Mahasiswa UB Hadirkan Rak Tanam Vertikal dan Rainwater Harvesting untuk Urban Farming Malang

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya menghadirkan inovasi teknologi tepat guna untuk mendukung pertanian perkotaan atau urban farming di Kota Malang.

Melalui Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) Kelompok 47, mahasiswa mengembangkan rak tanam vertikal yang terintegrasi dengan sistem rainwater harvesting dan irigasi tetes.

Inovasi tersebut diterapkan pada greenhouse RW 6 Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Program ini memanfaatkan ruang terbatas sekaligus mendorong penggunaan air secara lebih efisien.

Berdasarkan sumber Universitas Brawijaya, inovasi tersebut hadir untuk menjawab sejumlah kendala dalam pengelolaan greenhouse.

Greenhouse Sukoharjo Punya Lahan Terbatas

Ketua Kelompok 47, Rhafelin Agadya Mafiskaputri, menjelaskan kondisi greenhouse sebelumnya belum optimal.

Sebagian area masih kosong. Selain itu, sistem penyiraman masih mengandalkan air hujan dan sumber air dari rumah warga sekitar.

Kondisi tersebut menjadi kendala ketika masyarakat ingin mengelola greenhouse secara rutin. Akses air yang terbatas juga membuat proses budidaya membutuhkan solusi yang lebih efisien.

Karena itu, mahasiswa merancang teknologi yang sederhana dan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.

Rak Vertikal Maksimalkan Ruang Tanam

Salah satu inovasi utama dalam program ini berupa rak tanam vertikal.

Rak tersebut memungkinkan masyarakat menambah jumlah tanaman tanpa memperluas area greenhouse. Dengan pola vertikal, ruang yang sebelumnya kosong dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

“Rak tanam vertikal sengaja kami terapkan untuk memaksimalkan penggunaan ruang pada greenhouse sehingga jumlah tanaman yang dapat dibudidayakan dapat ditingkatkan tanpa membutuhkan perluasan lahan,” jelas Rhafelin.

Rak tersebut juga membantu masyarakat menata tanaman secara lebih terorganisasi.

Berbagai tanaman hortikultura, herbal, rempah, dan tanaman fungsional dapat ditempatkan pada rak. Dengan begitu, proses perawatan dan pemantauan pertumbuhan tanaman menjadi lebih mudah.

Tampung Air Hujan untuk Kebutuhan Tanaman

Selain rak vertikal, mahasiswa juga menerapkan rainwater harvesting.

Sistem ini menampung air hujan ke dalam tandon. Air tersebut kemudian menjadi sumber air alternatif untuk kebutuhan budidaya di greenhouse.

Selanjutnya, sistem irigasi tetes menyalurkan air dari tandon menuju tanaman. Jaringan pipa, selang, dan dripper mengarahkan air langsung ke area perakaran.

Cara tersebut membuat distribusi air lebih terarah. Tanaman memperoleh air sesuai kebutuhan tanpa harus menyiram seluruh area greenhouse.

Penggunaan sistem ini juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber air dari rumah warga. Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan air hujan sebagai sumber daya yang sebelumnya belum terkelola secara maksimal.

Irigasi Tetes Bantu Hemat Air

Sistem irigasi tetes menjadi bagian penting dari inovasi tersebut.

Berbeda dengan penyiraman secara manual, sistem ini mengalirkan air langsung menuju area akar tanaman. Dengan demikian, penggunaan air dapat berlangsung lebih efisien.

Teknologi tersebut juga memudahkan masyarakat dalam melakukan perawatan tanaman. Mereka dapat mengatur distribusi air melalui jaringan yang sudah terpasang.

Pada akhirnya, kombinasi rainwater harvesting dan irigasi tetes mendukung pengelolaan air yang lebih hemat sekaligus berkelanjutan.

Mahasiswa Libatkan Warga dalam Penerapan Teknologi

Pelaksanaan program tidak berhenti pada pemasangan fasilitas.

Mahasiswa menjalankan beberapa tahapan secara bertahap. Proses tersebut dimulai dari observasi dan identifikasi masalah di lapangan.

Selanjutnya, mahasiswa merancang sistem sesuai kebutuhan mitra. Mereka kemudian membuat dan memasang rak tanam vertikal.

Tim juga memasang sistem rainwater harvesting dan irigasi tetes. Setelah itu, mahasiswa melakukan penanaman serta uji coba sistem.

Tahap berikutnya mencakup sosialisasi dan evaluasi bersama masyarakat.

Masyarakat dan kader lingkungan RW 6 turut terlibat dalam proses tersebut. Keterlibatan ini bertujuan memastikan warga memahami cara menggunakan dan merawat teknologi secara mandiri.

Urban Farming Jadi Lebih Produktif

Melalui inovasi tersebut, greenhouse RW 6 Kelurahan Sukoharjo memiliki peluang untuk berkembang menjadi area urban farming yang lebih produktif dan tertata.

Rak vertikal membantu mengoptimalkan lahan. Sementara itu, sistem penampungan air hujan dan irigasi tetes membantu masyarakat mengelola sumber air secara lebih efisien.

Selain manfaat lingkungan, hasil budidaya juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dengan pengelolaan yang konsisten, greenhouse dapat menjadi ruang produktif untuk menghasilkan tanaman hortikultura, herbal, rempah, dan tanaman fungsional.

Program mahasiswa FTAB Universitas Brawijaya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa teknologi sederhana dapat menjawab kebutuhan masyarakat perkotaan.

Pemanfaatan lahan sempit, pengelolaan air hujan, dan budidaya tanaman dapat berjalan bersamaan. Karena itu, inovasi seperti ini berpotensi mendukung pengembangan pertanian perkotaan yang lebih berkelanjutan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article