Mahasiswa ITERA Kembangkan Pupuk dari Limbah Ikan, Tembus Final LKTIN Agriculture 2025

EduNews EduSchool

educare.co.id, Lampung – Rendi Satria Telaumbanua, mahasiswa Program Studi Sains Lingkungan Kelautan, Fakultas Sains, Institut Teknologi Sumatera (ITERA), mencatat prestasi membanggakan setelah berhasil masuk 10 besar finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) Agriculture 2025. Melalui karya inovatif berjudul Biogrow, ia memperkenalkan pupuk organik cair berbahan dasar limbah ikan dan mikroalga Chlorella sp.

Meski berasal dari latar belakang ilmu kelautan, Rendi berani mengikuti kompetisi bertema pertanian, bidang yang tidak secara langsung berkaitan dengan studinya.

“Awalnya saya ragu. Tapi saya pikir, kenapa tidak mencoba tantangan baru,” ujar Rendi, dalam siaran tertulis ITERA (28/5).

Gagasan Biogrow tidak lahir secara tiba-tiba. Rendi terinspirasi saat mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Balai Pengujian Kesehatan Ikan dan Lingkungan (BPKIL) Serang. Di sana, ia mempelajari potensi mikroalga Chlorella sp., organisme bernutrisi tinggi yang masih jarang dimanfaatkan dalam dunia pertanian Indonesia. Ia pun menggabungkannya dengan limbah ikan, komoditas berlimpah namun kerap terbuang sia-sia.

“Limbah ikan seringkali dibuang begitu saja. Padahal, Indonesia adalah negara maritim dengan produksi ikan yang melimpah. Sementara mikroalga punya potensi besar, tapi masih minim dimanfaatkan untuk pertanian,” jelasnya.

Menurut Rendi, Biogrow tak hanya menawarkan solusi ekologis, tetapi juga alternatif bagi petani dalam mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Karya ini ia susun melalui riset literatur dan diskusi dengan mahasiswa lintas kampus.

Di dominasi oleh peserta dari kampus ternama seperti UGM, IPB, ITB, dan Undip, Rendi sempat merasa kecil hati.

“Lawannya universitas besar semua—UGM, IPB, ITB, Undip, dan lainnya. Saya sempat hopeless,” katanya.

Namun, keberanian Rendi untuk mencoba membuahkan hasil. Biogrow berhasil menembus babak final dan masuk jajaran 10 besar, menjadi satu-satunya wakil dari program studi kelautan yang mencuat dalam ajang pertanian tersebut.

Bagi Rendi, lebih dari sekadar penghargaan, pengalaman ini memberikan pelajaran berharga tentang keberanian, kerja tim, dan manajemen waktu.

“Saya belajar bahwa kita tidak boleh minder dengan lawan besar. Yakin saja dengan kemampuan diri sendiri dan terus berusaha. Saya juga belajar pentingnya manajemen waktu dan kekuatan tim,” ungkapnya.

Ia berharap Biogrow dapat dikembangkan lebih lanjut dan tidak berhenti sebagai karya tulis belaka.

“Semoga ini jadi awal dari inovasi lintas sektor yang lebih luas,” harapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *