EDUCARE.CO.ID – Teknologi digital membuka peluang baru bagi siswa disabilitas netra untuk mempelajari aksara Jawa.
Salah satunya hadir melalui inovasi Smart Braille. Teknologi ini menggabungkan pembelajaran Braille dengan pengenalan aksara Jawa.
Smart Braille membantu siswa mengenali bentuk dan cara membaca aksara Jawa. Alat ini juga mendukung latihan menulis karakter aksara Jawa.
Inovasi tersebut sekaligus membawa misi pelestarian budaya lokal. Siswa tunanetra kini dapat mempelajari warisan budaya Jawa dengan media yang lebih aksesibel.
Smart Braille Gabungkan Rabaan dan Suara
Smart Braille mengubah karakter aksara Jawa menjadi pola rabaan Braille. Siswa kemudian dapat mengenali pola tersebut melalui sentuhan.
Teknologi ini juga memanfaatkan sensor dan keluaran suara. Sistem akan membantu siswa mengenali karakter yang sedang mereka pelajari.
Selain meraba pola, siswa dapat mendengarkan pelafalan karakter. Kombinasi tersebut membuat proses belajar berlangsung melalui lebih dari satu indera.
Pendekatan ini membantu siswa memahami aksara Jawa secara bertahap. Guru juga dapat memanfaatkan alat tersebut sebagai media pendukung pembelajaran di kelas.
Teknologi Buka Akses Belajar Budaya
Pembelajaran aksara Jawa memiliki tantangan tersendiri bagi siswa tunanetra. Mereka membutuhkan media yang dapat menyampaikan bentuk karakter melalui pengalaman sentuhan.
Smart Braille mencoba menjawab kebutuhan tersebut melalui teknologi yang lebih aksesibel. Alat ini menghubungkan materi budaya lokal dengan teknologi digital.
Perwakilan tim pengembang mengatakan inovasi tersebut dapat memperluas akses pendidikan.
“Pemanfaatan teknologi pintar ini merupakan langkah nyata untuk membuka akses pendidikan yang setara, sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya Jawa di kalangan generasi muda inklusif,” kata perwakilan tim pengembang.
Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran aksara Jawa tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya. Teknologi juga dapat membantu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih inklusif.
Tim Kembangkan Smart Braille Secara Bertahap
Tim pengembang Smart Braille Aksara Jawa terdiri atas Dr. Yuli Widiyono, M.Pd., Dr. Herlina Setyowati, M.Pd., dan Murhadi, M.Eng.
Dalam prosesnya, dua mahasiswa turut terlibat untuk mendukung pengembangan inovasi tersebut.
Mereka memulai pengembangan dengan melakukan need assessment. Tim berdiskusi bersama guru dan siswa untuk memetakan kebutuhan pembelajaran.
Asesmen tersebut membantu tim memahami tantangan siswa disabilitas netra. Hasilnya kemudian menjadi dasar dalam merancang prototipe Smart Braille.
Ahli dan Guru Ikut Menguji Prototipe
Setelah membuat prototipe, tim melanjutkan proses validasi. Mereka melibatkan sejumlah pihak yang memiliki keahlian sesuai kebutuhan produk.
Ahli media dari Universitas Negeri Yogyakarta ikut menilai rancangan media. Sementara itu, ahli materi dari Universitas Sebelas Maret Surakarta mengevaluasi aspek pembelajaran aksara Jawa.
Tim juga melibatkan praktisi dan guru yang berpengalaman mengajar siswa tunanetra.
Masukan dari berbagai pihak membantu tim menyempurnakan Smart Braille. Proses tersebut juga memastikan alat memiliki kesesuaian dengan kebutuhan pembelajaran.
Siswa Antusias Mencoba Smart Braille
Tim kemudian melakukan sosialisasi dan pendampingan penggunaan Smart Braille kepada siswa disabilitas netra.
Para siswa menunjukkan antusiasme saat mengikuti sesi pengenalan. Mereka mencoba mengenali pola Braille dan mengikuti proses pembelajaran dengan pendekatan interaktif.
Pendampingan juga membantu siswa memahami cara menggunakan alat secara bertahap. Guru dapat melihat respons siswa selama proses pengenalan teknologi.
Metode tersebut berpotensi meningkatkan ketertarikan siswa terhadap pembelajaran aksara Jawa. Penggunaan alat juga dapat mendukung kemandirian siswa ketika belajar.
Dorong Pendidikan Inklusif Berbasis Teknologi
Smart Braille menunjukkan bagaimana teknologi dapat membantu menjembatani kebutuhan pendidikan inklusif.
Inovasi tersebut tidak hanya menghadirkan media pembelajaran bagi siswa tunanetra. Smart Braille juga menghubungkan pendidikan dengan pelestarian budaya daerah.
Melalui pendekatan ini, siswa disabilitas netra memiliki kesempatan untuk mengenal aksara Jawa secara lebih aksesibel.
Pengembangan media serupa juga dapat menjadi bagian dari upaya memperluas pendidikan yang ramah disabilitas. Sekolah, guru, pengembang teknologi, dan berbagai pihak dapat terus mencari pendekatan pembelajaran yang sesuai.
Pada akhirnya, Smart Braille membawa dua tujuan dalam satu inovasi. Teknologi ini mendukung akses belajar bagi siswa tunanetra sekaligus memperkenalkan kembali aksara Jawa kepada generasi muda.
Penulis: Meilia Dewi Pertiwi

