LARASTANI, Inovasi Mahasiswa UMC untuk Efisiensi Pemupukan Petani Cirebon

Must read

EDUCARE.CO.ID – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 10 Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menghadirkan solusi sederhana untuk membantu petani di Desa Ciledug Wetan, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon.

Mahasiswa mengembangkan LARASTANI, singkatan dari Inovasi Alat Penabur Pupuk untuk Mendukung Efisiensi Pertanian. Alat ini membantu petani menabur pupuk dengan cara yang lebih praktis dan terarah.

Kelompok 10 kemudian menyerahkan LARASTANI kepada masyarakat, terutama petani dan kelompok tani di Desa Ciledug Wetan.

Berdasarkan sumber mengenai kegiatan KKM Kelompok 10 UMC, mahasiswa mengembangkan LARASTANI setelah melihat langsung kebutuhan petani di lapangan. Mereka ingin menghadirkan teknologi yang sederhana, mudah digunakan, dan dapat terus dikembangkan masyarakat.

Mahasiswa UMC Melihat Masalah Pemupukan di Lapangan

Petani membutuhkan tenaga dan waktu cukup besar ketika menabur pupuk secara manual. Mereka juga harus mengatur sebaran pupuk agar tanaman memperoleh nutrisi secara merata.

Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKM Kelompok 10 mencari solusi yang lebih praktis.

Mereka kemudian merancang alat penabur pupuk dengan konsep sederhana. LARASTANI membantu petani membawa dan menaburkan pupuk dalam satu proses yang lebih terarah.

Mahasiswa berharap alat tersebut dapat mengurangi beban kerja petani. Selain itu, mereka ingin membantu petani mengelola penggunaan pupuk secara lebih efisien.

Penanggung jawab program, Gali Putra Efendi, menjelaskan alasan mahasiswa memilih konsep teknologi sederhana.

“LARASTANI kami kembangkan sebagai alat bantu penabur pupuk yang sederhana, praktis, dan mudah digunakan. Kami berusaha membuat inovasi yang tidak terlalu kompleks sehingga masyarakat, khususnya petani, dapat memahami cara penggunaannya dan memiliki peluang untuk mengembangkan atau membuatnya kembali secara mandiri,” jelas Gali.

Menurut Gali, mahasiswa juga memperoleh pengalaman penting selama mengembangkan alat tersebut. Mereka belajar mengidentifikasi masalah dan mencari solusi yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

“Bagi kami, inovasi ini merupakan proses belajar untuk menghadirkan teknologi yang tepat guna. Harapannya, LARASTANI tidak berhenti sebagai produk KKM, tetapi dapat terus digunakan, dievaluasi, dan dikembangkan sesuai kebutuhan petani,” tambahnya.

LARASTANI Jadi Bentuk Hilirisasi Inovasi Kampus

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM Kelompok 10 UMC, Masdum Mustaqwa, M.T., mengapresiasi langkah mahasiswa tersebut.

Menurut Masdum, mahasiswa perlu membawa ilmu dari kampus ke tengah masyarakat. Kegiatan pengabdian pun dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji pengetahuan melalui persoalan nyata.

“LARASTANI merupakan bentuk sederhana dari hilirisasi inovasi kampus. Mahasiswa tidak hanya belajar secara akademik, tetapi mencoba menerjemahkan pengetahuan, kreativitas, dan kemampuan rekayasa mereka menjadi sebuah solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat,” ujar Masdum.

Ia juga menilai teknologi tidak harus tampil rumit untuk memberikan manfaat.

“Yang paling penting dari sebuah inovasi bukan hanya kecanggihannya, tetapi kebermanfaatannya. Teknologi yang sederhana tetapi benar-benar digunakan oleh masyarakat justru memiliki nilai pengabdian yang sangat kuat,” katanya.

Karena itu, Masdum mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan LARASTANI. Ia melihat peluang penggunaan alat tersebut, terutama bagi petani jagung di wilayah Ciledug Wetan.

“Ke depan kami berharap LARASTANI dapat terus disempurnakan. Kalau dari sisi fungsi dan desain sudah semakin baik, bukan tidak mungkin alat ini dapat diproduksi lebih luas untuk para petani, terutama petani jagung di wilayah Ciledug Wetan. Jadi, produk KKM ini dapat berkembang menjadi inovasi yang benar-benar dimiliki dan dikembangkan masyarakat,” ungkapnya.

Kepala Desa Ciledug Wetan Dukung Inovasi Mahasiswa

Kepala Desa Ciledug Wetan, Wastar, menyambut positif kehadiran LARASTANI.

