EDUCARE.CO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat komitmennya menghadirkan pendidikan yang inklusif. Salah satu langkah nyata dilakukan melalui pengukuhan 21 Duta Al-Qur’an Bahasa Isyarat yang terdiri atas 11 guru dan 10 murid setelah menyelesaikan Training of Trainers (ToT) Al-Qur’an Bahasa Isyarat Batch 3.
Berdasarkan sumber rilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), prosesi penutupan pelatihan berlangsung di Masjid Baitut Tholibin, Kompleks Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, pada 23 Juli 2026. Melalui program ini, Kemendikdasmen ingin memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an bagi peserta didik penyandang disabilitas rungu di berbagai daerah.
Bekali Guru dan Murid dengan Metode Al-Qur’an Bahasa Isyarat
Selama dua hari pelatihan, para peserta mempelajari cara membaca, memahami, dan mengajarkan Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat. Setelah itu, mereka diharapkan menyebarluaskan pengetahuan tersebut di sekolah maupun komunitas.
Dengan cara tersebut, semakin banyak peserta didik Tuli berpeluang memperoleh pembelajaran agama yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain meningkatkan kompetensi pengajar, program ini juga memperluas layanan pendidikan inklusif di Indonesia.
Pendidikan Inklusif Harus Menjangkau Pembinaan Spiritual
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya berfokus pada capaian akademik. Menurutnya, setiap peserta didik juga berhak memperoleh pembinaan spiritual secara setara.
Ia menjelaskan bahwa proses belajar Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat memiliki tantangan tersendiri. Namun, tantangan tersebut justru menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan pendidikan yang adil bagi semua.
Selain itu, Tatang mengajak seluruh Duta Al-Qur’an Bahasa Isyarat menjalankan amanah sebagai agen perubahan di daerah masing-masing.
“Gelar dan sertifikat yang diterima hari ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal amanah besar. Jadikan ilmu yang diperoleh sebagai pelita dan terus bangun kolaborasi agar pembelajaran Al-Qur’an bahasa isyarat semakin berkembang,” ujarnya.
Peserta Antusias Mengikuti Pelatihan
Semangat peserta terlihat sepanjang pelaksanaan pelatihan. Salah seorang peserta didik dari SLB Muhammadiyah Karangpawitan Garut, Fira, mengaku senang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Ia mengatakan pelatihan membantunya mengenal huruf hijaiyah, mulai dari alif, ba, ta, tsa, jim, hingga ha. Fira juga berharap ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat bagi dirinya maupun orang lain.
Kemendikdasmen Berikan Penghargaan kepada Peserta Terbaik
Pada akhir kegiatan, Kemendikdasmen memberikan penghargaan kepada tiga peserta terbaik sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi selama mengikuti pelatihan.
Penghargaan tersebut diterima oleh Nafisya Lutsiana, Indah Pujasari, dan Tiara Nida Maharani. Kemendikdasmen berharap para penerima penghargaan mampu menjadi inspirasi sekaligus mengembangkan pembelajaran Al-Qur’an bahasa isyarat di lingkungan masing-masing.
Melalui pengukuhan Duta Al-Qur’an Bahasa Isyarat, Kemendikdasmen ingin memperkuat pendidikan inklusif sekaligus memastikan peserta didik penyandang disabilitas rungu memperoleh kesempatan yang sama dalam mempelajari Al-Qur’an dan mengembangkan kecerdasan spiritualnya. Selain itu, program ini diharapkan memperluas kolaborasi antarsekolah, guru, dan komunitas untuk menciptakan layanan pendidikan yang semakin ramah bagi semua peserta didik.




