EDUCARE.CO.ID – Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng British Council untuk meningkatkan kompetensi 6.000 guru Madrasah Ibtidaiyah (MI). Melalui program STEPS-CoP, keduanya menyiapkan guru menghadapi penerapan Bahasa Inggris wajib bagi siswa kelas III hingga VI mulai Juli 2027.
Program ini bernama Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP). Kemenag meluncurkannya di Jakarta pada Selasa (13/10/2026).
Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai pembelajaran Bahasa Inggris sejak tingkat dasar penting bagi masa depan siswa madrasah. Kemampuan bahasa asing dapat membantu mereka mengakses pengetahuan global dan berinteraksi dengan masyarakat dunia.
Meski begitu, Nasaruddin mengingatkan pentingnya menjaga karakter dan nilai keagamaan dalam proses pendidikan.
“Penerapan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah bukan sekadar menambah mata pelajaran, tetapi bagian dari upaya kita mempersiapkan generasi madrasah agar dapat mengakses pengetahuan global dan berinteraksi dengan dunia yang semakin terbuka, tanpa kehilangan nilai-nilai inti dan karakter mereka,” ujar Nasaruddin.
Kemenag Bangun Komunitas Belajar Guru
STEPS-CoP mengandalkan pendekatan Community of Practice (CoP) atau komunitas belajar. Melalui pendekatan ini, guru dapat bertukar pengalaman, membahas kendala di kelas, dan mengembangkan metode pengajaran bersama rekan sejawat.
Model tersebut mendorong guru belajar secara berkelanjutan. Mereka tidak hanya mengikuti pelatihan satu kali, tetapi juga memperoleh ruang untuk berdiskusi dan berbagi praktik pembelajaran.
Pada tahap awal, STEPS-CoP mengadakan Training of Trainers (ToT) bagi 68 pemimpin komunitas belajar. Peserta berasal dari perguruan tinggi keagamaan Islam, unsur pengawas madrasah, dan lembaga pelatihan guru.
Selanjutnya, para fasilitator akan menggerakkan komunitas belajar di 34 kota dan kabupaten. Mereka akan mendampingi guru untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sekaligus memperkuat keterampilan mengajar.
Septriani Nidi, pengawas sekolah sekaligus fasilitator ToT, menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi guru.
“Guru tidak hanya membutuhkan pelatihan lain yang berakhir ketika sesi selesai. Kita membutuhkan ruang berkelanjutan untuk membahas tantangan nyata di kelas, berbagi praktik yang berhasil, dan belajar dari sesama pendidik,” ungkap Septriani.
EnglishScore Bantu Petakan Kemampuan Guru
Kemenag dan British Council juga menggunakan EnglishScore serta Self-Assessment Tool (SAT) dalam program ini. Kedua perangkat tersebut membantu memetakan kemampuan awal Bahasa Inggris dan keterampilan pedagogis guru.
Hasil pemetaan membantu penyelenggara menentukan kebutuhan pengembangan setiap peserta. Dengan begitu, guru dapat berfokus pada aspek yang perlu mereka tingkatkan.
Pendekatan ini juga memberi ruang bagi pendampingan yang lebih sesuai dengan kemampuan masing-masing guru. Mereka dapat memperkuat penguasaan bahasa sekaligus mengembangkan strategi mengajar yang relevan dengan kebutuhan siswa.
Melalui proses tersebut, Kemenag dan British Council ingin membantu guru mempersiapkan pembelajaran Bahasa Inggris sebelum kebijakan baru berlaku pada 2027.
British Council Tekankan Peran Guru
Country Director British Council untuk Indonesia sekaligus Director of Southeast Asia, Summer Xia, menegaskan pentingnya investasi pada kompetensi pendidik. Menurutnya, peningkatan kemampuan guru dapat membuka lebih banyak peluang bagi generasi mendatang.
“Ketika kita berinvestasi pada guru, kita berinvestasi pada peluang yang tercipta bagi generasi pembelajar masa depan,” ujar Xia.
Director of Asia Pacific British Council, Kate Joyce, juga menyoroti skala pendidikan madrasah di Indonesia. Ia hadir langsung dari London untuk mengikuti peluncuran program tersebut.
Materi program menyebut Indonesia memiliki lebih dari 26.800 Madrasah Ibtidaiyah. Jumlah ini menunjukkan besarnya kebutuhan peningkatan kapasitas guru untuk mendukung pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat dasar.
Kemenag Ajak Orang Tua Dukung Pembelajaran
Kemenag juga mengajak pimpinan madrasah, orang tua, dan masyarakat mendukung pembelajaran Bahasa Inggris sejak dini. Dukungan lingkungan dapat membantu siswa berlatih secara konsisten di sekolah maupun di rumah.
Selain itu, lingkungan belajar yang positif dapat membangun kepercayaan diri siswa saat menggunakan Bahasa Inggris. Mereka juga perlu memahami bahwa kemampuan bahasa asing dapat berkembang seiring dengan penguatan identitas dan karakter.
Kemenag dan British Council menargetkan STEPS-CoP menjadi model pengembangan profesional guru yang berkelanjutan. Mereka juga membuka peluang untuk memperluas program ini ke lebih banyak wilayah di Indonesia.
Berdasarkan berita internasional Kemenag, program STEPS-CoP menargetkan peningkatan kompetensi 6.000 guru Madrasah Ibtidaiyah. Inisiatif ini menjadi bagian dari persiapan penerapan Bahasa Inggris wajib bagi siswa kelas III hingga VI mulai Juli 2027. Program tersebut menggabungkan komunitas belajar, pelatihan fasilitator, dan pemetaan kemampuan guru.

