Kemdiktisaintek Buka Jalur Baru Belajar Skill, Sertifikat Bisa Jadi SKS

Must read

EDUCARE.CO.ID – Dunia kerja terus berubah seiring perkembangan teknologi. Perubahan tersebut membuat kebutuhan kompetensi ikut bergerak semakin cepat.

Kondisi ini mendorong perguruan tinggi menghadirkan pola pembelajaran yang lebih fleksibel. Salah satu langkahnya datang melalui program Kredensial Mikro.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menerbitkan Buku Panduan Penyelenggaraan Kredensial Mikro di Perguruan Tinggi pada Kamis (17/9/2026).

Berdasarkan sumber rilis Kemdiktisaintek, panduan tersebut menjadi acuan bagi perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pembelajaran berbasis mikrokompetensi.

Skema ini memungkinkan peserta mengambil pembelajaran dengan durasi lebih singkat. Peserta juga dapat mengumpulkan sejumlah unit pembelajaran hingga membentuk kompetensi yang lebih utuh.

Kredensial Mikro Bawa Konsep Belajar Lebih Fleksibel

Kredensial Mikro menawarkan pendekatan berbeda dari jalur pendidikan bergelar konvensional. Peserta tidak harus menunggu masa studi bertahun-tahun untuk memperoleh kompetensi tertentu.

Sistem ini menggunakan konsep stackable. Artinya, peserta dapat mengumpulkan beberapa capaian pembelajaran secara bertahap.

Mahasiswa dapat mengambil unit pembelajaran sesuai kebutuhan kompetensinya. Masyarakat umum juga dapat mengakses skema tersebut melalui mekanisme yang tersedia.

Pendekatan ini membuat pendidikan tinggi lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan dunia kerja. Kompetensi tertentu juga dapat dipelajari tanpa harus mengambil keseluruhan program gelar.

Pemerintah Kejar Target Partisipasi Pendidikan Tinggi

Kemdiktisaintek juga mengaitkan pengembangan Kredensial Mikro dengan peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi.

Pemerintah menargetkan APK mencapai 34,9 persen pada 2026. Target tersebut kemudian meningkat menjadi 38 persen pada 2029.

Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah memperkirakan kebutuhan tambahan sekitar 1,46 juta mahasiswa hingga 2029.

Kredensial Mikro dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas akses pembelajaran. Perguruan tinggi dapat mengembangkan kurikulum yang lebih lincah tanpa harus mengubah struktur program gelar secara keseluruhan.

Jawab Kesenjangan Kompetensi dengan Kebutuhan Industri

Perubahan teknologi turut mengubah jenis keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) menjadi salah satu faktor yang mempercepat perubahan tersebut.

Karena itu, perguruan tinggi perlu menjaga relevansi pembelajaran dengan kebutuhan industri. Kredensial Mikro menawarkan ruang untuk mengembangkan kompetensi yang lebih spesifik.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek Khairul Munadi menilai relevansi pendidikan perlu terlihat dari manfaat kompetensi lulusan.

“Relevansi pendidikan pada akhirnya diukur dari sejauh mana lulusan kita terserap dan kompetensinya diakui oleh pemberi kerja. Inovasi kurikulum harus mampu bertransformasi menjadi kebermanfaatan praktis yang berkontribusi langsung pada peningkatan produktivitas,” ujarnya.

Menurutnya, inovasi kurikulum perlu menghasilkan keterampilan yang benar-benar berguna bagi masyarakat dan dunia kerja.

Kredensial Mikro Kini Punya Payung Regulasi

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Beny Bandanadjaja menjelaskan landasan pelaksanaan Kredensial Mikro.

Program tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025.

Regulasi tersebut memberi ruang bagi Kredensial Mikro sebagai bagian dari kurikulum pendidikan tinggi. Program ini juga menghasilkan mikrokompetensi yang dapat diukur.

Dengan adanya kerangka regulasi, perguruan tinggi memiliki acuan dalam mengembangkan program Kredensial Mikro.

Tiga Keunggulan Utama Kredensial Mikro

Kemdiktisaintek menawarkan tiga aspek utama melalui skema Kredensial Mikro. Ketiganya berkaitan dengan pengakuan akademik, akses masyarakat, dan pencatatan capaian.

Bisa Dikonversi Menjadi SKS

Sertifikat Kredensial Mikro dapat dikonversi secara kumulatif menjadi SKS. Konversi tersebut dapat mencapai maksimal 70 persen dari total beban SKS.

