Mahasiswa ITB Raih Juara 2 Lomba Esai Gadjah Mada Agro Expo 2024 Berkat Gagasan Inovatif di Industri Sawit

Must read

educare.co.id, Bandung – Faiz Ijlal Ismawan, mahasiswa Program Studi Rekayasa Pertanian Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2021, berhasil meraih juara kedua dalam Lomba Esai Gadjah Mada Agro Expo (GMAE) 2024. Kompetisi ini mengangkat tema “Unveiling Palm Oil, Indonesia’s Green Gold” yang berfokus pada inovasi dan keberlanjutan di industri kelapa sawit.

Dalam esainya yang berjudul “PAIRS: Pemanfaatan Teknologi AI dan Remote Sensing Menuju Budidaya Kelapa Sawit yang Efektif dan Berkelanjutan”, Faiz menawarkan solusi teknologi untuk menjawab tantangan besar dalam industri sawit, mulai dari isu deforestasi hingga konflik sosial akibat ekspansi lahan.

Lomba Esai GMAE sendiri merupakan kompetisi terbuka bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk menuangkan ide serta gagasan dalam bentuk esai. Ajang ini digelar secara daring, dengan pendaftaran dibuka sejak 11 November 2024 dan puncak awarding dilaksanakan 14 Desember 2024. Melalui tema besar seputar inovasi di agroindustri, lomba ini menjadi wadah generasi muda menyumbangkan solusi kreatif bagi sektor pertanian Indonesia.

Faiz menyoroti pentingnya penerapan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan remote sensing dalam budidaya kelapa sawit. Mengingat permintaan global terhadap minyak kelapa sawit yang mencapai 77,9 juta ton pada 2023, industri ini dituntut semakin efisien dan ramah lingkungan.

Dalam esainya, Faiz menjelaskan bahwa teknologi remote sensing dapat dimanfaatkan untuk memantau lahan secara real-time menggunakan citra satelit dan sensor optik. Teknologi ini dinilai efektif dalam mengidentifikasi perubahan tutupan lahan serta mendeteksi potensi pembukaan hutan ilegal. RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) juga dapat memanfaatkan data ini untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan.

Selain itu, Faiz mengusulkan penerapan Convolutional Neural Network (CNN) dalam proses identifikasi perkebunan sawit, terutama di area dengan kepadatan pohon tinggi. Teknologi ini mampu membedakan lahan sawit dengan vegetasi lain serta menganalisis dampak lingkungan akibat ekspansi lahan.

Penggunaan drone (UAV) yang dilengkapi sensor dan kamera RGB juga ditawarkan Faiz untuk menciptakan virtual plantation atau pemetaan lahan tiga dimensi. Teknologi ini memungkinkan analisis kesehatan tanaman secara presisi, deteksi dini penyakit maupun defisiensi nutrisi, hingga prediksi waktu panen secara akurat demi efisiensi produksi.

“Saya melihat bahwa teknologi AI dan remote sensing memiliki potensi besar dalam mengoptimalkan sektor pertanian, khususnya dalam industri kelapa sawit. Sebagai mahasiswa Rekayasa Pertanian ITB, saya merasa penting untuk mengkaji bagaimana inovasi teknologi dapat diterapkan dalam pertanian presisi guna meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan. Dengan kemajuan teknologi digital saat ini, kita memiliki peluang besar untuk mendorong transformasi pertanian menuju sistem yang lebih cerdas dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, saya mengangkat tema ini dalam esai saya sebagai upaya untuk menggagas solusi yang dapat berdampak positif bagi industri pertanian di Indonesia,” ujar Faiz.

Keberhasilan Faiz dalam GMAE 2024 menunjukkan bahwa integrasi teknologi digital dalam pertanian bukan lagi sekadar konsep, tetapi menjadi kebutuhan mendesak di era industri modern. Pemanfaatan AI dan remote sensing diharapkan mampu mendorong budidaya kelapa sawit yang lebih presisi, efisien, ramah lingkungan, dan berdampak positif secara ekonomi bagi para pelaku industri.

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article