EDUCARE.CO.ID – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mengembangkan SUN-WRAP, konsep kemasan pintar berbahan alami yang dirancang untuk membantu menjaga kualitas dan memantau kesegaran bahan pangan hewani. Inovasi ini mengantarkan mereka meraih Juara 1 dalam ajang Kreativitas dan Inovasi (KRENOVA) Kota Balikpapan 2026.
Tim SUN-WRAP terdiri atas Adam Al Farizie, mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan angkatan 2024, sebagai ketua. Ia bekerja bersama Tatia Asnur Syafitri dari angkatan 2023 dan Meisyifa Caesariasari Sabowo dari angkatan 2025. Dosen Yuvita Lira Vesti Arista, S.T.P., M.Si., mendampingi mereka selama pengembangan inovasi.
Lewat SUN-WRAP, tim mengangkat potensi daun sungkai dan bahan alami lainnya untuk menjawab dua persoalan di sektor pangan, yaitu kerusakan bahan makanan dan ketergantungan pada plastik konvensional yang sulit terurai.
SUN-WRAP Gabungkan Daun Sungkai dan Antosianin
Tim mengembangkan SUN-WRAP melalui penelitian berjudul “SUN-WRAP: Inovasi Smart Bio-Packaging Berbasis Daun Sungkai dan Antosianin sebagai Solusi Perpanjangan Masa Simpan dan Monitoring Kesegaran Protein UMKM Balikpapan”.
Konsep kemasan ini menggunakan pati singkong sebagai bahan dasar. Tim kemudian memanfaatkan ekstrak daun sungkai sebagai komponen antimikroba dan antosianin dari ubi ungu sebagai indikator alami untuk menunjukkan perubahan kondisi kesegaran pangan melalui perubahan warna.
Kombinasi tersebut menjadi dasar pengembangan smart bio-packaging dengan dua fungsi utama. Kemasan ini dirancang untuk membantu mempertahankan kualitas bahan pangan sekaligus memberikan petunjuk visual mengenai perubahan kondisinya.
Berdasarkan sumber Institut Teknologi Kalimantan, inovasi ini menggabungkan potensi bahan hayati lokal dengan kebutuhan pengemasan pangan. Meski demikian, tim masih perlu menguji efektivitas komponen antimikroba, ketepatan indikator warna, dan kemampuan kemasan dalam memperpanjang masa simpan produk.
Hasil pengujian tersebut akan membantu tim menentukan batas penggunaan SUN-WRAP. Dengan demikian, pengembangan kemasan tidak hanya mengandalkan konsep inovatif, tetapi juga memiliki dasar ilmiah yang mendukung manfaatnya.
Manfaatkan Potensi Bahan Hayati Lokal Kalimantan
Pemilihan daun sungkai menunjukkan peluang pemanfaatan sumber daya hayati lokal untuk pengembangan teknologi pangan. Melalui SUN-WRAP, mahasiswa ITK mengeksplorasi kemungkinan penggunaan tanaman yang tumbuh di lingkungan Kalimantan sebagai salah satu komponen kemasan.
Selain daun sungkai, pati singkong dan antosianin dari ubi ungu turut memperkaya pendekatan berbasis bahan alam. Kombinasi tersebut membuka peluang penelitian mengenai karakteristik material, daya tahan kemasan, serta efektivitasnya dalam berbagai kondisi penyimpanan.
Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), SUN-WRAP menawarkan konsep yang dapat membantu pemantauan kualitas bahan baku. Indikator perubahan warna berpotensi memberikan informasi visual tentang perubahan kondisi pangan. Namun, pelaku usaha tetap memerlukan prosedur pemeriksaan yang tepat untuk memastikan keamanan produk sebelum mengolah atau menjualnya.
Di sisi lain, penggunaan pati singkong sebagai bahan dasar juga membuka ruang pengembangan alternatif kemasan selain plastik konvensional. Tim perlu mengkaji karakteristik material, biaya produksi, dan proses penguraiannya untuk mengetahui sejauh mana kemasan tersebut dapat mendukung upaya pengurangan sampah plastik.
