EDUCARE.CO.ID – Bagaimana jika keputusan pemain dalam sebuah game bisa menentukan kelestarian alam dan kehidupan masyarakat adat? Gagasan tersebut hadir melalui BALADA BHUMI, sebuah game visual novel karya mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang menggabungkan cerita interaktif dengan edukasi ekologi berbasis kearifan lokal Nusantara.
Inovasi yang dikembangkan Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin, Kesya Azka Najhan, dan Zidane Laudza’i Ghazam ini berhasil meraih Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) SHF 2026. Tim tersebut membawa pulang penghargaan dalam ajang Historical Fest Universitas Sriwijaya pada Rabu (21/10/2026).
BALADA BHUMI mengusung konsep narrative branching multiple storyline. Melalui pendekatan ini, pemain dapat menentukan arah cerita berdasarkan pilihan yang mereka ambil. Setiap keputusan membuka kemungkinan alur dan akhir cerita yang berbeda, termasuk konsekuensi terhadap lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.
BALADA BHUMI Jadikan Tradisi Konservasi sebagai Bagian Permainan
BALADA BHUMI mengangkat lima praktik kearifan lokal yang berkaitan dengan pelestarian alam di Indonesia. Kelima tradisi tersebut meliputi Lubuk Larangan dari Riau, Panglima Laot dari Aceh, Tana’ Ulen dari Kalimantan, Sasi dari Maluku, dan Subak dari Bali.
Tim tidak sekadar menampilkan tradisi tersebut sebagai latar visual atau pelengkap cerita. Mereka menjadikan prinsip-prinsip kearifan lokal sebagai bagian dari mekanisme permainan.
Dengan pendekatan itu, pemain berperan langsung dalam menghadapi persoalan ekologis. Mereka perlu mempertimbangkan pilihan yang berpengaruh terhadap keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat adat.
Zidane menjelaskan bahwa konsep tersebut menjadi salah satu unsur pembeda BALADA BHUMI. Menurutnya, budaya tidak seharusnya hanya menjadi dekorasi dalam permainan edukasi lingkungan.
“Kalau ditanya kebaharuan dalam gim ini adalah kita tidak semata menggunakan budya sebagai dekorasi atau sebagai alat pasif dalam mengajarkan cinta atau menjaga keberlangsungan lingkungan. Tapi kita menjadikannya sebagai alat aktif yakni game dengan konteks budaya, hidup ditengah masyarakat adat, dan menjadi pemain utama dalam menentukan keputusan yang berdampak langsung pada masyarakat,” jelas Zidane.
Pilihan Pemain Menentukan Nasib Lingkungan dan Masyarakat
Salah satu inspirasi permainan berasal dari tradisi Lubuk Larangan di Riau. Tradisi ini mengatur pemanfaatan sumber daya sungai melalui kesepakatan dan batasan yang masyarakat jalankan bersama.
Prinsip tersebut memperlihatkan bahwa konservasi tidak hanya bergantung pada aturan, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan partisipasi warga. Masyarakat memiliki peran dalam menjaga sumber daya alam sekaligus mengatur pemanfaatannya agar tetap berkelanjutan.
Zidane menjelaskan bahwa Lubuk Larangan mengajarkan pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan dan perlindungan alam.
“Pada dasarnya si Lubuk larangan ini menjadi sebuah cara bagaimana masyarakat secara kolektif memanfaatkan sekaligus menjaga daripada keawetan atau kelangsungan dari alam tersebut,” tuturnya.
Prinsip serupa hadir dalam mekanisme BALADA BHUMI. Pemain akan menghadapi sejumlah dilema, salah satunya keputusan untuk menjual tanah, mengelolanya secara bersama, atau mempertahankannya.
Setiap pilihan membawa konsekuensi berbeda. Keputusan pemain dapat mengarahkan cerita menuju good ending atau bad ending, bergantung pada dampak sosial dan ekologis yang muncul.
Melalui mekanisme tersebut, pemain tidak hanya mengikuti jalan cerita. Mereka juga diajak memahami bahwa keputusan terkait sumber daya alam dapat memengaruhi kehidupan banyak pihak.
Prototipe BALADA BHUMI Sudah Diuji di Sekolah Malang
Tim pengembang telah membawa prototipe BALADA BHUMI ke sebuah sekolah di Malang untuk menguji konsep permainan. Zidane menyebut pengujian awal tersebut memberikan hasil yang optimal.
“Jika sudah ok maka akan ekspansi lebih luas. Tapi sebenarnya kami sudah pernah menguji ini ke sebuah sekolah di Malang dan hasilnya optimal,” pungkas Zidane.
Meski telah menjalani pengujian awal, tim masih perlu menyempurnakan sejumlah aspek sebelum memperluas penggunaan game. Mereka menargetkan validasi dari ahli budaya dan desainer game untuk memastikan ketepatan representasi tradisi serta kualitas mekanisme permainan.
Tim juga merencanakan playtesting bersama masyarakat. Tahap ini penting untuk memperoleh masukan langsung mengenai pengalaman bermain, pemahaman cerita, dan kesesuaian materi budaya yang mereka angkat.
Berdasarkan sumber laman resmi UNAIR, BALADA BHUMI masih berada dalam tahap pengembangan prototipe. Tim berencana mematangkan desain permainan, memperkuat alur cerita, serta memperdalam kajian kebudayaan sebelum memperluas jangkauan penggunaannya.
Kembangkan Game Edukasi Berbasis Budaya Nusantara
Pengembangan BALADA BHUMI membutuhkan proses yang tidak hanya berfokus pada aspek teknologi. Tim juga perlu memastikan setiap tradisi yang masuk ke dalam permainan memiliki dasar kajian budaya yang memadai.
Validasi ahli dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar permainan tidak menyederhanakan nilai atau praktik adat. Dengan begitu, unsur edukasi dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap budaya yang menjadi sumber inspirasi.
Selain penyempurnaan desain dan cerita, pendanaan juga menjadi salah satu kebutuhan untuk mendukung pengembangan selanjutnya. Tim berharap dapat merealisasikan BALADA BHUMI sebagai media pembelajaran interaktif yang menjangkau lebih banyak pengguna.
Inovasi ini memperlihatkan peluang pemanfaatan game sebagai sarana edukasi lingkungan. Melalui cerita dan pilihan interaktif, mahasiswa berupaya mengenalkan nilai konservasi Nusantara dengan pendekatan yang lebih dekat dengan pengalaman pemain.
Jika pengembangannya berjalan sesuai rencana, BALADA BHUMI berpotensi menjadi media untuk memperkenalkan kearifan lokal sekaligus mengajak generasi muda memahami hubungan antara manusia, budaya, dan kelestarian alam.

