Kemenag Luncurkan Kurikulum Berbasis Cinta

EduNews

educare.co.id – Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai upaya merespons tantangan multidimensi yang dihadapi sektor pendidikan. Bertempat di Asrama Haji Sudiang, Makassar, peluncuran kurikulum ini menandai komitmen Kemenag dalam menghadirkan sistem pembelajaran yang lebih menyentuh aspek kemanusiaan, spiritualitas, dan keberagaman.

Kurikulum ini digagas untuk menjawab berbagai isu yang kian mengemuka, seperti krisis intoleransi, meningkatnya dehumanisasi, hingga ancaman terhadap kelestarian lingkungan. Lewat KBC, pendidikan tidak hanya diarahkan pada kecakapan berpikir (logos), tetapi juga penguatan nurani dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Kita ingin mengubah cara berpikir dari teologi maskulin menjadi teologi cinta, dari pola pikir atomistik ke pemikiran yang holistik. Pendidikan harus menjadi ruang yang memulihkan, bukan sekadar tempat mengajar,” tegas Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dalam siaran tertulis Pendis Kemenag (28/7).

Berbasis pada pendekatan transformatif, KBC dirancang untuk tidak berhenti pada proses transfer pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan empati, memperkuat solidaritas sosial, dan menggugah kesadaran spiritual. Dalam lanskap global yang kian terpolarisasi, kurikulum ini diharapkan menjadi jembatan untuk membangun pendidikan yang memelihara keberagaman dan menolak sikap menghakimi.

Lima nilai utama yang menjadi fondasi KBC dirumuskan dalam konsep Panca Cinta, yakni:

  1. Cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa

  2. Cinta kepada Diri dan Sesama

  3. Cinta kepada Ilmu Pengetahuan

  4. Cinta kepada Lingkungan

  5. Cinta kepada Bangsa dan Negeri

Menurut Nasaruddin, nilai-nilai tersebut merepresentasikan upaya rekonstruksi hubungan manusia yang selama ini terdistorsi oleh eksploitasi dan narasi kemajuan yang mengabaikan nilai-nilai luhur.

“Cinta adalah ikatan primordial. Jika kurikulum ini mampu menyalakan kesadaran cinta, warna-warni perbedaan tidak lagi tampak mencolok,” ujarnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menjelaskan bahwa awalnya kurikulum ini dirancang dengan enam tema utama. Namun, setelah melalui proses uji coba dan diskusi publik, struktur KBC kemudian disederhanakan menjadi lima nilai agar lebih mudah diimplementasikan.

“Kami tidak ingin sekadar membuat kurikulum, tapi membangun ekosistem pendidikan. Kami ingin mencetak generasi yang berpikir dengan cinta, merasa dengan cinta, dan bertindak dengan cinta,” jelasnya.

Uji coba penerapan KBC telah dilaksanakan di 12 madrasah dari berbagai jenjang dan daerah. Hasil awal menunjukkan dampak positif terhadap iklim belajar yang lebih damai, aman, dan inklusif. Penyusunan panduan kurikulum ini juga dilakukan secara kolaboratif dengan para tokoh dan pakar nasional seperti Prof. Yudi Latif, Nyai Alissa Wahid, dan Haidar Bagir.

Lebih lanjut, Prof. Amien menegaskan bahwa KBC tidak akan berhenti sebagai dokumen kurikulum semata. Implementasinya akan diperkuat melalui pelatihan guru, integrasi dengan platform pembelajaran daring MOOC PINTAR, serta pemantauan digital melalui sistem MAGIS. Kementerian Agama juga terus menjalin sinergi dengan berbagai unit internal maupun mitra eksternal, termasuk program INOVASI, untuk menjamin keberlanjutan gerakan ini.

“Pendidikan hari ini terlalu kering secara emosional karena dominasi pendekatan logos. Yang kita butuhkan adalah pendekatan yang menyalakan lentera hati,” ungkap Menag.

KBC turut menguatkan peran tri pusat pendidikan—yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat—agar nilai cinta tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi benar-benar dihidupkan dalam keseharian.

Dengan peluncuran ini, Kemenag mempertegas langkah strategis menuju visi Indonesia Emas 2045. Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, pemerintah berupaya melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tajam dalam nurani, dan kokoh dalam nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.

“Kita tidak sedang mencetak sekadar orang pintar. Kita ingin melahirkan manusia utuh—yang berpikir dengan cinta dan bertindak dengan nurani,” pungkas Dirjen Pendis.

KBC hadir bukan semata sebagai inovasi pendidikan, melainkan sebagai gerakan nilai untuk menata ulang arah peradaban melalui pendidikan yang meneduhkan, tangguh, dan bermartabat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *