EDUCARE.CO.ID – Delapan siswa SMPK 4 Penabur Jakarta mencatat sejarah baru di ajang MIT Zero Robotics 2026. Tim bernama BrainBits menjadi tim Indonesia pertama yang meraih juara dalam kompetisi pemrograman yang melibatkan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan National Aeronautics and Space Administration (NASA).
Tim BrainBits beranggotakan Valerie Faith Fonda, Andre Kevin Sebastian, Nathanael Skylar Rahatma, Christabel Tasya Ulima Hutagaol, Giovinco Wilson Xie, John Constantine Wekoila, Marvelin John, dan Shane Gabriel Antoni.
Kompetisi MIT Zero Robotics 2026 berlangsung melalui siaran langsung pada 7 Agustus 2026. Ajang tersebut mempertemukan lebih dari 50 tim dengan sekitar 600 pelajar tingkat SMP.
BrainBits Tembus Kompetisi yang Awalnya untuk Sekolah AS
MIT Zero Robotics merupakan kompetisi pemrograman yang mengajak pelajar merancang algoritma untuk mengendalikan satelit mini secara mandiri. Peserta menjalankan program melalui simulasi lingkungan International Space Station (ISS).
Tantangan tersebut menuntut kemampuan pemrograman sekaligus pemahaman fisika, matematika, dan strategi.
Kepala SMPK 4 Penabur Jakarta, Debbie Paskawaty, menjelaskan bahwa kompetisi tersebut pada dasarnya hanya memperuntukkan bagi pelajar SMP dari sekolah di Amerika Serikat.
Namun, SMPK 4 Penabur berhasil membuka kesempatan untuk ikut serta setelah melalui proses negosiasi. Rekam jejak siswa dalam proyek Zero Robotics sebelumnya turut memperkuat pengajuan tersebut.
“Kompetisi MIT Zero Robotics sebenarnya dirancang sebagai pertandingan lokal yang secara eksklusif ditujukan bagi sekolah-sekolah menengah pertama di Amerika Serikat. Namun, SMPK 4 Penabur berhasil mendobrak aturan tersebut melalui proses negosiasi yang berbekal rekam jejak luar biasa,” ujar Debbie.
Sebelumnya, siswa SMPK 4 Penabur yang mengikuti proyek Zero Robotics tingkat SMA berhasil menempati peringkat kedelapan dunia. Mereka juga meraih penghargaan Best Video.
Persiapan BrainBits Berlangsung Selama Sebulan
Sekolah memilih anggota BrainBits melalui proses observasi dari ekstrakurikuler Programming tingkat lanjut. Program tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengasah kemampuan coding dan logika komputasi.
Setelah tim terbentuk, para siswa menjalani persiapan selama sekitar satu bulan. Mereka mempelajari logika pemrograman, blok pemrograman, bahasa C/C++, hingga strategi pergerakan satelit.
Valerie bertugas sebagai ketua tim. Ia mengatur pembagian tugas sekaligus menjaga komunikasi antaranggota.
Sementara itu, Andre, Nathanael, Christabel, Giovinco, John, Marvelin, dan Shane fokus menyusun strategi serta mengembangkan kode program.
Andre mengatakan proses latihan juga melibatkan guru-guru yang membantu tim memahami strategi dan mengatasi persoalan dalam kode.
“Kami juga rajin bertukar pikiran bersama guru-guru termasuk Sir Rico yang adalah alumni. Beliau memberikan contoh-contoh strategi yang bisa digunakan dan membantu kami ketika kode kami bermasalah,” ujar Andre.
Tim menghadapi tantangan ketika harus memahami fungsi kode baru yang cukup kompleks. Mereka juga perlu memastikan setiap kode berjalan sesuai strategi pertandingan.
Untuk mengatasinya, BrainBits berulang kali menggunakan simulator. Mereka menguji program, menemukan kesalahan, lalu memperbaikinya sebelum kembali melakukan simulasi.
BrainBits Berkolaborasi dengan Dua Tim Amerika
Dalam kompetisi, BrainBits bergabung dengan Alliance 19 atau The Super Galactic Alliance. Tim Indonesia tersebut berkolaborasi dengan dua tim asal Amerika Serikat, yaitu The Black Holes dan Astro Coders.
Kolaborasi menjadi bagian penting dalam pertandingan. Ketiga tim harus menyusun strategi dan kode untuk mengendalikan satelit simulasi.
Mereka perlu mengatur satelit agar dapat mengambil objek, menghemat energi, serta mengambil foto satelit lawan pada waktu yang tepat.
Situasi pertandingan juga menuntut kemampuan beradaptasi. Strategi lawan tidak selalu berjalan sesuai perkiraan sehingga BrainBits harus cepat mengambil keputusan dan menyesuaikan program.
“Kompetisinya seru sekaligus menantang. Kami harus membuat kode program untuk mengendalikan satelit simulasi dan menghadapi situasi ketika strategi lawan tidak sesuai dengan perkiraan,” kata Andre.
Latihan Panjang Berbuah Gelar Juara
Keberhasilan BrainBits menjadi puncak dari proses latihan, percobaan, dan pengembangan kode selama persiapan.
Marvelin mengatakan seluruh proses tersebut memberikan pengalaman penting bagi anggota tim. Ia menilai waktu yang mereka gunakan untuk berlatih akhirnya menghasilkan pencapaian yang membanggakan.
“Semua latihan, percobaan kode, dan waktu yang kami korbankan pada akhirnya tidak terbuang sia-sia,” ucap Marvelin.
Bagi para siswa, kompetisi tersebut bukan hanya soal memenangkan pertandingan. Mereka juga belajar bekerja dalam tim, menyusun strategi, memecahkan masalah, serta beradaptasi dengan situasi yang berubah.
Bukti Siswa Indonesia Mampu Bersaing di Teknologi
Debbie menilai keberhasilan BrainBits menunjukkan kemampuan siswa dalam mengembangkan minat di bidang sains dan teknologi.
Menurutnya, pencapaian tersebut juga membuktikan bahwa siswa Indonesia mampu bersaing dalam kompetisi internasional yang membutuhkan kemampuan pemrograman dan pemecahan masalah.
“Keberhasilan tim BrainBits dalam kompetisi ini sekaligus membuktikan kecerdasan para siswa di bidang yang mereka minati dan kuasai,” kata Debbie.
Prestasi tersebut sejalan dengan profil BEST BPK Penabur Jakarta yang menekankan karakter tangguh, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepedulian sosial, serta nilai spiritual.
MIT Zero Robotics Jadi Ruang Belajar Teknologi
Keberhasilan BrainBits di MIT Zero Robotics 2026 memperlihatkan bahwa pembelajaran teknologi dapat berkembang jauh melampaui ruang kelas.
Melalui simulasi satelit, para siswa belajar menerapkan coding, matematika, fisika, dan strategi dalam satu tantangan nyata. Mereka juga belajar berkomunikasi dengan tim dari negara lain dan mengambil keputusan di tengah pertandingan.
Prestasi tersebut sekaligus membuka peluang bagi semakin banyak pelajar Indonesia untuk mengenal bidang pemrograman, robotika, dan teknologi antariksa sejak usia sekolah.

