PAUD Hadir di Tengah Hutan Bungo, Anak Suku Anak Dalam Kini Bisa Belajar Sejak Dini!

Must read

EDUCARE.CO.ID – Akses pendidikan anak usia dini mulai hadir di permukiman Suku Anak Dalam (SAD) Pasir Putih, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, Jambi. Kehadiran PAUD tersebut menjadi hasil kolaborasi masyarakat, pemerintah daerah, pendamping komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan yang mendukung pendidikan bagi anak-anak SAD.

Berdasarkan Siaran Pers Kemendikdasmen Nomor 672/sipers/A6/VIII/2026, pendampingan pendidikan di komunitas SAD Pasir Putih berlangsung sejak 2014 dan terus berkembang hingga lahir rintisan PAUD yang inklusif bagi anak-anak SAD maupun masyarakat sekitar.

Pendampingan Berawal dari Sekolah Alam

Pendamping komunitas SAD, Ulvi Monica Aulia, memulai kegiatan belajar melalui konsep sekolah alam di sudung-sudung atau pondok sederhana di tengah permukiman. Seiring waktu, ruang belajar berkembang menjadi rumah belajar yang lebih terstruktur.

Setelah masyarakat SAD mulai menetap melalui program rehabilitasi sosial, Ulvi bersama pemerintah desa membangun perpustakaan kecil di dekat Pustu Pasir Putih. Anak-anak belajar membaca, menulis, berhitung, mengerjakan tugas sekolah, dan mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri di tempat tersebut.

Pada 2023, komunitas mendirikan Ghumah Belajo Bhetilek Elmu yang berarti Rumah Belajar Mencari Ilmu. Tempat itu kini menjadi pusat kegiatan belajar harian bagi anak-anak di permukiman SAD.

“Alhamdulillah, antusiasme anak-anak sangat tinggi. Mereka datang dengan semangat untuk belajar membaca, menulis, berhitung, dan mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri,” ujar Ulvi dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).

Anak SAD Mulai Menjangkau Pendidikan Formal

Ulvi menjelaskan bahwa pendampingan selama lebih dari satu dekade mulai menunjukkan hasil nyata. Semakin banyak anak SAD yang masuk sekolah formal, bahkan beberapa di antaranya telah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Menurutnya, tahun ini salah satu anak dampingan juga sedang mengikuti proses pendaftaran kuliah di Akademi Kebidanan Amanah Muara Bungo.

PAUD di Dalam Komunitas Jadi Solusi Strategis

Ulvi menilai anak-anak SAD masih menghadapi tantangan ketika harus mengikuti PAUD di luar komunitas. Selain faktor jarak, sebagian orang tua masih merasa kurang nyaman karena adanya stigma sosial dari lingkungan luar.

Akibatnya, banyak anak langsung masuk SD tanpa pengalaman belajar di PAUD. Kondisi tersebut sering membuat mereka kesulitan beradaptasi dengan proses pembelajaran formal.

Karena itu, masyarakat dan pendamping memilih merintis PAUD di dalam komunitas agar anak-anak bisa belajar di lingkungan yang aman, dekat dengan keluarga, dan tetap menghargai budaya mereka.

“Harapannya, ketika mereka masuk SD, mereka sudah memiliki kesiapan belajar yang lebih baik,” kata Ulvi.

Perubahan Terlihat pada Kepercayaan Diri Anak

Selain kemampuan dasar belajar, perubahan juga terlihat pada sikap dan keberanian anak-anak dalam berinteraksi.

Ulvi menuturkan bahwa dulu banyak anak SAD cenderung menghindari orang luar dan merasa tidak nyaman ketika bertemu orang baru. Kini mereka mulai lebih terbuka, berani menyapa, berbicara, dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.

“Melalui proses pendampingan yang berlangsung bertahun-tahun, anak-anak sekarang jauh lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan siapa pun,” jelasnya.

Gotong Royong Jadi Kunci Pendidikan Bermutu

Kisah dari Kabupaten Bungo menunjukkan bahwa pendidikan bermutu dapat tumbuh dari gotong royong yang dilakukan secara konsisten. Masyarakat, organisasi masyarakat sipil, pemerintah daerah, dan berbagai pihak bekerja bersama untuk membuka kesempatan belajar yang lebih setara bagi anak-anak Suku Anak Dalam.

Kemendikdasmen berharap model kolaborasi seperti ini dapat memperluas layanan pendidikan inklusif di berbagai wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses pendidikan.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article

spot_img