EDUCARE.CO.ID – Sekolah di DKI Jakarta mulai mendapat akses khusus untuk mengelola sampah elektronik atau e-waste. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PT Daur Ulang Sampah Elektronik (EwasteRJ) meluncurkan E-Waste School Movement sebagai gerakan edukasi sekaligus aksi nyata di lingkungan sekolah.
Program tersebut mengajak siswa dan guru memahami bahaya serta pentingnya pengelolaan sampah elektronik. Selain edukasi, program ini juga menyediakan jalur pengumpulan agar warga sekolah dapat membuang e-waste secara lebih bertanggung jawab.
Peluncuran E-Waste School Movement berlangsung di SMAN 68 Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Sekolah Dapat Tempat Khusus untuk E-Waste
Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat, Data dan Informasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Elisabeth Tarigan mengatakan program tersebut menjadi bagian dari gerakan memilah sampah.
Kali ini, gerakan tersebut secara khusus menyasar sampah elektronik yang sering kali belum mendapat jalur pengelolaan yang jelas.
“Jadi, ini adalah sebagai salah satu langkah kepedulian yang berkait dengan gerakan pengelolaan sampah, gerakan pilah sampah, khususnya di sini adalah mengenai sampah elektronik,” kata Elisabeth di SMAN 68 Jakarta.
Melalui program ini, setiap sekolah peserta akan mendapat satu titik pengumpulan sampah elektronik.
Siswa maupun guru dapat membawa e-waste dari lingkungan sekolah maupun rumah. Selanjutnya, mereka dapat memasukkannya ke tempat yang sudah tersedia.
Dengan begitu, sekolah tidak hanya mengajarkan konsep pemilahan sampah. Sekolah juga menyediakan akses nyata untuk menerapkan kebiasaan tersebut.
EwasteRJ Jemput dan Daur Ulang Sampah
Setelah tempat pengumpulan terisi, EwasteRJ akan mengambil sampah elektronik tersebut.
Perusahaan kemudian mengirimkan e-waste kepada mitra pengolahan untuk menjalani proses daur ulang.
Elisabeth berharap kebiasaan tersebut dapat tumbuh dari lingkungan sekolah.
Ia menggambarkan kemungkinan siswa mulai membawa sampah elektronik dari rumah setelah mengetahui sekolah menyediakan tempat khusus.
“Kalau ternyata ada di sekolah, ‘oh di sekolah saya juga ada. Pak, sini aku bawa ke sekolah. Bisa aku buang di sekolah’,” ujarnya.
Dengan pola tersebut, sekolah dapat menjadi titik awal perubahan kebiasaan pengelolaan e-waste di kalangan generasi muda.
Program Awal Menyasar Sekolah Adiwiyata
Pada tahap awal, E-Waste School Movement menyasar sekolah yang memiliki predikat Adiwiyata.
Sekolah Adiwiyata memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan aktif menjalankan berbagai kegiatan pelestarian lingkungan hidup.
Elisabeth mengatakan pendekatan tersebut menjadi langkah awal sebelum program berkembang ke lebih banyak sekolah.
“Terus nanti mungkin umumnya orang lain bisa berinspirasi. Mungkin kalau kami diharapkan dari sekolah, seluruh sekolah dulu karena ini kan baru 400 sekolah,” ungkapnya.
Data portal SIDIA DLH DKI Jakarta mencatat terdapat 481 Sekolah Adiwiyata di Jakarta. Jaringan tersebut menjadi ekosistem awal untuk memperluas gerakan pengelolaan sampah elektronik.
Data E-Waste Jakarta Masih Terus Dipetakan
DLH DKI Jakarta belum menyampaikan data rinci mengenai jumlah e-waste yang dihasilkan masyarakat Jakarta.
Namun, Elisabeth menegaskan bahwa sampah elektronik tetap membutuhkan pengelolaan khusus. Pemerintah ingin memastikan sampah tersebut masuk ke jalur pengolahan yang tepat.
“Diharapkan dengan ini kita jadi memiliki, ya tadi itu bisa lebih jelas ke mana, karena sudah terdata, dan itu bisa menjadi bagian dari kita tahu ke mana kita harus mengolahnya,” jelas Elisabeth.
Karena itu, titik pengumpulan di sekolah juga memiliki fungsi penting. Pemerintah dapat memperoleh gambaran mengenai jenis dan jumlah sampah elektronik yang masuk melalui sistem tersebut.
EwasteRJ Dorong Edukasi Siklus Hidup Perangkat
Pendiri EwasteRJ Rafa Jafar mengatakan perusahaan tidak ingin program ini berhenti pada kegiatan mengumpulkan sampah.
EwasteRJ juga membawa edukasi mengenai siklus hidup perangkat atau lifecycle. Siswa diajak mengenali jenis-jenis sampah elektronik dan memahami jalur pengelolaannya.
Selain itu, EwasteRJ menempatkan dropbox khusus e-waste di lingkungan sekolah.
“Peran EwasteRJ bukan hanya mengumpulkan dan mendaur ulang sampah elektronik. Kami ingin membangun infrastruktur sosial agar masyarakat, khususnya generasi muda, memahami e-waste dan terbiasa membuang sampah elektronik melalui jalur yang benar,” kata Rafa.
Menurutnya, edukasi menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan baru.
Targetnya Bukan Sekadar Program Sementara
Rafa menekankan bahwa E-Waste School Movement tidak hanya mengejar perubahan dalam satu kegiatan.
Program tersebut ingin membangun kebiasaan yang bertahan dalam jangka panjang.
“Edukasi menjadi landasannya, karena perubahan yang kami inginkan bukan untuk satu hari atau satu kegiatan, tetapi menjadi kebiasaan dalam jangka panjang,” lanjutnya.
Karena itu, EwasteRJ akan memantau pelaksanaan program di setiap sekolah.
Pemantauan mencakup penggunaan dropbox, jenis dan volume e-waste, tingkat pemilahan, hingga kebutuhan layanan penjemputan atau pickup.
Tim juga akan menampung masukan dari sekolah. Hasil evaluasi tersebut dapat membantu EwasteRJ memperbaiki model operasional sebelum program berkembang lebih luas.
Jakarta Jadi Model Awal Pengelolaan E-Waste di Sekolah
Jakarta menjadi kota awal dalam pengembangan model E-Waste School Movement.
Kolaborasi antara DLH DKI Jakarta, Dinas Pendidikan, dan EwasteRJ menjadi dasar untuk mengembangkan sistem pengelolaan e-waste di lingkungan pendidikan.
Ke depan, model tersebut dapat diterapkan di sekolah dan institusi pendidikan lain.
Rafa mengatakan akses pengumpulan menjadi bagian penting dari proses tersebut. Menurutnya, edukasi akan lebih efektif jika masyarakat juga memiliki tempat untuk menerapkan pengetahuan yang mereka dapatkan.
“Pada saat yang sama, pendidikan harus didukung dengan akses yang nyata. Oleh karena itu, EwasteRJ juga membangun infrastruktur pengumpulan melalui dropbox dan layanan pickup untuk institusi pendidikan,” tutup Rafa.
Melalui E-Waste School Movement, sekolah di Jakarta mulai memiliki jalur khusus untuk mengelola sampah elektronik. Lebih dari itu, program ini mendorong siswa mengenal e-waste sejak dini dan membangun kebiasaan membuang perangkat elektronik melalui jalur yang tepat.
Jika program berjalan secara konsisten, lingkungan sekolah dapat menjadi salah satu titik penting dalam membangun budaya pengelolaan sampah elektronik di Jakarta.