Menurutnya, mahasiswa dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat melalui program yang menjawab kebutuhan desa.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKM Kelompok 10 Universitas Muhammadiyah Cirebon yang telah memberikan kontribusi kepada masyarakat Desa Ciledug Wetan. Inovasi LARASTANI ini merupakan sesuatu yang positif karena berkaitan langsung dengan kebutuhan para petani,” ujar Wastar.

Ia berharap petani dapat memanfaatkan alat tersebut secara optimal. Wastar juga ingin masyarakat mempelajari cara membuat kembali LARASTANI agar manfaatnya menjangkau lebih banyak petani.

“Kami berharap alat ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh para petani dan kelompok tani. Kalau memang bisa dibuat kembali oleh masyarakat, kami berharap nantinya dapat diduplikasi sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak petani,” katanya.

Wastar juga membuka peluang kerja sama lanjutan antara desa dan UMC.

“Desa membutuhkan inovasi dan pendampingan. Kami berharap kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Cirebon dapat terus berjalan, sehingga berbagai persoalan masyarakat dapat dicarikan solusi bersama,” ujarnya.

KKM UMC Tidak Sekadar Tinggalkan Dokumentasi

Pengembangan LARASTANI memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa. Mereka belajar membaca kebutuhan petani, menyusun konsep alat, mengembangkan desain, hingga memperkenalkan produk kepada masyarakat.

Proses tersebut juga melatih kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah.

Mereka tidak berhenti pada diskusi. Mereka mengubah persoalan pemupukan menjadi gagasan teknologi yang dapat digunakan petani.

Selain kemampuan teknis, mahasiswa juga belajar memahami kebutuhan pengguna. Sebab, alat pertanian harus mengikuti kondisi kerja petani agar masyarakat mau menggunakannya.

Masdum menilai keberlanjutan menjadi bagian penting dalam kegiatan pengabdian.

“KKM jangan hanya meninggalkan kenangan, tetapi harus meninggalkan karya. Ketika mahasiswa pulang dari desa, yang tersisa bukan hanya dokumentasi kegiatan, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan inovasi yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat,” tegasnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa kegiatan KKM dapat menghasilkan dampak yang lebih panjang ketika mahasiswa meninggalkan pengetahuan dan karya yang berguna.

LARASTANI Masih Bisa Dikembangkan

LARASTANI saat ini hadir sebagai alat bantu sederhana untuk proses penaburan pupuk. Namun, mahasiswa dan masyarakat masih memiliki ruang untuk mengembangkan teknologi tersebut.

Pengembangan dapat mencakup desain, material, kapasitas, hingga mekanisme kerja alat.

Mahasiswa juga dapat menguji alat bersama kelompok tani. Dengan cara itu, mereka dapat mengetahui bagian yang perlu diperbaiki berdasarkan pengalaman pengguna.

Dosen, pemerintah desa, kelompok tani, dan masyarakat juga dapat ikut memberikan masukan.

Kolaborasi tersebut dapat membantu LARASTANI berkembang menjadi alat yang semakin sesuai dengan kondisi pertanian setempat.

Jika pengembangan berjalan secara konsisten, masyarakat juga memiliki peluang untuk membuat alat serupa secara mandiri.

Dari Kampus untuk Petani Ciledug Wetan

LARASTANI menunjukkan bahwa mahasiswa dapat memulai inovasi dari persoalan sederhana di lingkungan sekitar.

Petani menghadapi kebutuhan praktis. Mahasiswa kemudian menggunakan pengetahuan dan kemampuan rekayasa untuk mencari solusi.

Pertemuan antara kebutuhan dan pengetahuan tersebut melahirkan LARASTANI.

Bagi petani, alat ini menawarkan alternatif untuk membantu proses penaburan pupuk. Bagi mahasiswa, proses pengembangannya menjadi pengalaman penting dalam menerapkan ilmu di luar kampus.

Program tersebut juga memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat. Kampus tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga dapat membantu masyarakat menemukan solusi atas persoalan sehari-hari.

Karena itu, penyerahan LARASTANI tidak harus menjadi akhir program KKM. Mahasiswa, dosen, pemerintah desa, dan kelompok tani masih dapat melanjutkan pengembangan alat tersebut.

Pada akhirnya, LARASTANI membawa pesan sederhana: inovasi tidak harus rumit. Ketika mahasiswa memahami kebutuhan masyarakat dan berani menciptakan solusi, ilmu dari kampus dapat berubah menjadi karya yang memberi manfaat nyata.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article