KPDI ke-17 Dibuka di UMY, Perpustakaan Digital Siapkan Strategi Hadapi AI

Must read

EDUCARE.CO.ID – Forum Perpustakaan Digital Indonesia resmi membuka Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 di UMY Student Dormitory, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (4/8/2026). Berdasarkan rilis LLDIKTI Wilayah V, konferensi tahun ini mengusung tema “Kesadaran, Perilaku, Interaksi, dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan.”

Tema tersebut menyoroti perubahan besar yang terjadi pada dunia informasi sejak teknologi Artificial Intelligence (AI) berkembang pesat. Karena itu, KPDI ke-17 tidak hanya membahas teknologi perpustakaan, tetapi juga menekankan peran manusia dalam ekosistem informasi digital.

AI Mengubah Cara Masyarakat Berinteraksi dengan Informasi

Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia, Dr. Joko Santoso, M.Hum., menjelaskan bahwa AI telah mengubah cara masyarakat menyadari, mencari, menggunakan, dan berinteraksi dengan informasi. Menurutnya, perpustakaan digital perlu menyesuaikan diri agar tetap relevan di tengah perubahan tersebut.

“KPDI ke-17 tidak hanya menghadirkan seminar dan presentasi makalah ilmiah,” ujar Joko.

Selain seminar, panitia menghadirkan program-program praktis yang membantu peserta menerapkan teknologi digital secara langsung dalam layanan perpustakaan.

KPDI Perluas Ruang Belajar dan Kolaborasi

Pada penyelenggaraan tahun ini, KPDI tidak hanya menjadi forum berbagi hasil penelitian. Sebaliknya, konferensi ini membuka ruang untuk berbagi praktik baik, pengalaman lapangan, dan solusi nyata dalam pengelolaan perpustakaan digital.

Dengan pendekatan tersebut, peserta dapat memperkuat jaringan kerja sekaligus membangun kolaborasi lintas institusi.

Tema Dipilih untuk Menjawab Tantangan Baru

Penanggung jawab penyelenggara, Novy Diana Fauzie, S.S., M.A., mengatakan bahwa AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru bagi perpustakaan sebagai pusat informasi, pendidikan, penelitian, dan inovasi.

“Kami berharap konferensi ini menjadi wadah kolaborasi bagi pustakawan, akademisi, dan peneliti,” kata Novy.

Oleh sebab itu, panitia mengundang pustakawan, peneliti, praktisi teknologi informasi, dan pengembang sistem perpustakaan agar dapat berdiskusi mengenai masa depan perpustakaan digital Indonesia.

Software Clinic Jadi Program Baru KPDI

Untuk pertama kalinya, KPDI menghadirkan software clinic. Melalui layanan ini, peserta dapat berkonsultasi langsung mengenai:

  • repositori institusi,
  • otomasi perpustakaan,
  • integrasi sistem,
  • pengelolaan data digital,
  • pengembangan layanan berbasis teknologi.

Selain itu, peserta memperoleh masukan teknis yang dapat langsung diterapkan di institusi masing-masing.

Peluang Publikasi dan Pengembangan Profesi

Panitia juga membuka berbagai program pengembangan profesi, antara lain:

  • publikasi artikel pada jurnal nasional terakreditasi SINTA,
  • publikasi pada jurnal internasional bereputasi Scopus,
  • Call for Papers,
  • Call for Posters,
  • lokakarya dan workshop,
  • kompetisi portal website perpustakaan,
  • cultural tour.

Dengan rangkaian kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga kesempatan meningkatkan rekam jejak akademik dan profesional.

Perpustakaan Harus Adaptif terhadap AI

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, Muhammad Muchlas Rowi, menegaskan bahwa transformasi digital pendidikan harus membentuk pola pikir kreatif, kritis, kolaboratif, dan mampu menyelesaikan masalah nyata.

Sementara itu, Founder dan CEO Assemblr EDU, Hasbi Asyadiq, menilai teknologi visual coding, 3D, dan AR dapat membantu generasi muda menjadi kreator dan inovator, bukan sekadar pengguna teknologi.

Dorong Ekosistem Perpustakaan Digital yang Lebih Kuat

Melalui KPDI ke-17, Forum Perpustakaan Digital Indonesia ingin memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan di bidang perpustakaan digital. Selain itu, konferensi ini diharapkan dapat meningkatkan literasi informasi dan kesiapan pustakawan menghadapi perkembangan AI yang terus bergerak cepat.

Pada akhirnya, dukungan perguruan tinggi, pemerintah, komunitas pustakawan, dan mitra teknologi diharapkan mampu memperkuat peran perpustakaan digital dalam membangun masyarakat yang kritis, melek informasi, dan siap menghadapi era kecerdasan buatan.

 

Penulis: Putri Faathiman Niara

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article

spot_img