Persiapan Purwarupa Bawa Tim Meraih Juara 1
Perjalanan menuju KRENOVA Balikpapan 2026 melibatkan sejumlah tahapan persiapan. Tim SUN-WRAP menyusun proposal, melakukan percobaan formulasi, dan membuat purwarupa untuk menerjemahkan gagasan mereka menjadi bentuk awal produk.
Melalui proses tersebut, para mahasiswa menerapkan pengetahuan teknologi pangan dalam pengembangan inovasi. Mereka juga mengevaluasi formulasi dan menyusun penjelasan mengenai potensi manfaat SUN-WRAP agar juri dapat memahami gagasan yang mereka tawarkan.
Kerja tim dan pendampingan dosen turut mendukung proses pengembangan tersebut. Selanjutnya, capaian Juara 1 memberi motivasi bagi mereka untuk menyempurnakan purwarupa dan melanjutkan penelitian.
Tim SUN-WRAP mengungkapkan rasa bangga atas pencapaian tersebut sekaligus berharap dapat membawa inovasi ini ke tahap pengembangan berikutnya.
“Kesannya sangat bangga dan bahagia. Harapannya, inovasi ini dapat terus dikembangkan dan diteliti lebih jauh,” ungkap tim SUN-WRAP.
Penghargaan ini menjadi pencapaian penting bagi para mahasiswa. Namun, mereka masih perlu membuktikan kinerja kemasan melalui pengujian terukur sebelum mengembangkan SUN-WRAP untuk kebutuhan industri pangan.
Peluang SUN-WRAP bagi UMKM dan Lingkungan
SUN-WRAP menawarkan peluang pengembangan teknologi kemasan yang menggabungkan kebutuhan pelaku usaha pangan dengan pemanfaatan bahan alami. Jika hasil penelitian mendukung efektivitasnya, inovasi ini dapat membantu UMKM mengeksplorasi metode pemantauan kesegaran bahan pangan yang lebih praktis.
Meski begitu, tim perlu menjawab sejumlah pertanyaan sebelum menawarkan produk kepada pelaku usaha. Mereka perlu menguji konsistensi perubahan warna, kemampuan kemasan mempertahankan mutu pangan, keamanan setiap bahan, dan ketahanan material selama penyimpanan.
Aspek biaya juga memegang peranan penting. Tim perlu menghitung kebutuhan bahan baku, proses produksi, dan pengemasan agar SUN-WRAP memiliki peluang untuk bersaing dengan alternatif yang sudah tersedia di pasar.
Dari sisi lingkungan, kemasan berbasis pati singkong dapat membuka pilihan material selain plastik konvensional. Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada karakteristik produk, metode pembuatan, serta kondisi penguraian setelah penggunaan. Karena itu, penelitian lanjutan perlu mengukur dampak lingkungan secara lebih menyeluruh.
Kemenangan KRENOVA Jadi Langkah Awal Pengembangan
Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Kota Balikpapan (Bappedalitbang Balikpapan) menyelenggarakan KRENOVA Kota Balikpapan 2026 sebagai ajang kreativitas dan inovasi. Melalui kompetisi ini, tim SUN-WRAP memperoleh pengakuan atas gagasan kemasan pangan yang mereka kembangkan.
Prestasi tersebut memperlihatkan upaya mahasiswa ITK dalam menghubungkan ilmu teknologi pangan dengan kebutuhan masyarakat. Mereka mengangkat bahan lokal sebagai bagian dari eksplorasi solusi untuk persoalan kualitas pangan dan penggunaan kemasan plastik.
Selanjutnya, tim perlu memperkuat penelitian melalui pengujian keamanan bahan, efektivitas antimikroba, ketepatan indikator warna, dan kemampuan kemasan dalam berbagai kondisi penyimpanan. Mereka juga perlu menilai biaya produksi serta kebutuhan UMKM agar dapat menentukan arah pengembangan yang realistis.
Dengan tahapan tersebut, SUN-WRAP berpeluang berkembang dari purwarupa menjadi alternatif teknologi kemasan pangan berbasis bahan hayati. Hasil penelitian dan kesiapan produksi akan menentukan manfaat nyata inovasi ini bagi pelaku UMKM dan masyarakat.

