Buah Utuh Ternyata Lebih Baik untuk Jantung daripada Jus? Ini Temuan Studi 371.000 Orang

Must read

EDUCARE.CO.ID – Buah menjadi salah satu makanan yang penting dalam pola makan sehari-hari. Kandungan serat, vitamin, mineral, dan berbagai senyawa alami di dalamnya dapat mendukung kesehatan tubuh, termasuk jantung.

Namun, cara mengonsumsi buah bisa berbeda-beda. Sebagian orang memilih makan buah secara utuh, sementara lainnya lebih suka mengolahnya menjadi jus.

Lantas, mana yang lebih baik untuk kesehatan jantung?

Sebuah studi terbaru memberikan gambaran menarik. Penelitian Brendan J. Kesler dan tim yang terbit dalam jurnal Current Developments in Nutrition pada September 2026 menemukan kaitan antara konsumsi buah utuh dengan kondisi kardiovaskular yang lebih baik.

Studi Libatkan 371.000 Peserta

Penelitian tersebut melibatkan sekitar 371.000 peserta. Tim peneliti melihat hubungan antara frekuensi konsumsi buah berdasarkan bentuknya dengan berbagai kondisi penyakit kardiovaskular.

Berdasarkan penelitian Brendan J. Kesler dan tim yang dikutip ScienceAlert, konsumsi buah utuh menunjukkan hubungan yang lebih baik dengan kesehatan kardiovaskular.

Kelompok penelitian mengonsumsi jus buah rata-rata 0,3 kali per hari, atau sekitar satu kali dalam tiga hari.

Sementara itu, peserta mengonsumsi buah utuh rata-rata 1,06 kali per hari.

Peneliti kemudian melihat sejumlah kondisi kesehatan, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penyakit jantung koroner, dan serangan jantung.

Hasilnya menunjukkan pola yang menarik. Peserta yang lebih jarang mengonsumsi buah utuh lebih sering mengalami beberapa masalah kardiovaskular tersebut.

Bukan Berarti Jus Buah 100 Persen Buruk

Hasil penelitian ini tidak serta-merta menempatkan jus buah sebagai pilihan yang buruk.

Pada kelompok yang mengonsumsi jus buah 100 persen, peneliti menemukan hubungan statistik tertentu dengan serangan jantung. Peserta yang lebih sering minum jus sedikit lebih banyak mengalami serangan jantung.

Di sisi lain, peneliti juga menemukan hubungan antara kadar kolesterol tinggi dengan konsumsi jus yang lebih jarang.

Karena itu, hasil penelitian belum cukup untuk menyatakan bahwa jus buah secara langsung meningkatkan atau menurunkan risiko penyakit jantung.

Peneliti sendiri menyebut studi tersebut bertujuan memperluas pemahaman mengenai hubungan epidemiologis antara penyakit kardiovaskular dan frekuensi konsumsi buah berdasarkan jenisnya.

Dengan kata lain, buah utuh menunjukkan pola yang lebih menguntungkan, tetapi penelitian ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Mengapa Buah Utuh Bisa Lebih Unggul?

Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan perbedaan antara buah utuh dan jus.

Pertama, buah utuh masih membawa serat alami dalam jumlah lebih lengkap. Proses pembuatan jus dapat menghilangkan sebagian besar serat, terutama jika ampas buah tidak ikut dikonsumsi.

Serat membantu memperlambat proses pencernaan. Kondisi ini dapat membantu tubuh menghadapi kenaikan gula darah dan insulin dengan lebih bertahap.

Buah utuh juga memberikan rasa kenyang lebih lama. Serat membantu memperlambat pengosongan lambung sehingga seseorang tidak mudah kembali merasa lapar.

Polifenol Juga Jadi Perhatian

Faktor lain berkaitan dengan polifenol. Senyawa alami ini terdapat pada berbagai jenis buah dan memiliki aktivitas antioksidan.

Polifenol mendapat perhatian karena sejumlah penelitian mengaitkannya dengan berbagai manfaat kesehatan, termasuk potensi perlindungan terhadap penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Namun, tim Kesler tidak mengukur kandungan serat dan polifenol setiap makanan secara langsung dalam penelitian tersebut.

Peneliti mendasarkan dugaan mengenai perbedaan serat pada pengetahuan sebelumnya bahwa proses pembuatan jus dapat menghilangkan sebagian besar serat yang terdapat pada buah.

Jadi, faktor serat dan polifenol masih menjadi bagian dari penjelasan yang perlu diteliti lebih lanjut.

Jus Buah Kemasan Perlu Lebih Diperhatikan

Pilihan jus juga memiliki perbedaan. Jus buah 100 persen tidak sama dengan minuman buah yang mendapat tambahan gula atau bahan lain.

Sebuah tinjauan penelitian oleh Hemangi B. Mavadiya dan tim dalam Nutrition Bulletin pada Mei 2025 menyoroti kandungan serat dan gula pada jus buah kemasan.

Menurut tinjauan tersebut, proses pengolahan dan penyimpanan dapat memengaruhi kandungan nutrisi dalam jus.

Proses pemrosesan dan pasteurisasi juga dapat memengaruhi sejumlah komponen yang sensitif terhadap panas dan penyimpanan. Salah satunya adalah asam askorbat atau vitamin C.

Selain itu, jus kemasan umumnya memiliki kandungan serat yang jauh lebih rendah daripada buah utuh. Konsumen juga perlu memperhatikan kandungan gula pada produk yang mereka pilih.

Buah Utuh Lebih Mengenyangkan

Buah utuh memiliki satu keunggulan sederhana yang sering terlewat: lebih mengenyangkan.

Saat seseorang makan buah secara utuh, tubuh menerima serat sekaligus struktur alami makanan. Serat tersebut membantu memperlambat pengosongan lambung.

Kombinasi serat dan polifenol juga menarik perhatian para peneliti. Keduanya dapat mendukung fungsi mikrobiota usus.

Proses tersebut dapat menghasilkan asam lemak rantai pendek yang berperan dalam mengatur peradangan.

Artinya, manfaat buah utuh tidak hanya berkaitan dengan kandungan antioksidan. Struktur makanan dan seratnya juga ikut memainkan peran.

Jadi, Pilih Buah Utuh atau Jus?

Jika tujuan utamanya mendukung pola makan yang baik untuk kesehatan jantung, buah utuh menjadi pilihan yang lebih unggul berdasarkan pola yang terlihat dalam penelitian terbaru tersebut.

Bukan berarti seseorang harus menghindari jus sepenuhnya. Jus buah 100 persen tetap dapat menjadi bagian dari pola makan, terutama jika seseorang kesulitan mengonsumsi buah secara langsung.

Namun, buah utuh memberikan kombinasi serat dan struktur makanan yang tidak sepenuhnya tersedia dalam segelas jus.

Karena itu, jadikan buah utuh sebagai pilihan utama. Jika memilih jus, perhatikan jenis produknya dan hindari minuman yang memiliki tambahan gula berlebihan.

Pada akhirnya, kesehatan jantung tidak hanya bergantung pada satu jenis makanan. Pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, kualitas tidur, serta faktor kesehatan lainnya juga ikut menentukan.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article