EDUCARE.CO.ID – Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan Pedaltrax, kendaraan hybrid yang menggabungkan tenaga manusia dan motor listrik untuk mendukung mobilitas berkelanjutan di lingkungan kampus.
Kendaraan tersebut lahir dari kolaborasi Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) dengan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB. Tim merancang Pedaltrax untuk menjawab kebutuhan mobilitas, terutama di ITB Kampus Jatinangor yang memiliki banyak tanjakan dan kontur berbukit.
Tidak hanya mengejar efisiensi energi, tim juga memasukkan prinsip desain inklusif dalam pengembangan kendaraan. Pedaltrax memiliki ruang bagasi serta akses untuk pengguna kursi roda.
Berdasarkan sumber laman resmi Institut Teknologi Bandung (ITB), pengembangan Pedaltrax berangkat dari kebutuhan nyata pengguna kampus. Tim melibatkan mahasiswa dalam proses identifikasi masalah, perancangan, pengujian, hingga evaluasi kendaraan.
Pedaltrax Lahir dari Masalah Mobilitas Mahasiswa
Dosen Kelompok Keahlian Manusia dan Desain Produk Industri ITB, Dr. Bismo Jelantik Joyodiharjo, S.Sn., M.Ds., menjelaskan bahwa pengembangan Pedaltrax bermula dari kebutuhan menghadirkan moda transportasi berkelanjutan bagi mahasiswa di Kampus Jatinangor.
Tim terlebih dahulu memetakan persoalan yang mahasiswa hadapi sehari-hari. Mereka menemukan sejumlah tantangan, seperti membawa barang saat berpindah lokasi dan melintasi jalan kampus yang menanjak.
Mahasiswa juga menyoroti kebutuhan terhadap kendaraan yang dapat digunakan oleh lebih banyak kelompok pengguna, termasuk mereka yang membutuhkan aksesibilitas.
Masukan tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk menentukan spesifikasi kendaraan.
Selain aspek teknis, tim memperhatikan ergonomi dan pengalaman pengguna. Dengan pendekatan itu, Pedaltrax tidak hanya harus berfungsi dengan baik, tetapi juga memberikan pengalaman berkendara yang nyaman.
Desain Dimulai dari “Kanvas Kosong”
Tim ITB tidak mengambil bentuk kendaraan tertentu sebagai acuan utama. Mereka justru memulai desain dari konsep dasar dan mencari konfigurasi yang paling sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Proses tersebut mempertimbangkan berbagai faktor. Tim memperhitungkan posisi pengendara saat mengayuh, sudut pandang ke depan, ergonomi, hingga distribusi beban.
“Bagaimana dia bisa tetap mengayuh, tetapi posisinya ergonomis dan sudut pandangnya ke depan juga tidak terganggu. Kemudian tentu ada hukum-hukum fisika, salah satunya distribusi beban itu harus merata,” kata Bismo.
Pendekatan ini membuat desain Pedaltrax berkembang berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar mengejar tampilan kendaraan.
Mahasiswa juga ikut menguji rancangan melalui kegiatan akademik di Desain Produk. Mata kuliah Desain Mobilitas serta Laboratorium DEMAND di FSRD ITB menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengevaluasi kelebihan dan kekurangan purwarupa.
“Jadi produk ini untuk mahasiswa, dan oleh mahasiswa,” ujarnya.
Tenaga Kayuhan Bertemu Motor Listrik
Pedaltrax mengandalkan sistem penggerak hybrid. Pengguna dapat menggerakkan kendaraan dengan tenaga kayuhan, sementara motor listrik memberikan bantuan ketika kendaraan menghadapi medan yang lebih berat.
Pada jalan datar, pengendara dapat memanfaatkan tenaga manusia. Ketika memasuki tanjakan, sistem motor listrik membantu meringankan beban kayuhan.
