Mahasiswa Teknik Elektro ITS Juara 1 Internasional, Bikin Strategi Daur Ulang Baterai EV

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mencatat prestasi di kompetisi internasional. Kali ini, mahasiswa Teknik Elektro ITS mengembangkan strategi bisnis untuk menjawab persoalan daur ulang baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV).

Maheswara Yogha Putra Al Ardha, mahasiswa S1 Teknik Elektro ITS angkatan 2023, bersama tim JavaneseSmile berhasil meraih posisi 1st Place/Champion dalam IEEE BIG 2026 Business Case Competition.

Tim tersebut beranggotakan Maheswara, Marva Prayata, dan Raffi Muhammad.

Kompetisi IEEE Brilliant Ideas Generator (BIG) 2026 diselenggarakan oleh IEEE ITS Student Branch. Dalam kompetisi tersebut, peserta mendapat studi kasus perusahaan fiktif EcoBat yang menghadapi persoalan pengelolaan baterai kendaraan listrik yang sudah mencapai akhir masa pakai.

Tim JavaneseSmile menawarkan solusi yang menggabungkan strategi bisnis, teknologi digital, dan konsep ekonomi sirkular.

Tantangan Daur Ulang Baterai EV Jadi Fokus Kompetisi

Studi kasus EcoBat membawa tim JavaneseSmile pada persoalan yang semakin relevan seiring pertumbuhan kendaraan listrik.

Baterai EV yang sudah mencapai akhir masa pakai membutuhkan sistem pengelolaan yang tepat. EcoBat menghadapi tantangan untuk meningkatkan pengembalian baterai sekaligus mencegah baterai bekas masuk ke pasar ilegal.

Selain itu, perusahaan perlu mengembalikan material bernilai tinggi ke dalam rantai pasok. Material tersebut antara lain lithium, nikel, dan kobalt.

Tim JavaneseSmile kemudian melihat persoalan tersebut tidak hanya dari sisi teknis. Mereka juga mempertimbangkan perilaku konsumen, operasional perusahaan, kondisi finansial, regulasi, hingga dampak lingkungan.

Mahasiswa Teknik Elektro Keluar dari Perspektif Teknis

Maheswara mengikuti kompetisi tersebut karena tertarik dengan persoalan yang berada di antara teknologi, bisnis, keberlanjutan, dan transisi energi.

Sebagai mahasiswa Teknik Elektro, ia melihat perkembangan kendaraan listrik tidak cukup hanya melalui aspek teknologi.

Ekosistem bisnis dan rantai pasok juga perlu berjalan secara berkelanjutan. Karena itu, kompetisi tersebut menjadi kesempatan bagi tim untuk mengembangkan pendekatan multidisiplin.

Mereka mencoba memahami persoalan dari sudut pandang konsumen, operasional, finansial, regulasi, hingga lingkungan.

Pendekatan tersebut membuat tim tidak hanya mencari teknologi baru. Mereka juga mencari model bisnis yang mampu menjawab persoalan secara menyeluruh.

JavaneseSmile Bedah Akar Masalah EcoBat

Tim memulai proses dengan mempelajari kondisi EcoBat. Mereka kemudian mencari penyebab utama yang menghambat perusahaan dalam mengelola baterai end-of-life.

Untuk memperkuat analisis, tim menggunakan sejumlah kerangka kerja profesional. Mereka memanfaatkan SCQA, 5 Whys, Issue Tree, dan PESTLE Analysis.

Hasil analisis menunjukkan tiga kelompok persoalan utama.

Pertama, perilaku konsumen yang memengaruhi tingkat pengembalian baterai. Kedua, ketidakefisienan operasional dalam proses pengumpulan dan pengelolaan baterai. Ketiga, kebocoran pasar yang membuka peluang masuknya baterai bekas ke jalur ilegal.

Dari analisis tersebut, tim menemukan akar persoalan yang lebih mendasar. Mereka melihat adanya ketidaksesuaian antara perilaku konsumen, struktur insentif, dan aksesibilitas sistem.

Kondisi tersebut membuat EcoBat kesulitan menangkap aliran baterai yang sudah mencapai akhir masa pakai.

CBRE Jadi Solusi Daur Ulang Baterai EV

Untuk menjawab persoalan tersebut, JavaneseSmile memperkenalkan Circular Battery Recovery Ecosystem (CBRE).