Ketentuan ini berlaku pada jenjang sarjana, sarjana terapan, hingga magister.

Dengan skema tersebut, pembelajaran berbasis mikrokompetensi tidak hanya menghasilkan sertifikat. Capaian peserta juga dapat memperoleh pengakuan dalam sistem akademik sesuai ketentuan.

Membuka Akses bagi Masyarakat

Kredensial Mikro tidak hanya menyasar mahasiswa. Masyarakat umum juga dapat mengikuti program melalui integrasi dengan sistem Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Melalui mekanisme tersebut, hasil pembelajaran tertentu dapat memperoleh pengakuan sebagai SKS akademik sesuai ketentuan yang berlaku.

Skema ini membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan kompetensi tanpa harus selalu mengikuti jalur pendidikan bergelar secara penuh.

Capaian Tercatat secara Resmi

Capaian peserta juga masuk dalam sistem pencatatan pendidikan tinggi. Data tersebut tercatat melalui Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) dan terhubung dengan Bank Kredit Nasional (BKN).

Pencatatan tersebut membantu menjaga transparansi capaian pembelajaran. Data kompetensi juga memiliki rekam administratif yang dapat mendukung pengakuan di dunia pendidikan dan kerja.

Tidak Semua Kampus Bisa Konversi Menjadi SKS

Kemdiktisaintek menetapkan persyaratan untuk menjaga mutu program. Perguruan tinggi yang ingin mengonversi Kredensial Mikro menjadi SKS harus memenuhi standar akreditasi tertentu.

Perguruan tinggi tersebut minimal memiliki akreditasi institusi Baik Sekali. Program studi yang menyelenggarakan program juga harus memiliki akreditasi Unggul.

Persyaratan ini menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas capaian pembelajaran. Dengan begitu, proses konversi SKS memiliki standar yang lebih terukur.

Belajar dari Praktik Kredensial Mikro di ASEAN

Penyusunan panduan juga mempertimbangkan praktik penyelenggaraan Kredensial Mikro di negara lain.

Salah satu anggota tim penyusun, Wihendro dari Binus University, menjelaskan bahwa tim melihat pengalaman sejumlah negara ASEAN.

Malaysia, misalnya, melibatkan Malaysian Qualifications Agency dalam pengawasan Kredensial Mikro. Negara tersebut memiliki standar dan mekanisme verifikasi mutu untuk program terkait.

Sementara itu, Singapura mengembangkan sistem yang menghubungkan SkillsFuture Singapore dan Ministry of Education dengan lembaga vokasi. Beberapa di antaranya yaitu ITE dan politeknik.

Singapura juga melibatkan mitra industri dalam pengembangan kurikulum.

Industri Didorong Terlibat Sejak Penyusunan Kurikulum

Wihendro mengatakan pendekatan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan panduan di Indonesia.

Perguruan tinggi didorong menggandeng industri sejak tahap pengembangan program. Kolaborasi tersebut dapat membantu kampus memahami kebutuhan kompetensi di lapangan.

Dengan keterlibatan industri, Kredensial Mikro tidak sekadar menjadi tambahan mata kuliah. Program dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan keterampilan yang benar-benar berkembang di pasar kerja.

Pendekatan ini juga membuka peluang kolaborasi antara kampus, perusahaan, dan lembaga sertifikasi.

Kredensial Mikro Jadi Penghubung Kampus dan Dunia Kerja

Kehadiran panduan Kredensial Mikro membawa arah baru bagi pembelajaran di perguruan tinggi. Mahasiswa dan masyarakat dapat mengembangkan kompetensi secara lebih fleksibel.

Di sisi lain, dunia industri memperoleh peluang untuk terlibat dalam pengembangan keterampilan calon talenta.

Kemdiktisaintek juga mendorong perguruan tinggi memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha dan lembaga sertifikasi.

Dengan sistem yang terstruktur, Kredensial Mikro dapat menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan pendidikan dengan perubahan dunia kerja.

Program ini pun tidak hanya berkaitan dengan tambahan sertifikat. Kredensial Mikro membawa konsep pengakuan kompetensi yang lebih terukur dan fleksibel.

Pada akhirnya, pengembangan sistem tersebut diarahkan untuk memperkuat kualitas talenta Indonesia. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Latest article