Mahasiswa Malang Bikin CookPlan, Belanja Bahan Masak Kini Bisa Sesuai Isi Dompet

Must read

EDUCARE.CO.ID – Uang bulanan mahasiswa kos sering kali menipis sebelum akhir bulan. Di sisi lain, kebiasaan membeli bahan makanan melebihi kebutuhan juga dapat meningkatkan jumlah pangan yang terbuang.

Persoalan tersebut mendorong lima mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara atau Kampus ABM Malang mengembangkan CookPlan.

Platform digital ini membantu pengguna menentukan menu dan kebutuhan bahan masakan berdasarkan anggaran yang mereka miliki. Dengan cara tersebut, mahasiswa dapat mengatur belanja sekaligus mengurangi pembelian bahan pangan secara berlebihan.

Inovasi tersebut lahir melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K). Proposal tim mendapat pembiayaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Ditjen Dikti pada Mei 2026.

CookPlan Lahir dari Masalah Sampah Makanan

Gagasan CookPlan berangkat dari persoalan sampah makanan di Indonesia.

Sepanjang 2024, Indonesia menghasilkan sekitar 14,7 juta ton sampah makanan. Jumlah tersebut juga menimbulkan kerugian ekonomi yang mencapai sekitar Rp500 triliun.

Data tersebut mendorong tim CookPlan mencari solusi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka kemudian melihat kebiasaan mahasiswa kos yang sering membeli bahan makanan tanpa perhitungan kebutuhan.

Ketua tim CookPlan, Zilfi Alvin Mubarok, mengatakan persoalan sampah makanan menjadi salah satu alasan utama tim mengembangkan platform tersebut.

“Website CookPlan ini berawal dari keprihatinan kami terhadap banyaknya jumlah sampah makanan yang dihasilkan Indonesia yang sudah memprihatinkan,” ujar Zilfi, Rabu (23/9/2026).

Bersama Nanda Maharani, Irma Ramadia Hakim, Tri Khusnul Hidayati, dan Tiara Eka Wahyuningayu Vasha, Zilfi mengembangkan situs tersebut hingga mulai beroperasi pada 4 Juli 2026.

Masukkan Anggaran, CookPlan Susun Rekomendasi Menu

CookPlan menggunakan sistem kalkulasi untuk menyesuaikan kebutuhan belanja dengan kemampuan pengguna.

Pengguna cukup memasukkan jumlah uang yang tersedia. Setelah itu, platform memberikan rekomendasi menu dan bahan masakan sesuai anggaran tersebut.

Misalnya, mahasiswa hanya memiliki Rp30 ribu untuk kebutuhan memasak. CookPlan akan memberikan pilihan menu beserta bahan yang menyesuaikan batas tersebut.

Tiara Eka Wahyuningayu Vasha menjelaskan bahwa fitur tersebut menjadi salah satu fungsi utama CookPlan.

“Kalau ada mahasiswa yang hanya memiliki uang Rp30 ribu, website CookPlan akan memberikan saran menu dan bahan masakan yang sesuai dengan anggaran tersebut,” jelas Tiara.

Sistem tersebut membantu pengguna menghindari belanja bahan yang tidak mereka perlukan. Mahasiswa juga dapat memperkirakan kebutuhan sebelum membeli bahan makanan.

Belanja Lebih Terukur, Makanan Tidak Banyak Terbuang

Kebiasaan membeli bahan makanan dalam jumlah berlebihan menjadi salah satu persoalan yang tim CookPlan soroti.

Nanda Maharani mengatakan masyarakat sering membeli bahan masakan melebihi kebutuhan.

“Biasanya kita belanja bahan masakan melebihi kebutuhan,” ujar Nanda.

Kondisi tersebut tidak hanya membuat bahan makanan tersisa. Pengeluaran juga ikut meningkat karena pengguna membeli barang yang akhirnya tidak terpakai.

Karena itu, CookPlan mendorong pengguna menghitung kebutuhan sejak awal. Dengan belanja yang lebih terukur, pengguna dapat menyesuaikan jumlah bahan dengan menu dan anggaran.

“Dengan mengikuti saran dari website CookPlan, makanan yang terbuang bisa sangat sedikit karena bahan yang dibeli lebih terukur,” tambah Nanda.

CookPlan Gandeng Pedagang Pasar Blimbing

CookPlan tidak berhenti sebagai platform rekomendasi menu. Tim mahasiswa juga membangun jaringan pemasok untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan pengguna.

Mereka menggandeng sejumlah pedagang sayur di Pasar Blimbing, Kota Malang, sebagai pemasok bahan masakan.

Tiara menjelaskan bahwa kerja sama tersebut memungkinkan tim memenuhi pesanan bahan yang pengguna pilih melalui CookPlan.

“Kami sudah bekerja sama dengan beberapa pedagang di Pasar Blimbing untuk memenuhi kebutuhan bahan masakan yang dipesan pengguna,” ungkap Tiara.

Tim kemudian menyiapkan layanan pengantaran melalui kurir. Bahan masakan segar dapat langsung dikirim ke tempat tinggal mahasiswa yang memesan.

Skema tersebut membuat CookPlan menghubungkan tiga kebutuhan sekaligus: mahasiswa memperoleh bahan sesuai anggaran, pedagang mendapat pesanan, dan tim ikut membantu mengurangi pembelian pangan secara berlebihan.

Lebih dari 60 Pengguna Bergabung

Pengembangan CookPlan mendapat respons dari pengguna sejak platform mulai berjalan.

Hingga September 2026, lebih dari 60 orang telah mendaftar sebagai anggota aktif. Situs tersebut juga mencatat sekitar 300 kunjungan setiap bulan.

Program tersebut berada di bawah bimbingan Dr. Uke Prajogo, STP, MM, CMA.

Angka pengguna tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan CookPlan sebagai proyek kewirausahaan mahasiswa. Tim masih memiliki ruang untuk memperluas layanan sekaligus memperkuat jaringan pemasok.

Dari Masalah Mahasiswa Jadi Solusi Digital

CookPlan memperlihatkan bagaimana mahasiswa dapat mengubah persoalan sehari-hari menjadi peluang inovasi.

Mahasiswa kos menjadi target utama karena mereka perlu mengatur uang makan, menentukan menu, dan membeli bahan dalam jumlah yang sesuai.

Pada saat yang sama, platform tersebut membawa misi lain, yaitu mengurangi pemborosan pangan.

Dengan mempertemukan mahasiswa, pedagang pasar, dan layanan pengantaran, CookPlan membangun ekosistem sederhana yang menghubungkan kebutuhan konsumen dengan pemasok lokal.

Jika pengembangan platform terus berlanjut, CookPlan berpeluang menjadi alternatif bagi mahasiswa yang ingin mengatur belanja makanan secara lebih terencana.

Bagi mahasiswa kos, perencanaan belanja dapat membantu menjaga anggaran. Bagi pedagang pasar, sistem tersebut membuka tambahan saluran pesanan. Sementara bagi lingkungan, belanja sesuai kebutuhan dapat membantu mengurangi potensi makanan terbuang.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article