Pedaltrax menggunakan baterai 72 volt 45 Ah dan motor BLDC 3.000 watt. Tim juga menerapkan sistem reduksi 2:1 untuk membantu kebutuhan tenaga saat kendaraan melewati medan menanjak.
Berdasarkan perkiraan awal pengembang, kendaraan tersebut dapat menempuh jarak sekitar 60–80 kilometer dalam satu kali pengisian daya. Namun, jarak aktual tetap bergantung pada kondisi medan dan pola penggunaan kendaraan.
Panel Surya Ikut Menambah Pasokan Energi
Untuk mendukung konsep mobilitas yang lebih berkelanjutan, Pedaltrax juga membawa panel surya 120 Wp.
Panel tersebut dapat membantu mengisi baterai melalui kontroler dengan sistem MPPT (Maximum Power Point Tracking). Teknologi tersebut membantu sistem memanfaatkan daya dari panel surya secara lebih optimal.
Ketika pengendara menggabungkan tenaga kayuhan dengan bantuan motor listrik, konsumsi energi dari baterai dapat berkurang. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang jarak tempuh, tergantung pada medan dan pola berkendara.
Dengan kombinasi tersebut, Pedaltrax tidak hanya mengandalkan energi listrik. Kendaraan juga memanfaatkan tenaga manusia dan sumber energi matahari.
Utamakan Komponen Produksi Indonesia
Dalam memilih komponen, tim ITB berupaya menggunakan produk buatan Indonesia selama tersedia dan memenuhi kebutuhan teknis.
Tim juga merancang sistem agar komponen dapat diganti serta dikembangkan. Dengan demikian, peneliti lain memiliki peluang untuk melanjutkan pengembangan kendaraan pada tahap berikutnya.
Pendekatan tersebut membuka kemungkinan Pedaltrax berkembang melalui kolaborasi lintas bidang. Pengembangan berikutnya dapat mencakup sistem elektrifikasi, desain, manufaktur, hingga pengelolaan energi.
Pedaltrax Masih dalam Tahap Pengembangan
Tim mulai merancang Pedaltrax pada Mei 2026. Pengembangan berlanjut pada Juni, kemudian memasuki tahap fabrikasi pada Juli 2026.
Purwarupa yang tersedia saat ini masih menjadi versi awal. Karena itu, tim masih membuka ruang untuk penyempurnaan dari sisi desain, sistem penggerak, kenyamanan, maupun efisiensi energi.
Bismo menjelaskan bahwa pengembangan Pedaltrax diarahkan untuk mendukung terbentuknya ekosistem mobilitas kampus yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Ke depan, tim juga berencana menghubungkan pengembangan kendaraan dengan riset elektrifikasi berbasis pengolahan sampah yang tengah dilakukan peneliti ITB.
Dari Purwarupa Menuju Mobilitas Kampus Berkelanjutan
Pedaltrax mempertemukan berbagai bidang dalam satu proyek. Desain produk, rekayasa mesin, energi terbarukan, ergonomi, hingga pengalaman pengguna saling bertemu dalam proses pengembangannya.
Lebih dari sekadar purwarupa kendaraan, proyek ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa. Mereka dapat melihat langsung bagaimana persoalan di lingkungan kampus berubah menjadi kebutuhan desain dan kemudian berkembang menjadi produk yang dapat diuji.
Pengembangan tersebut sejalan dengan harapan ITB agar karya dosen dan mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas akademik. Sebaliknya, inovasi kampus diharapkan mampu menjawab persoalan nyata yang masyarakat hadapi.
Melalui Pedaltrax, ITB mencoba menghadirkan alternatif mobilitas yang menggabungkan tenaga manusia, listrik, energi surya, dan desain inklusif.
Jika pengembangan terus berlanjut, kendaraan ini berpotensi menjadi bagian dari ekosistem transportasi kampus yang lebih ramah lingkungan sekaligus mampu menjawab kebutuhan pengguna dengan karakter yang beragam.