Solusi tersebut menggabungkan tiga komponen utama.

1. Jaringan Pengumpulan Terdesentralisasi

Tim mengusulkan Mini Hubs yang tersebar di berbagai lokasi. Jaringan tersebut dapat mendekatkan titik pengumpulan baterai dengan pengguna.

Pendekatan ini diharapkan membuat proses pengembalian baterai lebih mudah dan praktis.

2. Insentif Finansial bagi Konsumen

CBRE juga menawarkan skema insentif seperti program trade-in.

Insentif tersebut dapat mendorong konsumen mengembalikan baterai melalui jalur resmi. Dengan demikian, perusahaan memiliki peluang lebih besar untuk mengumpulkan baterai end-of-life.

3. Digital Lifecycle Tracking

Komponen ketiga menggunakan sistem digital lifecycle tracking.

Sistem tersebut membantu perusahaan memantau perjalanan baterai dalam proses pengumpulan dan daur ulang. Transparansi data juga dapat membantu mengurangi risiko kebocoran baterai ke pasar ilegal.

Target Pengembalian Baterai Capai 75 Persen

Tim JavaneseSmile menyusun roadmap implementasi CBRE selama tiga tahun.

Pada tahun pertama, mereka menargetkan tingkat pengembalian baterai mencapai 25 persen.

Target tersebut kemudian meningkat menjadi 50 persen pada tahun kedua. Pada tahun ketiga, tim memproyeksikan tingkat pengembalian dapat mencapai 75 persen.

Selain meningkatkan pengumpulan baterai, solusi CBRE juga memiliki potensi pemulihan material bernilai tinggi hingga sekitar 95 persen.

Tim turut memproyeksikan potensi penurunan Cost of Goods Sold (COGS) hingga sekitar Rp4,4 juta per unit.

Presentasi Bahasa Inggris Jadi Tantangan Tersendiri

Perjalanan tim menuju juara tidak berlangsung tanpa tantangan. Salah satu tantangan utama muncul ketika mereka harus menyederhanakan analisis yang kompleks.

Tim perlu menyampaikan strategi secara ringkas. Pada saat yang sama, setiap argumen harus tetap kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Mereka juga harus mempresentasikan solusi dalam bahasa Inggris.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, setiap anggota membagi peran sesuai dengan kekuatan masing-masing. Mereka juga rutin melakukan cross-check terhadap hasil analisis.

Tim kemudian menjalani beberapa sesi latihan presentasi dan simulasi tanya jawab.

Chemistry Tim Jadi Kunci Keberhasilan

Kolaborasi menjadi bagian penting dalam perjalanan JavaneseSmile.

Setiap anggota mendapat ruang untuk mengkritik dan mengembangkan gagasan. Mereka juga tidak memaksakan satu ide ketika analisis menunjukkan perlunya perubahan.

Cara kerja tersebut membantu tim menyempurnakan solusi sebelum menghadapi juri.

Bagi mereka, kemenangan tidak hanya lahir dari gagasan yang menarik. Proses riset, pembagian peran, latihan, komunikasi, dan keterbukaan terhadap kritik ikut menentukan hasil akhir.

Mahasiswa Engineering Bisa Kuasai Strategi Bisnis

Maheswara menilai pencapaian tersebut memiliki makna lebih luas bagi mahasiswa teknik.

“Pencapaian terbesar bukan hanya gelar juara, melainkan pembuktian bahwa mahasiswa dengan latar belakang engineering juga dapat mengembangkan kemampuan multidisiplin dalam business strategy, sustainability, financial thinking, dan communication,” ungkap Maheswara Yogha Putra Al Ardha.

Prestasi JavaneseSmile memperlihatkan bahwa mahasiswa teknik dapat mengembangkan perspektif di luar bidang teknis.

Dalam isu kendaraan listrik, kemampuan tersebut semakin relevan. Transisi energi membutuhkan kolaborasi antara teknologi, bisnis, kebijakan, pengelolaan sumber daya, dan keberlanjutan.

Melalui inovasi CBRE, mahasiswa ITS mencoba menjawab salah satu tantangan tersebut dari sisi pengelolaan baterai kendaraan listrik.

Kemenangan di IEEE BIG 2026 sekaligus menjadi pengalaman bagi tim JavaneseSmile untuk membawa kemampuan engineering ke ranah strategi bisnis dan keberlanjutan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article