriyanusa 2026.

Kain untuk produk tersebut berasal dari karya peserta PKW. Selanjutnya, mitra mengolah dan mendesainnya menjadi produk fashion dengan berbagai turunan.

“Contohnya adalah outer ini. Kainnya merupakan karya dari teman-teman PKW, lalu didesain oleh mitra sehingga menghasilkan banyak turunan kain tenun,” jelas Anis.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pelatihan dapat menjadi tahap awal. Setelah itu, peserta membutuhkan mitra yang mampu membantu mengembangkan desain, produksi, pemasaran, hingga distribusi.

Lulusan PKW Terus Diasah Lewat Lomba dan Workshop

Berdasarkan sumber Ditjen Dikmen Diksus Kemendikdasmen, Dekranasda Lamongan juga menyiapkan berbagai kegiatan lanjutan untuk menjaga semangat para lulusan PKW.

Salah satunya melalui lomba desain batik yang melibatkan alumni PKW tahun 2025 dan 2026.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menguji kemampuan yang mereka peroleh selama mengikuti program.

Selain lomba, pemerintah daerah juga menggelar workshop batik. Alumni PKW dapat kembali belajar, bertukar pengalaman, dan meningkatkan keterampilan.

“Kami menyelenggarakan lomba desain dan workshop batik juga. Banyak alumni PKW yang turut ikut serta untuk mengasah kemampuannya,” ungkap Anis.

Dengan kegiatan berkelanjutan tersebut, peserta tidak berhenti belajar setelah program pelatihan selesai.

Industri Ikut Bantu Peserta Bangun Usaha

Kolaborasi dengan dunia industri turut mendukung pelaksanaan PKW di Lamongan.

Salah satu mitra yang terlibat ialah SoeArt, brand fashion asal Lamongan. Kemitraan tersebut mempertemukan keterampilan peserta dengan kebutuhan industri kreatif.

Founder SoeArt, Rima Yuni, menilai program PKW dapat membantu meningkatkan kompetensi generasi muda sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja dan kewirausahaan.

Rima juga terlibat sebagai narasumber dalam materi digital marketing.

“Saya turut berpartisipasi sebagai narasumber dalam materi digital marketing. Melalui materi ini, saya berharap para lulusan dapat memanfaatkan media sosial secara optimal sebagai sarana untuk mengembangkan usaha dan membangun peluang kewirausahaan,” ujar Rima Yuni.

Materi tersebut menjadi penting karena kemampuan membuat produk perlu berjalan bersama kemampuan memasarkannya.

Di era digital, media sosial dapat membantu pelaku usaha memperkenalkan produk, membangun identitas merek, menjangkau calon konsumen, hingga membuka peluang kerja sama.

Dari Pelatihan ke Panggung Kriyanusa 2026

Keikutsertaan peserta PKW Lamongan dalam Kriyanusa 2026 menunjukkan perjalanan program yang tidak berhenti di ruang pelatihan.

Peserta belajar membuat karya. Setelah itu, mereka mendapat pembinaan untuk mengembangkan produk. Selanjutnya, mitra membantu mengolah karya menjadi produk yang memiliki nilai jual dan daya saing.

Pada saat yang sama, kegiatan tersebut ikut menjaga keberadaan batik dan tenun khas Lamongan.

Program PKW pun memiliki dua sisi manfaat. Di satu sisi, peserta memperoleh keterampilan untuk membuka peluang usaha. Di sisi lain, mereka ikut menjaga keberlanjutan wastra lokal melalui inovasi produk.

Kolaborasi antara Kemendikdasmen, Dekranasda Lamongan, peserta PKW, pemerintah daerah, dan dunia industri menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Dengan dukungan yang berkelanjutan, karya peserta tidak hanya berhenti sebagai hasil pelatihan. Produk tersebut dapat berkembang menjadi usaha sekaligus membawa identitas budaya Lamongan ke pasar yang lebih luas.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article