Karakter NTT Lampaui Target: Lebih 20% Sekolah Terapkan Praktik Terbaik

EduNews

EDUCARE.CO.ID, Kupang – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatatkan prestasi membanggakan dalam penguatan karakter siswa. Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi NTT, Irfan Karim, menyebut bahwa lebih dari 20 persen dari total 14.800 sekolah telah mengimplementasikan praktik penguatan karakter, melampaui target pengimbasan nasional.

“Sebagai perpanjangan tangan Kemendikdasmen, kami menempatkan penguatan karakter sebagai prioritas utama. Pembentukan karakter yang kuat adalah fondasi menghadapi tantangan global dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045,” ujar Irfan Karim. Ia menambahkan, percepatan kebijakan daerah, keterlibatan komite sekolah, komunitas, dan partisipasi keluarga menjadi kunci agar capaian ini tumbuh menjadi budaya.

Karakter Dibangun dari Hulu: Peran Krusial Keluarga dan Disiplin

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, menekankan bahwa pendidikan karakter harus dimulai sejak jenjang dasar. “Saya mengibaratkan, kalau membuat mobil, konstruksinya harus benar sejak awal. Kalau dari hulu sudah salah, kami di SMA/SMK sulit memperbaiki,” ujarnya dalam kegiatan Fasilitasi dan Advokasi Kebijakan Penguatan Karakter di Kupang, Selasa (8/10).

Ambrosius menegaskan, akademik ditopang sekolah, tetapi karakter sebagian besar dibentuk oleh keluarga. Ia pun meminta orang tua tidak sekadar menitipkan anak ke sekolah. “Kalau guru menetapkan jam belajar pukul tujuh malam, jangan justru anak disuruh ke kios. Dukungan keluarga sangat penting,” katanya, sembari mengingatkan bahwa karakter adalah keterampilan universal yang lebih berharga dibanding kepintaran.

Terkait kedisiplinan, Ambrosius menekankan pentingnya penegasan disiplin yang mendidik, seperti berdiri di depan kelas atau menunda kenaikan kelas. “Hukuman fisik tidak boleh, tetapi penegasan disiplin… adalah bagian dari pembelajaran karakter. Jangan hanya demi naik kelas anak dipindahkan ke sekolah lain, karena anak tidak belajar dari kesalahannya,” tegasnya. Untuk mendukung ekosistem belajar, Ambrosius bahkan merancang konsep jam belajar masyarakat.

BACA JUGA:  Pelajar Terpilih Jadi Pengibar Bendera pada HUT RI ke-80 di Istana Negara, Inspirasi Generasi Muda

Satgas Sahabat Sekolah Dasar: Inisiatif Anak Kuatkan Karakter Keluarga

Kisah inspiratif datang dari Kepala SD Inpres Noelbaki di Kabupaten Kupang, Novi Adriana Riwu, yang berhasil mengintegrasikan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Sekolah tersebut meluncurkan inisiatif Satgas Sahabat Sekolah Dasar, memilih lima siswa kelas empat dan lima sebagai duta karakter.

“Menariknya, ketika kampanye datang dari anak-anak, respons orang tua jauh lebih kuat dibandingkan jika dari guru,” kata Novi. Inisiatif ini bahkan mengantarkan sekolahnya meraih juara nasional, menunjukkan bahwa suara anak-anak diakui dan berdampak.

Kepala Pusat Penguatan Karakter, Rusprita Putri Utami, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan cerminan kerja sama catur pusat pendidikan: sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. “Kalau dulu kita bicara Tri Pusat Pendidikan, kini kita tambahkan satu pilar penting yaitu media,” ujarnya.

Capaian NTT diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain. Rusprita menutup dengan pesan reflektif, “Generasi emas tidak lahir dari kecerdasan semata, tetapi dari karakter yang ditempa setiap hari.” Pesan dari timur Indonesia ini bergema: membangun karakter anak bangsa adalah warisan bersama, dijaga bersama oleh semua pihak. (DSM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *