EDUCARE.CO.ID – Anak yang enggan menulis belum tentu malas. Sebagian anak justru menghadapi hambatan tertentu ketika harus memegang pensil, mengeja, menyalin, hingga menuangkan gagasan ke dalam tulisan.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam bedah buku ‘Menulis Tanpa Menangis’ yang digelar Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Berdasarkan rilis Kemendikdasmen, kegiatan tersebut mengajak guru dan orang tua memahami berbagai penyebab anak mengalami kesulitan menulis. Buku itu juga menawarkan sejumlah alternatif pendampingan agar kegiatan menulis tidak berubah menjadi beban bagi anak.
Buku Menulis Tanpa Menangis Dinilai Relevan
Kepala Pusat Perbukuan Kemendikdasmen, Supriyatno, menilai buku tersebut relevan dengan kebutuhan pembelajaran saat ini. Terlebih, pemerintah berencana memberikan buku tulis kepada peserta didik, terutama siswa kelas I dan II pada tahap awal.
Menurut Supriyatno, guru perlu memahami cara mengajarkan keterampilan menulis tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada anak.
“Buku ini sangat relevan, sekiranya bagaimana memanfaatkan buku dan memberikan pembelajaran bagi anak-anak kita, bagaimana mengajarkan cara menulis agar kemudian tidak menjadi beban bagi anak-anak kita,” ujar Supriyatno.
Selain membahas buku, kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan koleksi Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI). Pusat Perbukuan rutin menggelar bedah buku setidaknya setiap bulan untuk memperkenalkan berbagai buku yang tersedia di platform tersebut.
SIBI menyediakan buku teks dan nonteks pelajaran yang dapat masyarakat akses secara gratis. Supriyatno juga mengajak guru, orang tua, dan masyarakat memanfaatkan koleksi tersebut sebagai bahan pendamping pembelajaran.
Kesulitan Menulis Tidak Selalu Berarti Malas
Penulis ‘Menulis Tanpa Menangis’, Ossy, dosen Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Makassar, bersama Dirham, guru Sekolah Khusus Negeri di Pandeglang, menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari persoalan yang mereka temukan di lapangan.
Cerita dalam buku berangkat dari pengalaman seorang murid kelas III SD bernama Ocis. Ia kerap menangis ketika mendapat tugas menulis.
Dirham menjelaskan bahwa buku tersebut memuat enam kasus. Masing-masing tokoh menggambarkan persoalan menulis yang berbeda.
Ada Ocis yang menangis saat menulis, Pinus yang menulis hingga menembus halaman, Rimba yang mengalami kesulitan dikte dan mengeja, serta Bora yang menulis dengan ukuran terlalu besar dan keluar garis.
Buku itu juga menghadirkan Bulan yang kesulitan mengarang dan Bromo yang sering melamun ketika mendapat tugas menulis.
“Tokoh dalam buku ini adalah Ocis yang menangis setiap diminta menulis, Pinus yang menulis hingga tembus, Rimba yang kesulitan dikte dan mengeja, Bora yang menulis terlalu besar dan keluar baris, Bulan yang kesulitan mengarang, serta Bromo yang melamun setiap menulis,” jelas Dirham.
Hambatan Motorik hingga Disgrafia Bisa Memengaruhi
Ossy menerangkan bahwa kesulitan menulis dapat muncul karena berbagai faktor. Hambatan tersebut dapat berkaitan dengan kemampuan motorik, intelektual, perkembangan bahasa, hingga fungsi eksekutif.
Selain itu, kondisi seperti disgrafia, disleksia, ADHD, autisme, serta kebutuhan khusus tertentu juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam menulis.
Lingkungan belajar pun memiliki peran. Cara guru memberikan instruksi dan pola pendampingan orang tua dapat membantu atau justru membuat anak semakin kesulitan.
Hambatan tersebut dapat muncul sejak tahap pramenulis hingga kemampuan menulis lanjutan. Bentuknya pun beragam, mulai dari kesulitan memegang pensil dan menarik garis hingga menulis huruf, mengeja, menyalin, mengikuti dikte, dan membuat karangan.
“Kesulitan tersebut dapat muncul sejak tahap pramenulis, mengeja, menulis permulaan, hingga menulis lanjutan,” tutur Ossy.
Karena itu, orang dewasa perlu mencari tahu penyebab kesulitan sebelum memberikan tuntutan kepada anak.
Menulis Tanpa Menangis Berangkat dari Temuan di Sekolah
Ossy dan Dirham bersama tim Pusat Perbukuan Kemendikdasmen mulai menyusun buku tersebut pada 2023. Proses penulisan berangkat dari survei kebutuhan yang menunjukkan masih banyak guru menghadapi tantangan dalam menangani kesulitan belajar peserta didik.
Tim kemudian melakukan observasi di sejumlah sekolah dasar. Mereka juga membagikan lembar kerja menulis kepada siswa dari beberapa jenjang.
Temuan tersebut kemudian tim padukan dengan teori yang relevan. Setelah itu, mereka mengolahnya menjadi cerita fiksi agar pembaca lebih mudah memahami persoalan yang muncul.
“Kasus-kasus di buku ini berangkat dari temuan-temuan yang sering terjadi di lapangan yang kami ubah menjadi cerita fiksi,” tutur Ossy.
Dirham menambahkan bahwa penggunaan cerita membantu pembaca melihat hubungan antara kasus, penyebab, dan alternatif penanganannya.
Buku tersebut tidak hanya menyasar guru. Orang tua dan masyarakat umum juga dapat memanfaatkannya untuk memahami kesulitan menulis pada anak.
Menulis Jadi Bagian dari Pembelajaran Mendalam
Kemampuan menulis juga mendapat perhatian dalam penerapan Pembelajaran Mendalam. Melalui pendekatan tersebut, murid tidak sekadar membaca informasi, tetapi juga perlu memahami dan mengolahnya.
Salah satu bentuknya adalah meminta murid menuliskan kembali isi bacaan menggunakan bahasa sendiri. Cara ini membantu guru melihat sejauh mana anak memahami materi yang telah dipelajari.
Supriyatno menilai aktivitas menulis memiliki peran penting dalam proses tersebut. Menulis tidak hanya melatih kemampuan berbahasa, tetapi juga mendorong anak mengolah informasi dan menunjukkan pemahamannya.
“Dalam Pembelajaran Mendalam, anak tidak hanya membaca dan menerima informasi, tetapi juga memahami, mengolah, dan menuangkan kembali apa yang dipelajari melalui tulisan,” ujarnya.
Menulis Seharusnya Bukan Hukuman
Buku ‘Menulis Tanpa Menangis’ membawa pesan sederhana: kegiatan menulis seharusnya tidak membuat anak takut atau merasa tertekan.
Guru dan orang tua perlu mengenali hambatan yang anak alami sebelum memberikan solusi. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat belajar menulis secara bertahap sesuai kemampuan dan kebutuhannya.
Pada akhirnya, menulis bukanlah hukuman. Keterampilan tersebut dapat tumbuh melalui proses belajar yang sabar, menyenangkan, dan sesuai dengan kondisi setiap anak.



