Peneliti UIN Lampung Kenalkan Alat Ukur Kesiapan AI Guru Masa Depan di Forum Internasional

Must read

EDUCARE.CO.ID – Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Suherman, memperkenalkan instrumen baru untuk mengukur kesiapan Artificial Intelligence (AI) pada calon guru. Ia mempresentasikan hasil penelitiannya dalam Junior Researchers of EARLI (JURE) Conference 2026 di University of Tartu, Estonia.

Instrumen tersebut membantu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) menilai kesiapan mahasiswa dalam memanfaatkan AI selama proses pembelajaran.

Berdasarkan sumber rilis Kementerian Agama Republik Indonesia, penelitian itu menjadi salah satu kontribusi akademisi Indonesia pada forum pendidikan internasional yang membahas transformasi pembelajaran di era kecerdasan buatan.

Mengukur Tiga Aspek Kesiapan AI

Suherman mempresentasikan penelitian berjudul AI Readiness Assessment for Pre-Service Teacher Education: Development and Validation pada sesi parallel paper.

Penelitian tersebut berfokus pada pengembangan instrumen untuk mengukur kesiapan AI calon guru.

Instrumen itu menilai tiga aspek utama.

Pertama, pengetahuan mengenai AI.

Kedua, keterampilan menggunakan AI dalam pembelajaran.

Ketiga, rasa percaya diri saat mengintegrasikan teknologi tersebut di kelas.

Sebanyak 297 mahasiswa calon guru dari Indonesia ikut berpartisipasi dalam penelitian ini.

Rasch Modeling Pastikan Instrumen Berkualitas

Tim peneliti menggunakan metode Rasch Modeling untuk menganalisis seluruh data.

Metode tersebut menguji validitas setiap butir pertanyaan.

Selain itu, peneliti juga mengukur reliabilitas instrumen.

Analisis turut memeriksa kemungkinan bias pada setiap pertanyaan.

Di samping itu, tim mengevaluasi efektivitas skala Likert yang digunakan.

Suherman menjelaskan bahwa hasil analisis menunjukkan kualitas instrumen sangat baik.

Instrumen juga memenuhi syarat psikometrik sehingga layak digunakan sebagai alat ukur kesiapan AI.

Mayoritas Calon Guru Sudah Siap Memanfaatkan AI

Penelitian ini juga memotret tingkat kesiapan para responden.

Hasilnya menunjukkan sebagian besar mahasiswa berada pada kategori kesiapan tinggi hingga sangat tinggi.

Sementara itu, perbedaan kesiapan berdasarkan gender tergolong kecil.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa calon guru Indonesia mulai siap memanfaatkan AI dalam proses pembelajaran.

Dukung Pengembangan Kompetensi Guru

Menurut Suherman, instrumen ini dapat membantu LPTK menyusun program pengembangan kompetensi yang lebih tepat sasaran.

Melalui hasil pengukuran, kampus dapat mengetahui aspek yang masih perlu diperkuat.

Misalnya, kemampuan menggunakan AI.

Selain itu, kampus juga dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai etika penggunaan AI.

Dengan cara tersebut, calon guru tidak hanya menguasai teknologi.

Mereka juga mampu menggunakannya secara bertanggung jawab.

Didukung Program Riset Indonesia Bangkit

Penelitian ini memperoleh dukungan pendanaan dari Program Riset Indonesia Bangkit Kementerian Agama atau MoRA The AIR Funds.

Profesor Nanang Supriadi memimpin riset tersebut sebagai ketua peneliti.

Program pendanaan ini mendukung berbagai penelitian yang berkaitan dengan pendidikan di era kecerdasan artifisial.

Melalui dukungan tersebut, tim berhasil menghasilkan perangkat pengukuran yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan guru.

Dipresentasikan di Forum Internasional

JURE Conference 2026 berlangsung pada 6–10 Juli 2026.

Konferensi ini mengusung tema Learning in Transition: Science, Society and the Challenges of Tomorrow.

EARLI menyelenggarakan forum tahunan tersebut.

Ratusan akademisi, peneliti muda, dan mahasiswa doktoral dari lebih dari 40 negara hadir dalam konferensi itu.

Mereka membahas berbagai isu pendidikan.

Topiknya meliputi AI, teknologi pendidikan, asesmen pembelajaran, hingga pengembangan profesional guru.

Selain presentasi makalah, peserta mengikuti simposium, diskusi, presentasi poster, dan kuliah utama.

Melalui forum tersebut, para peneliti saling berbagi hasil riset sekaligus membangun kolaborasi internasional.

Partisipasi Suherman menunjukkan bahwa akademisi Indonesia terus berkontribusi dalam pengembangan pendidikan berbasis AI di tingkat global.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest article

spot_img