EDUCARE.CO.ID – Banyak orang langsung mengupas buah lalu membuang kulitnya. Padahal, beberapa jenis kulit buah masih menyimpan berbagai zat gizi.
Kulit buah tertentu mengandung serat, vitamin, mineral, dan antioksidan. Kita juga bisa mengolah beberapa jenis kulit menjadi makanan.
Kebiasaan memanfaatkan kulit buah punya dua manfaat sekaligus. Selain menambah asupan nutrisi, cara ini juga bisa membantu mengurangi sampah makanan.
Namun, jangan asal memakan semua kulit buah. Setiap jenis buah memiliki tekstur dan kandungan yang berbeda. Beberapa kulit juga perlu melalui proses memasak sebelum kita menyantapnya.
Ada lima jenis kulit buah yang menarik untuk dimanfaatkan sebagai bagian dari makanan.
1. Kulit Mangga Mengandung Serat dan Vitamin
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2877162/original/006668800_1565302450-istockphoto-468401801bdspn.jpg)
Jangan buru-buru membuang kulit mangga setelah mengupas buahnya. Bagian ini mengandung vitamin C, vitamin E, dan serat.
Sebuah studi yang dikutip Real Simple menyebutkan kandungan serat sekitar 3,6 hingga 7,8 gram dalam setiap 10 gram kulit mangga.
Kandungan tersebut membuat peneliti tertarik mengolah kulit mangga menjadi bubuk. Produsen makanan kemudian bisa mencampurkan bubuk tersebut ke dalam roti, pasta, atau jeli.
Meski memiliki kandungan nutrisi, kulit mangga juga perlu mendapat perhatian. Sebagian orang bisa mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsinya.
Jika belum pernah mencoba kulit mangga, sebaiknya mulai dengan jumlah kecil. Hentikan konsumsi jika muncul reaksi yang tidak biasa.
2. Kulit Pisang Bisa Menjadi Bahan Masakan

Kulit pisang mungkin terdengar asing sebagai bahan makanan. Namun, sejumlah masyarakat di berbagai negara sudah menggunakannya dalam masakan.
Kulit pisang mengandung serat larut yang mendukung fungsi pencernaan. Bagian ini juga menyimpan antioksidan dan berbagai mikronutrien.
Penggunaan kulit pisang dalam masakan bukan sekadar tren media sosial. Penulis buku masak Nigella Lawson pernah membagikan resep kari yang menggunakan kulit pisang.
Kita juga bisa memasak kulit pisang agar teksturnya lebih lunak. Proses tersebut membuat kulit lebih mudah masuk ke dalam berbagai resep.
Jadi, setelah menikmati daging pisang, jangan langsung menganggap kulitnya sebagai sampah.
3. Kulit Kiwi Bisa Menambah Asupan Serat
Tekstur kulit kiwi yang berbulu membuat banyak orang memilih mengupasnya. Padahal, kita juga bisa memakan kulit kiwi.
Kulit kiwi menyumbang serat yang membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan. Serat juga membantu menjaga kelancaran buang air besar.
Penelitian yang dikutip Real Simple menunjukkan manfaat konsumsi kiwi terhadap pencernaan. Orang yang mengonsumsi dua buah kiwi setiap hari mengalami peningkatan frekuensi buang air besar dan perbaikan pada sembelit ringan.
Mengonsumsi kiwi secara utuh juga memberi tubuh lebih banyak serat daripada hanya menyantap bagian dagingnya.
Jika tidak menyukai tekstur kulit kiwi hijau, pilih kiwi gold. Jenis ini memiliki kulit yang lebih halus dan tipis.
4. Kulit Semangka Bisa Diolah Menjadi Acar

Setelah menikmati daging semangka, sebagian besar orang langsung membuang bagian putih dan kulitnya. Padahal, bagian tersebut masih mengandung sejumlah zat gizi.
Kulit semangka mengandung citrulline, antioksidan, kalsium, magnesium, kalium, dan zat besi.
Citrulline merupakan salah satu senyawa yang berkaitan dengan fungsi pembuluh darah dan pengaturan tekanan darah.
Masyarakat juga sudah lama memanfaatkan kulit semangka sebagai bahan makanan. Salah satu contohnya muncul dalam bentuk acar kulit semangka.
Olahan tersebut cukup populer di wilayah Selatan Amerika Serikat. Masyarakat setempat bahkan mengenalnya sebagai salah satu makanan tradisional.
Dengan pengolahan yang tepat, kulit semangka tidak harus berakhir di tempat sampah.
5. Kulit Winter Squash Bisa Lunak Setelah Dimasak
:max_bytes(150000):strip_icc()/butternutsquash_301354-5c59fe5b87e34ed4900d4221e6496d0b.jpg)
Jenis berikutnya berasal dari kelompok winter squash atau labu musim dingin.
Kulit labu jenis ini memang lebih keras. Namun, proses memasak bisa membuat teksturnya menjadi lebih lunak.
Penelitian pada butternut squash menemukan kandungan antioksidan pada bagian kulit. Kulitnya juga mengandung serat yang bisa menambah nilai gizi makanan.
Tidak semua jenis winter squash memiliki tekstur kulit yang sama. Acorn squash dan Delicata squash, misalnya, memiliki kulit yang lebih mudah lunak ketika dimasak.
Karena itu, cara memasak memegang peranan penting. Pengolahan yang tepat membuat kulit lebih nyaman untuk dikonsumsi.
Jangan Asal Konsumsi Kulit Buah
Lima contoh tersebut menunjukkan bahwa kulit buah tidak selalu menjadi bagian yang harus kita buang.
Namun, masyarakat tetap perlu memperhatikan kebersihan sebelum mengonsumsi kulit buah. Cuci buah dengan baik untuk menghilangkan kotoran dari permukaan kulit.
Perhatikan juga teksturnya. Kulit buah yang keras biasanya membutuhkan proses memasak agar lebih mudah dimakan.
Selain itu, kenali kondisi tubuh sendiri. Kulit mangga, misalnya, dapat memicu reaksi alergi pada sebagian orang.
Jangan memaksakan diri mengonsumsi kulit buah jika tubuh menunjukkan reaksi tertentu. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika muncul keluhan yang mengkhawatirkan.
Kulit Buah Bisa Kurangi Sampah Makanan
Pemanfaatan kulit buah juga membuka peluang untuk mengurangi makanan yang terbuang.
Peneliti mengolah kulit mangga menjadi bubuk untuk berbagai produk makanan. Sementara itu, kulit pisang dapat masuk ke dalam sejumlah masakan. Pada kiwi, kita bisa langsung menyantap buah bersama kulitnya untuk mendapat tambahan serat. Sementara itu, masyarakat dapat mengolah kulit semangka menjadi acar.
Cara tersebut menunjukkan bahwa kita bisa memanfaatkan lebih banyak bagian dari bahan pangan.
Meski begitu, manfaat nutrisi bukan satu-satunya pertimbangan. Kebersihan, keamanan pangan, alergi, dan cara pengolahan tetap harus menjadi perhatian.
Jadi, sebelum membuang kulit buah, kenali dulu jenisnya. Bisa jadi, bagian yang selama ini kita anggap sebagai sampah masih menyimpan nutrisi dan bisa menjadi bahan makanan.

