Mahasiswa UNAIR Ciptakan HYDROVA-AI, Teknologi Irigasi Pintar untuk Atasi Pemborosan Air

Must read

EDUCARE.CO.ID – Dua mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan inovasi teknologi untuk menjawab persoalan distribusi air di lahan pertanian. Melalui HYDROVA-AI, Khariza Faza Shafiya dan Alysa Virnanda Abidin menawarkan sistem irigasi presisi yang memadukan kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan energi surya.

Tim GO PH yang beranggotakan kedua mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR tersebut meraih penghargaan Second Honorable Mention for Analytical Excellence dalam International Scientific Essay Competition (ISEC). Kompetisi ini menjadi bagian dari rangkaian Gayatama 5 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 8–10 Oktober 2026.

HYDROVA-AI berangkat dari persoalan irigasi manual yang kerap menyulitkan petani. Distribusi air yang tidak merata dapat memicu pemborosan dan perselisihan dalam pembagian air. Tim GO PH menawarkan sistem pemantauan dan pengaturan irigasi yang lebih terukur, transparan, serta berkelanjutan.

HYDROVA-AI Jawab Masalah Distribusi Air di Sawah

Pengelolaan air menjadi salah satu tantangan penting dalam kegiatan pertanian. Petani perlu memastikan setiap petak sawah memperoleh air sesuai kebutuhan agar penggunaan sumber daya tetap efisien.

Namun, pengaturan pintu air secara manual masih menyisakan sejumlah kendala. Selain membutuhkan pemantauan rutin, cara tersebut berisiko menimbulkan ketimpangan distribusi air antarlahan.

Tim GO PH juga menyoroti faktor keselamatan kerja. Banyaknya petani berusia di atas 45 tahun menjadi salah satu pertimbangan dalam merancang sistem yang dapat mengurangi kebutuhan pemantauan irigasi secara langsung.

Alysa menjelaskan bahwa pengaturan pintu air secara manual dapat menimbulkan persoalan dalam pembagian air.

“Pengaturan pintu air yang masih dilakukan secara manual dapat menyebabkan distribusi air tidak merata dan memicu perselisihan antarpetani,” ujar Alysa.

Melalui HYDROVA-AI, tim ingin membantu petani memantau kondisi lahan dan menentukan prioritas pengairan berdasarkan kebutuhan tanaman.

Gabungkan Sensor, AI, IoT, dan Panel Surya

HYDROVA-AI mengandalkan sensor kelembapan tanah dan ketinggian air untuk memantau kondisi setiap petak sawah. Data dari sensor tersebut menjadi masukan bagi sistem untuk menilai kebutuhan pengairan.

Tim juga merancang fitur Cross-Plot AI. Fitur ini membandingkan kebutuhan air antarp​​etak sawah, lalu memprioritaskan lahan yang mengalami kekurangan air lebih besar.

Dengan pendekatan tersebut, sistem dapat membantu menentukan urutan pengairan berdasarkan kondisi lahan. Petani pun memiliki informasi yang lebih terukur saat mengatur distribusi air.

HYDROVA-AI turut memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi. Penggunaan energi matahari ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan sistem pada pasokan listrik dari PLN.

Untuk memudahkan pemantauan, sistem mengirimkan informasi kondisi tanah dan status pompa secara real-time melalui Telegram Bot. Petani juga tetap dapat mengoperasikan kendali manual ketika situasi membutuhkan intervensi langsung.

Kombinasi teknologi tersebut menjadi dasar rancangan irigasi presisi yang mengutamakan efisiensi air, kemudahan pemantauan, dan transparansi distribusi.

Rancang Sistem dari Analisis hingga Tahap Implementasi

Dalam mengembangkan gagasan HYDROVA-AI, Tim GO PH terlebih dahulu mengidentifikasi kelemahan sistem irigasi yang sudah ada. Mereka kemudian merancang integrasi aspek agronomi dengan teknologi sensor dan sistem kendali.

Tim juga menyusun arsitektur perangkat keras serta perangkat lunak yang mendukung operasional sistem. Perencanaan tersebut mencakup tahapan implementasi, mulai dari perancangan awal dan pengujian hingga kemungkinan pengembangan dalam skala yang lebih luas.

Meski menawarkan sejumlah potensi, tim masih menghadapi tantangan dalam merumuskan spesifikasi produk. Mereka perlu memastikan setiap komponen dapat memenuhi kebutuhan pengguna tanpa mengorbankan efektivitas dan efisiensi sistem.

Tantangan tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyusunan esai. Tim perlu menghubungkan kebutuhan di lapangan dengan rancangan teknologi yang realistis untuk diterapkan.

Harap Diuji Coba Langsung Bersama Kelompok Tani

Tim GO PH berharap HYDROVA-AI dapat melangkah dari gagasan menuju pengujian langsung di lahan pertanian. Kolaborasi dengan kelompok tani dan instansi terkait juga menjadi langkah penting untuk menilai kesesuaian sistem dengan kondisi nyata.

“Ke depan, HYDROVA-AI diharapkan dapat diuji coba di lahan sawah nyata dan dikembangkan bersama kelompok tani serta instansi terkait,” jelas Alysa.

Uji coba lapangan nantinya dapat membantu mengevaluasi kinerja sensor, ketepatan prioritas distribusi air, kebutuhan energi, dan kemudahan penggunaan oleh petani. Hasil evaluasi juga dapat menjadi dasar untuk menyempurnakan rancangan sebelum tim mengembangkan sistem dalam skala lebih besar.

Dengan demikian, manfaat HYDROVA-AI tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologinya. Kesesuaian sistem dengan kebutuhan petani, kondisi infrastruktur, serta biaya penerapan juga akan menentukan peluang pemanfaatannya.

Dukung SDGs melalui Inovasi Pertanian Berkelanjutan

Gagasan HYDROVA-AI sejalan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi ini berkaitan dengan tujuan keenam tentang air bersih dan sanitasi, tujuan ketujuh mengenai energi bersih dan terjangkau, serta tujuan kesembilan tentang industri, inovasi, dan infrastruktur.

Pemantauan kebutuhan air dapat mendukung penggunaan sumber daya yang lebih efisien. Sementara itu, pemanfaatan panel surya menawarkan alternatif pasokan energi bagi sistem irigasi.

Integrasi AI dan IoT juga membuka peluang penerapan teknologi digital dalam pengelolaan pertanian. Namun, pengujian di lapangan tetap diperlukan untuk mengukur efektivitas sistem dan memastikan manfaatnya bagi petani.

Prestasi Tim GO PH dalam ISEC Gayatama 5 Unesa memperlihatkan upaya mahasiswa UNAIR mengembangkan gagasan teknologi untuk menjawab persoalan pertanian. Melalui HYDROVA-AI, Khariza Faza Shafiya dan Alysa Virnanda Abidin mengusulkan pendekatan irigasi yang mengutamakan pemantauan berbasis data, efisiensi air, dan pemanfaatan energi surya.

Berdasarkan sumber laman resmi Universitas Airlangga (UNAIR), Tim GO PH yang beranggotakan Khariza Faza Shafiya dan Alysa Virnanda Abidin dari Fakultas Kesehatan Masyarakat meraih penghargaan Second Honorable Mention for Analytical Excellence dalam International Scientific Essay Competition (ISEC) pada rangkaian Gayatama 5 Universitas Negeri Surabaya. Tim tersebut mengusung HYDROVA-AI, konsep sistem irigasi presisi berbasis AI, IoT, dan energi surya.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article