Kasus Prediabetes Meningkat di Surabaya, Dosen UNAIR Ajak Anak Muda Terapkan Gaya Hidup Sehat

Eduhealth EduNews

educare.co.id, Surabaya – Masalah kesehatan kembali menjadi sorotan setelah data menunjukkan bahwa 54,8% dewasa muda berusia 19 hingga 25 tahun di Jawa Timur mengalami kondisi prediabetes. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang tercatat sebesar 26,3%. Temuan tersebut mengundang perhatian karena banyak masyarakat masih belum memahami gejala awal dari prediabetes.

Menanggapi situasi tersebut, Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR), Ika Nur Pratiwi, SKep Ns MKep, menyampaikan keprihatinannya. Ia menilai bahwa tingginya prevalensi prediabetes pada kelompok usia muda merupakan indikator bahwa mereka berisiko besar mengembangkan diabetes melitus.


“Jika tidak ditangani, sekitar 70% individu dengan prediabetes akan berkembang menjadi diabetes tipe 2 dalam beberapa tahun mendatang. Terlebih berdasarkan pemeriksaan gula darah puasa, angka prediabetes pada dewasa muda di Jawa Timur melebihi rata-rata nasional yang berada pada angka 26,3%,” ungkapnya.

Prediabetes sendiri merupakan kondisi saat kadar gula darah seseorang berada di atas normal, namun belum masuk kategori diabetes melitus tipe dua. Menurut American Diabetes Association (ADA), kondisi ini terjadi saat kadar glukosa darah puasa berada di kisaran 100–125 mg/dL.

Meski sering kali tidak menunjukkan gejala, prediabetes dapat memicu berbagai komplikasi jangka panjang seperti gangguan jantung dan ginjal jika tidak segera ditangani. Ika juga menyebutkan bahwa gaya hidup sedentari menjadi salah satu faktor utama yang memicu kondisi ini.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa dewasa muda mulai menjadi kelompok berisiko tinggi, terutama karena mereka mulai menjalani gaya hidup sedentari (pola hidup kurang aktif), mengonsumsi makanan tinggi kalori, dan kurang beraktivitas fisik. Dengan data bahwa Surabaya menjadi kota dengan tingkat diabetes tertinggi di Jawa Timur, memperkuat indikasi peningkatan tren ini,” jelasnya.

Menurut Ika, selain pola makan tidak sehat seperti konsumsi junk food dan makanan tinggi gula, stres serta kurangnya aktivitas fisik turut memperparah risiko prediabetes. Minimnya edukasi tentang kondisi ini membuat banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sudah berada dalam tahap awal gangguan metabolik.

Sebagai langkah pencegahan, Ika menyarankan agar masyarakat mulai melakukan skrining gula darah secara berkala, terutama bagi individu dengan indeks massa tubuh (BMI) tinggi, riwayat keluarga diabetes, atau yang jarang berolahraga.

“Langkah pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan rutin melakukan skrining glukosa darah puasa (IFG) secara berkala, terutama bagi individu dengan BMI tinggi, kurang aktivitas fisik, atau memiliki riwayat keluarga diabetes. Selain itu pola makan dan gaya hidup yang sehat perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko prediabetes,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *