“Sodor Saga”, Media Pembelajaran Inovatif Karya Mahasiswa UNY

EduNews EduSchool

educare.co.id, Yogyakarta – Lima mahasiswa lintas jurusan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian (UKMP) berhasil mengembangkan sebuah media pembelajaran inovatif bernama Sodor Saga. Inisiatif ini menggabungkan unsur permainan tradisional dengan konsep board game edukatif, dan ditujukan untuk menumbuhkan karakter kerja sama pada anak usia sekolah dasar.

Dibentuk melalui program “biro jodoh” dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), tim ini terdiri dari Ilmi Irmatussoleha (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) selaku ketua, bersama Selfia Okniati Sirait (Teknik Industri), Alif Hafidz Ramadhani (Pendidikan Bahasa Inggris), Risma Trinandini (Pendidikan Guru PAUD), dan Isma Rani Tatsniyah (Pendidikan Akuntansi). Meski berasal dari jurusan yang berbeda dan belum pernah bekerja sama sebelumnya, kolaborasi mereka membuahkan hasil yang berdampak nyata.

“Ide awal muncul dari kegelisahan kami melihat kurangnya karakter kerjasama siswa dalam pembelajaran sehari-hari, padahal sekolah-sekolah di Yogyakarta sudah banyak yang mengupayakan penguatan karakter,” ujar Ilmi, dalam siaran tertulis UNY (9/7).

Keresahan tersebut kemudian dikukuhkan melalui observasi di lapangan, di mana ditemukan bahwa interaksi kerja sama antarsiswa masih rendah. Dari sanalah tim mulai merancang solusi berbasis pendekatan literasi dan edukasi yang akhirnya melahirkan media Sodor Saga.

Pengujian Sodor Saga dilakukan di SD Muhammadiyah Prambanan menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Melalui serangkaian uji validitas ahli, pre-test dan post-test, serta angket dari siswa dan guru, media ini dinyatakan efektif dan layak digunakan. Meski menghadapi tantangan teknis seperti penyesuaian waktu antara jadwal kuliah dan kegiatan di sekolah, tim berhasil mengatasinya melalui koordinasi yang intensif dan manajemen waktu yang fleksibel.

Tak hanya mendapat sambutan positif dari pihak sekolah dan kampus, Sodor Saga juga mulai menarik perhatian kalangan akademik di luar UNY. “Kami bahkan mendapat DM dan komentar dari beberapa pendidik yang ingin mencoba media ini di sekolah mereka,” tambah Alif.

Dalam jangka panjang, tim memiliki rencana untuk mengembangkan Sodor Saga agar dapat diakses oleh anak-anak berkebutuhan khusus. “Kami ingin Sodor Saga tidak hanya terbatas untuk siswa reguler, tapi juga inklusif bagi semua kalangan,” ujar Risma.

Manfaat dari media ini mulai terlihat di lapangan. Para siswa menunjukkan peningkatan kemampuan dalam bekerja sama, sementara para guru merasa terbantu dalam menyampaikan materi pembelajaran. Elemen kartu misi dalam permainan menjadi nilai tambah yang memperkaya konten edukatif secara menyenangkan.

Menutup kisah inspiratif ini, Ilmi menyampaikan pesan kepada generasi muda: “Jangan takut gagal, teruslah berkarya, berinovasi, dan berdampak bagi lingkungan sekitar. Masih banyak hal menarik yang bisa dieksplorasi dan dijadikan solusi nyata untuk berbagai masalah di masyarakat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *