Mahasiswa Unila Ciptakan Drone AI yang Bisa Deteksi Hama Kopi dalam 15 Menit

Must read

EDUCARE.CO.ID – Lima mahasiswa Universitas Lampung (Unila) menciptakan pesawat nirawak (drone) berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu petani mendeteksi serangan hama dan penyakit pada tanaman kopi secara lebih cepat. Inovasi tersebut mendukung penerapan pertanian presisi sekaligus membantu petani meningkatkan produktivitas kebun.

Berdasarkan sumber rilis Universitas Lampung (Unila), inovasi ini menjadi bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI) 2026 yang memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Drone Berbentuk Kumbang untuk Kebun Kopi

Tim pengembang terdiri atas Rafidto Farras Achdiar Azizul Haqqi sebagai ketua, bersama Ariq Hazel, Gita Rahmania, Bayu Dwi Setiawan, dan Elfi Nuraini Maridah. Dosen Aryanto, S.T., M.T. membimbing tim selama proses penelitian.

Mereka merancang drone dengan bentuk menyerupai kumbang sehingga mampu terbang di bawah kanopi tanaman kopi yang rapat. Desain biomimetik tersebut membuat drone lebih mudah menjangkau area yang sulit dijangkau drone komersial.

Melalui desain itu, tim dapat memantau kondisi tanaman secara lebih efektif.

AI Kenali Hama dan Penyakit Kopi

Tim melengkapi drone dengan teknologi AI berbasis YOLOv8 dan ResNet. Mereka juga memasang kamera ESP32-CAM serta sistem Internet of Things (IoT).

Perangkat tersebut mengenali gejala serangan Penggerek Buah Kopi (PBKo) dan penyakit karat daun secara otomatis. Setelah itu, sistem mengirimkan hasil analisis ke dashboard pemantauan secara real-time. Dashboard tersebut menampilkan peta lokasi tanaman yang memerlukan penanganan sehingga petani dapat bertindak lebih cepat.

Pangkas Waktu Pemeriksaan Kebun

Ketua tim, Rafidto Farras Achdiar Azizul Haqqi, mengatakan drone AI mampu mempercepat proses inspeksi kebun secara signifikan.

“Jika sebelumnya petani harus memeriksa tanaman secara manual selama berhari-hari, kini proses inspeksi dapat diselesaikan hanya dalam sekitar 15 menit penerbangan drone,” ujarnya.

Selain bekerja lebih cepat, tim juga merancang drone dengan biaya produksi sekitar Rp6–8 juta per unit. Mereka menggunakan komponen seperti Raspberry Pi Pico dan GPS Ublox M8N agar petani lebih mudah mengadopsi teknologi tersebut.

Bantu Petani Kurangi Penggunaan Pestisida

Tim melakukan uji coba di perkebunan kopi mitra di Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus.

Hasil pengujian menunjukkan drone mampu mengenali serangan hama sejak tahap awal. Teknologi ini juga membantu petani mengurangi penggunaan pestisida secara berlebihan dan meningkatkan efektivitas pengelolaan kebun.

Salah satu petani mitra, Sumardi, mengaku inovasi tersebut memberi manfaat nyata karena petani bisa menangani penyakit tanaman lebih cepat sebelum penyebarannya meluas.

Siap Dikembangkan untuk Pertanian Modern

Melalui inovasi ini, Unila terus mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Tim pengembang masih terus menyempurnakan integrasi AI, IoT, dan sistem komunikasi data pada perangkat berukuran kecil. Mereka optimistis teknologi tersebut akan berkembang menjadi solusi yang siap diterapkan secara luas.

Ke depan, tim berharap drone biomimetik berbasis AI dapat melaju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2026 sekaligus berkembang menjadi produk yang mampu membantu modernisasi sektor pertanian Indonesia.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article

spot_img